Egi Sukma Baihaki
Egi Sukma Baihaki pelajar/mahasiswa

Blogger|Aktivis|Peneliti|Penulis Penggemar Sastra, Sejarah, dan Kajian Keagamaan

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan

Semarak Menyambut Malam Pertama Ramadan

16 Mei 2018   23:10 Diperbarui: 17 Mei 2018   00:35 289 1 1
Semarak Menyambut Malam Pertama Ramadan
Suasana Jamaah Salat Tarawih. Dok. Pribadi

Setelah Kementerian Agama RI menetapkan bahwa awal Ramadan jatuh pada tanggal 17 Mei 2019, umat Islam Indonesia menyambutnya dengan penuh antusias.

Setelah satu tahun lamanya menanti, mendambakan bisa bertemu dan merasakan bulan ramadan sangatlah wajar jika kedatangan bulan ramadan begitu disambut dengan penuh suka cita.

Ramadan adalah salah satu di antara beberapa bulan yang dimuliakan dalam Islam.  Bahkan, ia memiliki keterkaitan erat dengan dua bulan sebelumnya yang selalu dipanjatkan dalam doa umat Islam sebelum menyambut Ramadan yaitu Rajab dan Sya'ban. Kewajiban berpuasa sebenarnya juga telah dilakukan pada masa atau umat terdahulu, tetapi ramadan sendiri dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad. 

Ramadan disebut sebagai bulannya umat Nabi.  Ada begitu banyak peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan ini. Bulan yang dipenuhi rahmat dan ampunan. Ibadah di bulan ramadan dilipat gandakan pahalanya. Setidaknya malam-malam dalam ramadan berisikan atau terbagi menjadi tiga bagian yaitu sepuluh pertama adalah rahmat, sepuluh kedua adalah ampunan dan sepuluh terakhir adalah pembebasan dari api atau siksa neraka. 

Dalam riwayat sendiri disebutkan bahwa keistimewaan Ramadan salah satunya adalah terbukanya pintu surga, tertutupnya pintu neraka dan dibelenggunya para setan. Puasa juga dianggap sebagai tameng, puasa di bulan ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan juga dapat menggugurkan dosa di masa silam. 

Ramadan sebagaimana asal katanya dalam bahasa Arab yang bermakna membakar, menjadi medan pertempuran umat Islam dalam membakar dosa-dosa dan melawan hawa nafsu. 

Di beberapa daerah terdapat banyak kegiatan adat dan budaya yang diadakan untuk menyambut datangnya bulan ramadan.  Kegiatan-kegiatan tersebut memiliki benang merah yang sama yaitu semata-mata menunjukkan antusiasme dan suka cita masyarakat Muslim dalam menyambut bulan ramadan.

Pada malam pertama hari ini diisi dengan salat tarawih dan witir berjamaah dan seluruh masjid dipastikan akan penuh sesak dan membludak jamaahnya. Tua dan muda bahkan anak kecil datang berbondong-bondong ke masjid.  

Semangat dan suka cita menyambut Ramadan sudah seharusnya terus dipupuk hingga akhir. Umat Islam jangan sampai  hanya semangat di awal, saat di tengah lemas dan terakhir loyo.

Tarawih sebagai amalan di malam hari, menjadi rutinitas yang harus terus ditingkatkan.  Jika malam pertama jumlah jamaah membludak, jumlah ini harus dipertahankan hingga akhir ramadan. 

Keberuntungan yang dapat raih oleh umat Islam selama bulan ramadan adalah bagi mereka yang hingga akhir dapat konsisten dengan kebaikan serta mengisi hari-hari dan malam-malam di bulan ramadan dengan ibadah.

Ibadah sendiri memiliki cakupan makna yang luas.  Selain salat dan membaca al-Quran, bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga juga bagian dari ibadah. Meski pun demikian, akan lebih indah jika di sela-sela kesibukan bekerja juga diselipkan dengan salat berjamaah dan mengaji al-Quran beberapa lembar atau beberapa ayat.  

Itu akan lebih baik dari pada tidur seharian dan malas berbuat apa pun. Adanya riwayat yang menyatakan bahwa tidur di bulan ramadan bernilai ibadah harus dipahami dengan bijak.  Jangan sampai menggunakan dalil ini untuk bermalas-malasan, jika kita gunakan logika kita bahwa tidur dinilai ibadah apalagi jika diisi dengan kegiatan yang positif. Semoga ada keberkahan dalam menjalani ramadan di tahun ini