Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Menulis dari balik tembok

Bahasa dan Sastra Prancis | Ex reporter ekonomi dan pemerintahan | Penulis malam Twitter: @efremsiregar

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Tarif Per Artikel Dihargai Rp 20 Ribu, Layak atau Tidak buat Penulis?

28 November 2020   07:49 Diperbarui: 29 November 2020   16:58 1646 68 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tarif Per Artikel Dihargai Rp 20 Ribu, Layak atau Tidak buat Penulis?
Ilustrasi. (Foto: free photos/Pixabay)

Tarif murah penulisan artikel menjadi perbincangan hangat di Twitter. Berapa sebenarnya tarif layak untuk penulis lepas?

Perdebatan tentang tarif penulisan, salah satunya, muncul dari postingan pengguna Twitter dengan akun @hansdavidian pada 27 November 2020. Ia menyinggung kompensasi menulis di Terminal Mojok sebesar Rp20.000 per artikel. Uangnya itu pun baru bisa dicairkan jika penulis sudah berhasil menayangkan 10 artikel.

"Situs kebanggaan anak edgy se-NKRI sesadis ini ngasih bayaran ke penulis yang bangun konten mereka," tulisnya.

Terminal Mojok merupakan satu fitur terpisah dari redaksi Mojok kepada penulis atau User Generated Content (UGC) yang ingin berkontribusi untuk mengirimkan cerita unik mereka.

Tulisan UGC belum tentu ditayangkan karena harus melewati proses seleksi dari redaksi Mojok. Setidaknya, penulis harus mengisi artikelnya minimal 600 kata dan sudah melakukan penyuntingan dasar dengan memperhatikan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Postingan @hansdavidian ditanggapi pengguna lain yang mengaku sebagai pembaca Mojok. Dia mengatakan baru mengetahui aturan dari Mojok tersebut dan meminta konfirmasi dari petinggi Mojok Agus Mulyadi dan Puthut EA, dua orang yang telah melahirkan deretan karya sedap kepada pembaca Indonesia.

Menanggapi persoalan ini, Agus membalas dengan mengatakan "Mojok saat ini ada dua departemen, Mas. Pertama Mojok editorial. Honor per tulisan 300 ribu dan liputan 500 ribu. Kedua, Mojok Terminal, itu semacam UGC, kayak Kompasiana atau kaskus, penulis bisa langsung submit tulisan sendiri di website. Yang UGC ini honor per tulisan 20 ribu."

"Kalau dibandingkan dengan Mojok editorial, tentu Terminal Mojok honornya kecil. Lha tapi ini UGC. Sama kayak Kaskus atau Kompasiana. Orang kirim tulisan ke Kaskus dan Kompasiana nggak ada honor. Kami berusaha menaikkan standar 'nggak ada honor' itu walau kecil."

Di hari yang sama, masalah rendahnya tarif penulis juga disinggung seorang jurnalis Randy Mulyanto melalui akun Twitter-nya.

Ia menanggapi salah satu penyedia jasa yang memberikan persyaratan kepada penulis bahwa ia harus berlatar pendidikan di bidang gizi/kesehatan, memahami kaidah PUEBI, dan menulis dengan deadline yang telah ditentukan. Berapa upah yang diterima penulis? Rp20.000 per artikel.

"Teman-temanku, janganlah karena keterbatasan budget membuat kalian tak manusiawi dalam menghargai hasil kerja orang, oke? :)" tulis Randy menanggapi persyaratan tersebut.

Polemik penulis lepas

Bagi penulis, pembahasan tarif murah ini sangat bermanfaat untuk menyelesaikan sengkarut di dunia penulisan. Selama ini, tiap penulis menghadapi sudut pandang ganda dalam mengukur benefit yang mereka terima.

Pertama, ada penulis yang merasa puas tulisannya telah dimuat di website besar karena dapat dibaca banyak orang. Dibayar berapapun, bahkan gratis sekalipun, bukan persoalan serius.

Penulis-penulis ini barangkali menjadikan kegiatan menulis hanya untuk menyalurkan pendapat atau sekadar hobi. Penulis lain mungkin menganggap platform besar yang menampung tulisannya bisa dijadikan portfolio yang berguna saat mengajukan lamaran kerja. Syukur-syukur, kontribusinya bisa menjadi peluang untuk melambungkan namanya sebagai penulis besar di Indonesia.

Kedua, ada penulis yang merasa haknya diabaikan karena menilai tulisannya turut membangun keberlangsungan media tersebut. Hal ini terdengar masuk akal sebab media digital manapun jika ingin bertahan harus mengisi rutin websitenya dengan artikel. 

Itu pun memakai aturan minimal berupa ketentuan SEO, apapun tema dari konten yang diangkat.

Artinya, semakin banyak tulisan yang dimuat di website itu, maka semakin besar peluang mendatangkan pengunjung yang berguna bagi pemilik website untuk menjualnya kepada pengiklan atau membantu mempromosikan kegiatan.

Sebagai penulis lepas, saya tentu lebih condong melihat bahwa dunia penulisan sekarang merupakan bagian dari industri.

Sebabnya, menulis sudah menjadi pekerjaan utama bagi sebagian orang. Artinya, ada dorongan ekonomi yang melatarbelakangi tujuan orang menulis dari sekadar ingin berbagi uneg-uneg. Karena itu, ada banyak sekali orang yang mengambil profesi sebagai penulis lepas.

Dengan kata lain, ekosistem dunia penulisan perlu dilihat secara sejajar sebagai hubungan kerja antara penulis dan penyedia jasa. Istilah fee, rate, bonus atau apapun penyebutannya hendaknya dipahami sebagai bentuk upah untuk mencukupi kebutuhan hidup penulis .

Berapa upah yang layak

Lantas, berapa upah layak untuk seorang penulis konten? Bukankah upah Rp20.000 sudah cukup menggiurkan?

Hitung-hitungan upah penulis lepas selama ini belum terukur jelas. Saya sendiri pernah diupah sebesar Rp100.000 atau lebih untuk tiap tulisan, sekarang  berada di angka Rp50.000 dan di bawahnya.

Tetapi saya akan mencoba mengurai persoalan dunia penulisan ini berdasarkan pengalaman saya. Tarif penulis lepas untuk mengisi konten di website atau blog, misalnya sangat berbeda-beda tergantung dari penyedia jasa.

Untuk artikel 500 kata, tarif yang berlaku di pasaran berkisar Rp8ribu, Rp10ribu, Rp20ribu sampai Rp50ribu. Penawaran ini datang dari agensi/penyedia jasa profesional atau diberikan secara invididual. 

Bahkan ada yang menawarkan Rp1250 per 100 kata, jika dikalikan ke 500 maka menjadi Rp6.250 atau Rp12.500 untuk 1000 kata. Cobalah Edak bayangkan, ada orang yang berani memberi tarif murah sedemikian rendahnya.

Misalnya, upah Rp20ribu per artikel, dalam 30 hari, penulis baru menghasilkan Rp600ribu. Mana mungkin ada calon mertua merestui menikahkan anaknya dengan pekerja semacam ini! 

Masalahnya, artikel dengan bayaran sebesar Rp20ribu ini langka sekali ditemukan. Kebanyakan penyedia jasa hanya menawarkan antara Rp10-15ribu per artikel. 

Mau tidak mau, penulis harus mencari akal untuk menutupi kekurangannya. Alternatif pertama, dia berjuang mati-matian menulis banyak artikel.

Kedua, penulis itu akan berusaha mencari pekerjaan sampingan lain atau mengikuti kompetisi blog. Ini cukup masuk akal, hanya saja tenaga dan waktu sangat terbatas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x