Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Novel | Jejak Sang Penari [2]

4 Agustus 2017   08:35 Diperbarui: 4 Agustus 2017   09:01 395 7 4
Novel | Jejak Sang Penari [2]
imgrum.org/user/christianwalpole

Kisah sebelumnya 

Bag. 2 - Kabut Kelam Pulau Dewata

Meski aku tumbuh tanpa didampingi Ibu, Papi berusaha memenuhi semua kebutuhanku. Papi seorang ayah yang tegas namun berhati lembut. Papi sangat menyayangiku. Kelewat sayang malah. Apalagi saat tahu aku memiliki masalah dengan kesehatanku.  

Entahlah, sakit apa sebenarnya aku ini. Tubuhku kian hari kian kurus. Pipiku cekung, bibirku pucat kebiruan. Dan di sekitar mataku dipenuhi lingkar hitam. Periksa ke Rumah Sakit? Sudah. Namun sejauh ini dokter belum bisa mendeteksi penyakit apa yang tengah bersemayam dalam tubuhku.

Malam di musim dingin sungguh terasa panjang. Meski tubuhku penat, mataku sulit diajak terpejam. Gulungan foto Ibu masih kudekap erat. Kubawa berbaring di tempat tidur.

Tuhan, aku ingin bertemu Ibu....

Apakah ia baik-baik di sana? Apakah Ibu saat ini juga sedang memikirkanku?

Aku memiringkan badan sedikit. Pikiranku gelisah. Selama ini aku tidak berani menanyakan  perihal Ibu kepada Papi. Aku sangat menjaga perasaan Papi. Tapi malam ini, tiba-tiba saja aku ingin bicara dengan Papi mengenai Ibu.

"Belum tidur, Jansen?" tanya Papi ketika melihat lampu kamarku masih menyala. Aku tidak menyahut. Mataku menerawang jauh menembus langit-langit kamar.

"Kau sedang memikirkan sesuatu, Nak?" Papi mendekat, duduk di tepi pembaringan seraya membetulkan letak selimutku yang tersingkap.

"Papi tidak akan marah jika aku mengatakan sesuatu?" aku berkata pelan.

"Tentu saja tidak, Jansen. Mana pernah Papi marah padamu?" Papi menggeser duduknya. Tangannya yang lembut mengelus ujung kakiku.

"Ik mis moeder..." aku menutup wajahku dengan bantal.

Aku tidak ingin Papi melihatku menangis.

"Singkirkan bantalmu, Jansen. Kita perlu bicara," Papi menyentuh pundakku. Aku mengeringkan air mata dengan ujung selimut, beranjak dari tidur dan duduk berhadapan dengan Papi.

"Jansen, Papi mengerti perasaanmu. Tapi maukah engkau mendengar cerita Papi?" Papi menatapku sejenak. Ragu aku mengangguk.

"Sudah waktunya Papi menceritakan semuanya, Nak. Kau sudah tujuh belas tahun," suara Papi terdengar getir. Aku terdiam, membiarkan Papi menata hatinya. Keheningan menyeruak beberapa menit. Lalu terdengar hela napas panjang. Setelah hela itu mereda, mulailah Papi berkisah tentang perjalanan panjang hidupnya.

Lelaki bujang lapuk itu bernama Pieter.

Pieter menghabiskan waktunya berlama-lama di depan kanvas. Ia biarkan seluruh jiwa raganya terpasung dalam dunia yang  jauh dari hingar bingar. Ia menyukai ketenangan. Itulah sebab mengapa ia lebih memilih berkutat dengan tumpahan cat minyak dan kuas-kuas yang berserak dari pada berada di kerumunan banyak orang.

Dunia lukis menghanyutkannya  jauh. Hingga pada suatu kesempatan, Pieter terdampar di sebuah negeri di belahan Tenggara bernama Indonesia. Negeri yang konon---menurut cerita banyak orang menyimpan keindahan eksotik serta ragam budaya tak terperi.

Tak ada tempat seindah negeri bernama Indonesia. Pieter mengakui itu, setelah ia benar-benar menginjakkan kakinya di sana.

Pieter telah jatuh cinta pada negeri itu. Juga pada sosok perempuan yang sedang menari gemulai di atas panggung saat ia berkunjung ke sebuah pulau bernama Bali.

Mata Pieter tak bisa berhenti menatap indah yang tersaji di hadapannya.

Kadek adalah wujud nyata Pulau Bali. Matanya yang elok bagai pancaran rembulan di atas Tanah Lot. Lekuk tubuhnya bak kelokan pasiryang meliuk di sepanjang Pantai Sanur. Rambutnya yang panjang terurai ibarat alun ombak yang menyentuhlembut bibirPantai Kuta.

Kadek adalah Bali.

Dan Bali adalah Kadek.

Kadek sendiri bertemu Pieter dengan segenggam kekaguman luar biasa. Baginya Pieter tidak saja berwajah tampan, tapi lebih dari itu. Laki-laki berkebangsaan asing itu memiliki sorot mata yang lembut. Meski garis wajahnya terlihat tegas dengan bibir mengatup rapat. Kadek yakin, Pieter adalah type lelaki yang selama ini diidamkannya.

Kadek  jatuh cinta kepada Pieter seperti Pieter jatuh cinta kepadanya.

Cinta. Ya, selamanya ia selalu begitu. Selalu terasa indah.

Pieter dan Kadek  yakin mampu melewati semuanyaBerharap penuh terhadap kekuatan cinta yang mereka miliki. Perbedaan ras, tradisi, bukan penghambat berarti. Setidaknya untuk sementara mereka berpikir begitu.

Meski sebenarnya mereka dihadapkan pada masalah yang tak kalah pelik. Yakni keluarga Kadek tidak merestui hubungan asmara dua anak manusia berbeda kebangsaan itu. 

Sang primadona tidak diperbolehkan menikah dengan orang asing. Apalagi orang Belanda. Penolakan tersebut bukan tanpa sebab. Ada trauma masa lalu yang sulit tersembuhkan. KeluargaKadek masih beranggapan, Belanda adalah penjajah terkejam di negeri ini. Nenek moyang Ni Kadek banyak  yang gugur akibat kesadisan tentara Belanda kala itu. Dan jika sekarang Ni Kadek memaksa menikahi Pieter, itu berarti gadis itu telah menghianati perjuangan para leluhur.

Tidak, itu tidak boleh terjadi. Jika Kadek memaksa melakukannya, maka ia akan dicoret dan dibuang dari silsilah keluarga.

Kadek Resti dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Antara cinta terhadap kekasih dan cinta terhadap keluarganya.

Sampai akhirnya Ni Kadek memutuskan ia lebih memilih Pieter. Itu pilihan akhir hidupnya.

Ia menerima pinangan lelaki asing itu dan bersedia menikah dengannya. Ia tak peduli meski harus menanggung akibatnya, dibuang dan dikucilkan dari kerabatnya.

Cinta memang begitu. Selalu menyuguhkan rasa manis di awal-awal kisah. Bahkan kita tidak menyadari, ketika letupan kecil mulai muncul, sang pecinta tetap berharap sepenuhnya padanya, agar segalanya mampu terlewati.

Tapi ternyata hidup tidak bisa dijalani dengan sekadar mengandalkan cinta. Ada tuntutan yang harus dipenuhi.  Ada perut yang tidak bisa kenyang hanya dengan bermodal cinta. Ada janin yang tumbuh di rahim Ni Kadek dan....

Pieter tak berkutik. Sebagai seniman penghasilannya sungguh tak bisa diharapkan.

Ni Kadek sangat paham itu, ia perempuan yang tetap menggenggam harapan sepenuh cinta. Ia memutuskan mesti lebih giat bekerja demi membantu menopang kehidupan keluarga kecilnya.

Perempuan  itu, semakin sering menerima job-job menari, walau akhirnya terpaksa berhenti saat perutnya yang buncit tidak bisa lagi disembunyikan. 

Usai melahirkan, Kadek melanjutkan pekerjaannya kembali.

Sebagai laki-laki bermartabat, Pieter mulai dilanda rasa minder. Ia malu karena tidak mampu menghidupi keluarga kecilnya. Pieterpun berpikir ingin kembali ke negeri moyangnya. Dia ingin memulai hidup baru di sana. Ia masih memiliki tanah pertanian yang cukup luas warisan dari orang tuanya.

Keinginan itu disampaikan kepada Ni Kadek. Pada mulanya istrinya itu menyetujui. Namunentah mengapa tiba-tiba Ni Kadek berubah pikiranHatinya bimbang. Ia merasa berat meninggalkan Bali, tanah leluhurnya yang telah memberinya banyak kehidupan.

Dan sejak itu kabut menyelimuti hati keduanya. Suami istri yang semula sangat menyanjung cinta, akhirnya kalah.

"Itulah alasan mengapa Papi meninggalkan Ibumu, Nak..." Papi mengakhiri ceritanya. Aku menatap Papi. Wajah Papi tampak sedih dan muram.

"Vergeef me, Papi..." serta merta aku memeluk tubuh renta Papi.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Jansen," Papi membalas pelukanku. Erat. "Sekarang istirahatlah. Tidurlah dengan tenang. Besok pagi kau akan terbang menemui Ibumu," Papi berbisik di telingaku.

Aku terhenyak. Setengah tak percaya mataku menatap Papi lagi.

"Jangan menatapku seperti itu, Jansen. Kau, sungguh, tatapanmu itu mengingatkanku pada mata indah Kadek---si penari sialan itu..." bibir Papi menyungging senyum, sedikit.


Bersambung....


***

Malang, 04 Agustus 2017

Lilik Fatimah Azzahra