Eka Sulistiyowati
Eka Sulistiyowati

aku tahu rezekiku takkan diambil orang lain, karenanya hatiku tenang. aku tahu amal-amalku takkan dikerjakan orang lain, karenanya kusibukkan diri dengan beramal

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Antara Cinta dan Komitmen

14 September 2018   10:01 Diperbarui: 14 September 2018   15:25 259 0 0
Antara Cinta dan Komitmen
cartoon-love-wallpapers-03-5b9b6fcf12ae946d953abb6b.jpg

Cinta itu kamu

Komitmen itu dia

Adalah pilihan yang sulit apabila antara cinta dan komitmen itu terpisah. Dan alangkah sangat beruntung jika cinta dan komitmen itu bersatu. Sebab tidak semua orang menikah karena dia mencintai pasangannya. Lebih banyak karena faktor yang lain. Faktor kemapanan, faktor usia, faktor perbedaan keyakinan, faktor beda budaya, dan sejuta alasan yang lain.

Ketika kita memutuskan akan memilih cinta atau komitmen, bagi kebanyakan orang akan memilih komitmen. Mengapa? Karena cinta hanya soal rasa, tapi komitmen tercatat rapi di buku nikah. Komitmen terlindungi di mata hukum.

Cinta itu kamu

Komitmen itu dia

===

Tentang dia

Aku bertemu dengannya enam tahun yang lalu. Di sebuah gang dekat tempat tinggalnya. Dia bukanlah lelaki tampan layaknya pangeran berkuda putih yang sering dimimpikan para wanita. Bahkan tak ada satupun wanita yang bisa dan mau mendekatinya. Karena sifatnya yang terlalu pendiam. Dia bukan juga lelaki romantis yang pandai merayu. Padahal banyak wanita yang lebih suka dirayu, bukan?

Yang menuntun ke arah komitmen itu adalah diriku, bukan dia. Aku yang menantangnya untuk menikahiku. Dan tanpa berpikir dua kali, dia mengiyakan ajakanku dan melamarku dua minggu sejak pertemuan pertama kali. Sebenarnya justru malah aku yang ingin mundur ketika dia mengiyakan pernikahan kami. Tapi apalah daya, aku tidak bisa menarik lagi perkataanku. Bukankah aku yang menantangnya saat itu. Lagipula dia lelaki yang baik. Walaupun mungkin bukan tipe lelaki yang biasa kutaksir.

Aku sempat bertanya, mengapa dia menjawab 'iya' saat aku menantangnya untuk menikahiku. Dia menjawab bahwa sebenarnya sudah sejak lama dia memperhatikanku. Sudah sejak dua tahun lalu dia merasa bahwa aku adalah jodohnya. Fine, alasan yang masuk akal. Karena saat pertemuan pertamaku dengannya aku juga merasa bahwa nantinya dia adalah suamiku. Itu hanyalah satu perasaan sesaat saat aku menatap matanya. Aku tahu suatu ketika dia akan selalu setia bersamaku.

Sekarang komitmen kami telah tumbuh dan memberikan kebahagian sendiri dengan hadirnya dua malaikat kecil kami. Tak pernah sedikitpun tersirat di benakku untuk bermain hati. Walaupun aku tak yakin kalau mencintainya. Bagiku, dia layaknya seorang pangeran yang memungut upik abu untuk dijadikannya sebagai seorang istri. Kehidupannya yang mapan, pendidikannya yang tinggi, lahir dari keluarga bangsawan, lelaki yang sederhana dan tidak banyak memiliki teman wanita. Tak ada sedikitpun cela yang membolehkanku untuk berpaling darinya.

Kalau aku...aku hanyalah wanita sederhana. Sesederhana tampangku yang tidak tergolong cantik. Pendidikanku yang sampai strata satu pun kudapat dari uang beasiswa yang diberikan oleh Negara. Keluargaku pun keluarga yang sangat biasa. Terlahir dari bapak yang bekerja sebagai pedagang keliling membuatku terlampau hidup berhati-hati. Namun karena aku tumbuh di kampung, tentunya aku memiliki banyak teman. Sifatku yang agak sedikit tomboy membuatku lebih banyak memiliki teman laki-laki daripada teman wanita.

Mungkin kamu mengira bahwa aku adalah wanita yang tidak pandai bersyukur. Ya, mungkin penilaianmu benar. Aku mungkin sudah bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Kehidupan yang terlalu sempurna. Apapun yang aku minta, dia selalu memberikan. Sekalipun hari ini aku minta dibelikan sebuah rumah pun dia akan membelikannya. Toh dia memang sangat mapan. Dan aku adalah  tuan puteri baginya.

===

Tentang kamu

Cinta cinta cinta ...

Betapa bahagianya aku walaupun kau hanya menyapa lewat tulisan wa (whatapps) dan lebih bahagia lagi saat kita bisa menikmati waktu berdua. Tanpa seorangpun yang tahu. Suamiku dan istrimu pun tak pernah mengerti hubungan kita ini.

Kamu memang bukanlah lelaki yang available untuk didekati. Bapak dari tiga orang anak, dan usia pernikahanmu pun sudah lebih dari sepuluh tahun. Tapi kamu adalah lelaki yang romantis. Kamu memanggilku dengan sebutan 'Kesayanganku'. Kamu selalu memberikan emotion cium saat aku menyapaku. Betapa aku tidak merasa istimewa jika tiap detik aku menyapanya lewat wa, detik itu kamu membalasnya.

Entah mengapa beberapa hari ini aku sangat ingin menulis tentangmu. Membiarkan perasaanku tercurah penuh pada tulisanku. Hingga tak bersisa lagi. Walaupun aku tak yakin perasaan ini nantinya bisa tak bersisa. Setiap detik aku merindukanmu. Menginginkan saat berdua hanya denganmu. Menikmati waktu luang diantara jam kerja yang menyibukkan. Meredakan kepenatan atas keseharian yang harus kita lewati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2