Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Tu es magique

Peminat topik internasional. Pengelola FP Paris Saint Germain Media Twitter: @efremsiregar

Selanjutnya

Tutup

Gadget Pilihan

Akun WhatsApp Ikut Dipantau Virtual Police, Aman tapi Kurang Nyaman

13 Maret 2021   21:48 Diperbarui: 13 Maret 2021   23:05 270
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pemerintah khususnya Kepolisian RI mesti memikirkan cara kreatif dalam mencegah dan meminimalisir terjadinya ujaran kebencian di media sosial. Baru-baru ini, Polri memberikan teguran virtual police (VP) kepada akun WhatsApp yang diduga melakukan tindak pidana ujaran kebencian.

"Jangan berpikir, ah kalau kami memfitnah orang, menyebarkan kebencian, kalau pakai platform tertentu aman nih," kata Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan di Gedung Humas Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 1 Maret 2021, dikutip dari OkeZone.

Kombes Ahmad mengatakan, hal tersebut menunjukkan setiap platform media sosial turut dipantau oleh Bareskrim Polri.

Ia menegaskan pihaknya hanya memantau, bukan menyadap akun pengguna. Tujuannya, memberikan edukasi ke masyarakat sehingga tak terjerumus dalam kasus pidana.

Untuk sampai diberi teguran, pengguna terlebih dahulu melaporkan konten yang diduga bermuatan pidana tersebut. Setelah itu, Kepolisian menelusuri kebenaran laporan untuk ditindaklanjuti.

"Ini misalnya ya, ada di grup itu (Whatsapp), kemudian ada yang melapor ke polisi, dia screenshoot dong. Terus akunnya dilacak," ujar Kombes Ahmad.

Selain pengirim, penerima mesti bijak menilai konten 

Pemantauan akun WhatsApp menjadi persoalan menarik karena platform ini sejatinya dianggap medium yang tepat dalam berinteraksi membahas hal-hal bersifat intim antar pengguna walau batasan privat masih kabur bagi sebagian pengguna.

Meski pesan terenkripsi end-to-end, pengguna cukup sering mengumbar tangkapan layar percakapan mereka ke media sosial, terutama di Twitter. Pengguna Twitter mengenalnya dengan istilah spill the tea untuk membongkar modus-modus tertentu.

Masalah yang diumbar dari tangkapan layar percakapan menyangkut persoalan modus penipuan, pencurian, kejahatan seksual, gagal nikah, hingga bentuk kelakuan tak menyenangkan lainnya dari pengguna.

Warganet yang menyimak postingan itu akan berdebat panjang-lebar memberikan tanggapan di kolom komentar. Di situ, ada pemilahan. Mereka menyarankan mana hal yang patut diselesaikan secara pribadi, mana yang layak untuk diperbincangkan khalayak umum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun