Mohon tunggu...
Eki Saputra
Eki Saputra Mohon Tunggu... Penulis artikel, opini, dan fiksi (puisi/cerpen)

Menulis adalah bagian dari hobi yang saya geluti sejak sekolah. Saya aktif menulis artikel & fiksi di laman hipwee dan blog pribadi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Memahami Derita Jadi Orang Jelek

3 Desember 2019   13:13 Diperbarui: 4 Desember 2019   17:36 0 12 6 Mohon Tunggu...
Memahami Derita Jadi Orang Jelek
ilustrasi: Frankeinsten (sumber: merinding.com)

"Dengan bertambahnya pengetahuanku, aku semakin sadar bahwa aku adalah mahluk yang terbuang. Aku memelihara harapan, memang, tapi harapan itu sirna manakala aku menatap pantulan ragaku di permukaan air, atau melihat bayang-bayangku di bawah sinar rembulan, sungguhpun yang ada hanyalah gambaran buram dan temaram."

(Frankenstein, Marry Shelley: 179)

Di dunia ini harus kita akui, kehidupan tidak selalu memberikan keadilan dalam versi makhluk di dalamnya. Sebagaimana diciptakan orang-orang dengan fisik sempurna, maka diciptakan pula mahluk lawan dari kesempurnaan itu sendiri.

Akal yang bijak tentu menolak pernyataan ini, karena menurutnya baik dan buruknya seseorang tidak dapat dinilai dari wajah. Tidak salah berpikir demikian, tetapi jangan tutup mata bahwa penilaian terhadap fisik masih banyak terjadi.

Dua ratus tahun yang lalu seorang perempuan asal London pernah menulis kisah yang mewakili penderitaan mahluk terjelek di dunia.

Marry Shelley dalam karya fenomenalnya berjudul Frankeinsten: The Modern Prometheus (1818) telah melahirkan sosok monster mengerikan yang dikenang oleh semua orang. Monster yang tak bernama ini bahkan lebih terkenal dibandingkan nama sang penciptanya, Victor Frankeinsten.

Novel ini bercerita tentang ilmuwan Swiss yang berambisi menciptakan manusia buatannya sendiri. Dengan menyatukan potongan-potongan tubuh mayat, kemudian ia menghidupkan makhluk itu. Nahasnya, ia malah menciptakan sosok monster berwajah menakutkan, yang ia sendiri bahkan tak tahan untuk melihatnya.

Monster malang ini kemudian mengembara, mempelajari dunia manusia, memahami bahasa, dan cinta. Satu-satunya hal yang ingin ia miliki adalah diterima keberadaannya dalam lingkungan manusia.

Sayangnya, justru penolakan, hinaan, dan penderitaanlah yang selalu ia dapatkan. Oleh sebab itu, ia pun merencanakan pembalasan dendam pada sang penciptanya.

"Benarkah manusia berkuasa, berbudi, dan hebat, sekaligus sangat bengis dan keji? Terkadang manusia berbuat dzalim, tetapi di lain waktu mereka bersikap sangat mulia dan luhur." (Hal. 162)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN