Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Istri Titipan [#1]

16 April 2018   19:45 Diperbarui: 16 April 2018   20:17 634 19 13
Cerpen | Istri Titipan [#1]
Sumber :www.wlpapers.com

Pilihanku jatuh padanya. Selain karena wajah kami yang amat mirip, ia juga memiliki bakat akting yang luar biasa. Bisa mengimbangiku.

Ia terlihat sangat gembira ketika tim audisi meloloskannya. Kami lantas dipertemukan di suatu ruangan. Ia sama terkejutnya denganku. Ternyata bukan hanya wajah kami yang bagai pinang dibelah dua, postur dan cara kami bicara pun, sungguh sangat sulit dibedakan.

"Senang bisa bertemu bintang idolaku," ia mengulurkan tangan ke arahku. "Namaku Amar."

Aku menyambut uluran tangannya dengan sigap. Lalu kami mengumbar derai tawa.

Itulah awal perjumpaanku dengan Amar. Laki-laki yang segala-galanya sangat mirip denganku. 

Amar lantas bercerita banyak tentang kehidupannya. 

"Aku baru saja menikah. Sekitar dua bulan yang lalu," ujarnya bertabur senyum. 

"Oh, benarkah? Hebat! Ternyata kau  sudah menyalipku," kembali tawaku pecah.

"Sindrom artis terkenal sepertimu, Rams. Sulit menentukan pilihan. Calon yang mengantre terlalu banyak," Amar menimpali dengan nada serius. Sesaat aku terdiam. Membenarkan kata-katanya dalam hati. Ya, memang begitulah kenyataannya. 

Selanjutnya hubungan pertemanan kami terjalin semakin akrab. Amar sosok yang sangat  friendly.  Aku senang bekerjasama dengannya. Meski hanya sebagai  stuntman ia sangat profesional dalam menjalankan pekerjaannya. 

Hingga kejadian naas itu menimpa kami. Jelang tiga bulan usia kedekatan kami. 

Senja itu, sepulang dari  shooting  yang mengambil lokasi di daerah puncak, mobil yang kami tumpangi remnya mendadak blong. Kebetulan saat itu Amar yang duduk di belakang kemudi. Ia tidak bisa menguasai keadaan. Terutama saat mobil mulai menabrak marka jalan.

Pada detik-detik kritis, ketika roda mobil menyentuh bibir jurang, gegas aku membuka pintu dan melompat keluar menyelamatkan diri. Sedang Amar, ia tidak sempat melakukan hal yang sama sepertiku. Tubuhnya meluncur bersama mobil masuk ke dalam jurang.

Dalam keadaan setengah sadar aku menyaksikan kendaraan yang baru beberapa bulan kubeli itu menggelincir lalu tersangkut pada sebatang pohon yang berjarak beberapa meter dari dasar jurang. Mendadak aku memikirkan keselamatan Amar. Maka dengan sisa-sisa tenaga yang ada aku segera meluncur ke bawah, menuruni tebing.

Amar masih siuman ketika aku datang. Susah payah aku membantunya keluar dari mobil. Dan aku nyaris menangis ketika berhasil menyelamatkannya.

Bau sangit mulai tercium. Aku segera memapahnya menjauh. Mencari tempat yang aman. Kutemukan hamparan rumput yang cukup luas. Lalu kutidurkan Amar di sana. Kusangga kepalanya dengan paha kakiku. 

Ia merintih sebentar. Bibirnya yang berdarah bergetar.

"Rams, kalau aku mati, berjanjilah untuk menjaga Irmina."

"Kau...jangan bicara begitu. Kau tidak akan mati. Aku akan segera mencari pertolongan untukmu. Bertahanlah Amar," aku membisikinya.

"Irmina, Rams. Dia...tengah hamil muda. Kau mau kan berjanji untukku?" Amar mengulangi permintaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2