Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Jurnalis - Tu es magique

Peminat topik internasional. Pengelola FP Paris Saint Germain Media Twitter: @efremsiregar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pakar Vs Awam, Apakah Orang Tidak Boleh Berbicara Jika Bukan Kapasitasnya?

28 Januari 2021   16:21 Diperbarui: 29 Januari 2021   10:45 2317
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi orang berbicara. (Foto: Pressmaster/Pexels) 

Dalam contoh lain, terdapat fenomena influencer saham dari Raffi Ahmad, Ari Lasso, Kaesang Pangarep, dan Ust. Yusuf Mansyur.

Kehadiran mereka memperkenalkan saham kepada pengikutnya di media sosial, pada satu sisi bermanfaat untuk mendorong bertambahnya jumlah investor saham. Namun, timbul persoalan cukup serius ketika mereka memamerkan saham yang mereka miliki di media sosial.

Bursa Efek Indonesia (BEI) turut angkat bicara menanggapi fenomena ini.

Kompas.com, 11 Januari 2021, melaporkan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hasan Fawzi mengatakan fenomena influencer saham menjadi benar bila dilakukan dalam rangka mengajak dan menyadarkan masyarakat dan pengikutnya untuk berinvestasi di pasar modal.

Namun, tindakan mengajak, merekomendasikan saham tertentu yang sampai menyebut kode saham dan target harga berikutnya tanpa didasari oleh analisis (yang memumpuni), menurut Hasan, tidak benar. Tindakan tersebut dinilai tidak etis dan berpotensi ada aturan yang dilanggar.

UU Pasar Modal Nomor 8/1995 mengatur larangan terkait dengan unsur pelanggaran, penipuan, manipulasi harga, hingga potensi insider trading ataupun perdagangan orang dalam.

Pakar vs awam

Masih ada sederet contoh yang menunjukkan kegegeran orang awam dalam membincangkan isu-isu tertentu.

Semasa pandemi Covid-19, kita menemukan orang yang secara tiba-tiba terlihat sangat memahami masalah Covid-19. Orang-orang bebas untuk mengklaim obat tertentu ampuh mengobati dan mencegah Covid-19 sampai konspirasi yang membuat beberapa orang mencurigai maksud kemunculan pandemi ini. 

Dalam masa krisis sekarang, kepercayaan begitu dibutuhkan untuk menciptakan ketenangan. Karena itu, posisi pakar menjadi penting dalam memberikan pencerahan meski tidak selalu berhasil untuk meyakinkan orang agar mengikuti petunjuk yang mereka arahkan.

Lambat laun, dengan keruwetan masalah yang kian panjang, luas dan sulit diurai, muncul kesadaran untuk menghormati pendapat pakar ketimbang orang awam untuk menjelaskan duduk masalah hingga penyelesaiannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun