Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Pecinta filsafat, pengetahuan budaya dan industri

Segala yang indah harus berfungsi dan bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Digitalisasi UMKM Bisa Bantu Ekonomi Indonesia dari Krisis dan Ancaman Resesi

29 Agustus 2020   06:48 Diperbarui: 29 Agustus 2020   07:54 53 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Digitalisasi UMKM Bisa Bantu Ekonomi Indonesia dari Krisis dan Ancaman Resesi
Ilustrasi e-commerce. (Foto: Pixabay)

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) punya andil besar untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini bukan isapan jempol belaka.

Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia begitu tinggi mencapai 60% dan untuk sektor ketenagakerjaan sebesar 96% pada 2019.

Anda yang merupakan pelaku usaha fashion, kuliner, roti, pelaku usaha produk kecantikan, cindera mata, jasa pembuatan website, dan sebagainya punya pengaruh untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis dan ancaman resesi.

Karena itu, pemerintah sangat fokus memperhatikan keberlangsungan UMKM dalam pemulihan ekonomi nasional.

Stimulus sebesar Rp123,4 T sudah disiapkan pemerintah untuk membantu UMKM supaya kembali produktif.

Kementerian Koperasi dan UMKM juga menyalurkan Bantuan Presiden Usaha Mikro (BPUM) senilai Rp2,4 juta kepada pelaku usaha mikro dan kecil yang ditransfer langsung ke rekening penerima.

Setelah menerima bantuan, tentunya UMKM diharapkan bisa kembali menggeliat di tengah pandemi.

Bagaimana caranya?

Jawabannya adalah teknologi digital. Pelaku usaha UMKM bisa memanfaatkan marketplace, website dan media sosial untuk meluaskan pasarnya.

Hal ini sudah terbukti.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki dalam pembukaan acara Karya Kreatif Indonesia, Jumat (28/8/2020), mengatakan, UMKM yang tersambung dengan marketplace ternyata bisa bertahan dari dampak Corona.

Masalahnya adalah pelaku usaha UMKM yang tersambung dengan teknologi digital masih sedikit.

Menurut Teten hanya 13% pelaku usaha UMKM yang terintegrasi dengan teknologi digital dari total 64,2 juta pelaku usaha UMKM.

Menteri Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Menkop UMKM) Teten Masduki. (Foto: Kompas.com)
Menteri Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Menkop UMKM) Teten Masduki. (Foto: Kompas.com)
Isu digitalisasi selama ini menjadi topik yang selalu dibicarakan. Namun saat masa pandemi, digitalisasi UMKM menjadi upaya serius yang harus diwujudkan.

Akselerasi digitalisasi pun dibahas cukup luas oleh Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Pariwisata dan Bank Indonesia (BI) dalam pembukaan acara Karya Kreatif Indonesia.

Selain perluasan pasar, ada banyak manfaat yang akan diterima UMKM lewat digitalisasi.

1. Kecepatan transaksi pembayaran kunci agar pelanggan puas

Zaman sekarang, kecepatan transaksi menjadi satu faktor yang menentukan kepuasan pelanggan. Ini bisa menjadi strategi UMKM untuk memajukan usahanya.

Caranya, pelaku usaha UMKM menyediakan fasilitas QR Code untuk transaksi pembayaran. Pelanggan cukup me-scan QR Code saat transaksi.

Fasilitas QR Code makin efisien setelah Bank Indonesia menyediakan fasilitas Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

QRIS Bank Indonesia. (Foto: Bank Indonesia)
QRIS Bank Indonesia. (Foto: Bank Indonesia)

Jadi, pelanggan dari aplikasi pembayaran manapun yang terdaftar seperti GoPay, OVO, LinkAja, Dana, PayTrren, dan lain-lain bisa bertransaksi langsung lewat satu QR Code.

Dengan adanya QR Code, pelapak juga tidak perlu khawatir menerima uang palsu. Mereka tidak lagi direpotkan dengan uang kembalian dan meminimalisir pencurian uang penjualan layaknya uang tunai karena keamanannya terjamin.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, jumlah merchant yang sudah tersambung QRIS mencapai 4,3 juta merchant.

Selain QR Code, ada lagi produk keuangan digital atau e-wallet.

Berdasarkan data yang dikumpulkan iPrice dan Jakpat, sebanyak 26% dari total 1000 responden pada Mei 2020 memilih untuk menggunakan e-wallet/e-money sebagai metode pembayaran saat belanja online.

Artinya, pemakaian e-wallet menjadi alternatif pembayaran terbesar selain transfer bank di urutan pertama.

Selama Corona ada lonjakan besar transaksi melalui aplikasi pembayaran. Menurut iPrice sesi penggunaan aplikasi pembayaran meningkat 70% pada Juni 2020 dibanding Juni 2019, dari 1,67 milliar menjadi 2,83 miliar sesi penggunaan.

Jika penggunaan aplikasi pembayaran direalisasikan oleh pelaku usaha UMKM, niscaya omset penjualan akan membaik dan berlipat dari sebelumnya sehingga bisa membuka lapangan kerja baru.

2. Digitalisasi memudahkan peluang modal kerja

Manfaat teknologi digital dari QRIS Bank Indonesia yang bisa dirasakan UMKM adalah pembukuan transaksi. Semua transaksi QRIS akan tercatat secara otomatis dan bisa dilihat di history.

Dengan pencatatan ini, building credit profile pelaku UMKM akan terbentuk sehingga menjadi peluang untuk mendapat modal kerja dari perbankan.

Ini juga akan membantu kerja pemerintah untuk memberikan stimulus dengan tepat sasaran.

3. Produksi hingga penjualan laris, bantuan pemerintah cepat diterima

Saat pandemi Corona, banyak orang menghabiskan waktunya untuk berselancar di dunia maya. Beli pulsa tinggal meluncur ke e-commerce. Mau makan, tinggal buka aplikasi Go-Food atau Grab Food.

Ini terbukti, nilai perputaran yang dihasilkan Go-Jek  sangat fantastis.

Kementerian Keuangan menyebut berdasarkan hasil Penelitian Lembaga Demografi FEB UI (LDUI), Go-Jek dan ekosistemnya telah berkontribusi sebesar Rp104,6 T pada ekonomi Indonesia 2019.

Nilai produksi di ekosistem Go-Jek ini setara dengan 1% PDB Nasional di tahun 2019! Angka yang sangat besar.
 
Pelaku usaha UMKM bisa meraup cuan besar jika terlibat secara go-digital dengan bergabung ke Go-Jek yang punya ekosistem seperti GoFood, GoSend, dan sebagainya.

Di sana, UMKM akan terbantu untuk mendapat supply bahan baku, packaging, jasa pengiriman, hingga jasa pembayaran yang sudah terintegrasi dengan fasilitas pembayaran QRIS.

Ibaratnya, pelaku usaha UMKM tidak perlu khawatir sendirian memikirkan produksi hingga penjualannya. Go-Jek dengan ekosistemnya akan memberi solusi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, jika jumlah pelaku usaha UMKM bisa lebih banyak di sana, maka dampaknya akan sangat terasa. Nilai kontribusi terhadap PDB tentu akan mengalami peningkatan lebih dari 1%.

Manfaat lain go-digital ini, ketika ingin bergabung sebagai mitra Go-Jek, data UMKM akan dicatat sebagai syarat pendaftaran.

Tenang, masalah keamanan data UMKM dipastikan aman dan tidak bocor oleh manajemen Go-Jek.

Kabar baiknya, data UMKM yang terdaftar sebagai mitra Go-Jek bisa dipakai sebagai alternatif untuk membantu pemerintah menyalurkan bantuan secara cepat dan tepat kepada UMKM.

Untuk mensukseskan digitalisasi UMKM, Kementerian Koperasi dan UMKM akan melakukan pendampingan dengan target 10 juta UMKM terhubung teknologi digital. Bank Indonesia punya program pembinaan digitalisasi terhadap UMKM, begitu juga keterlibatan perusahaan dengan mitra binaannya.

Tentunya, nilai tambah produk menjadi faktor yang tidak boleh dilupakan untuk dikembangkan agar membentuk keunggulan UMKM.

Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Bank Indonesia via Kompas.com)
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Bank Indonesia via Kompas.com)
Setelah mendapat keuntungan dari digitalisasi, tentunya kita berharap stabilitas sistem keuangan, peredaran uang dan moneter tetap terjaga.

Namun, yang menjadi kewaspadaan adalah tidak semua fintech berada di bawah perusahaan perbankan.

Ada kekhawatiran munculnya aktivitas shadow banking dari perusahaan fintech keuangan digital.

Aktivitas shadow banking atau perbankan bawah tanah maksudnya, fintech seolah-olah melakukan kegiatan menghimpun dana, memberikan pinjaman dan investasi, namun tidak terawasi dan terhindar dari regulasi perbankan.

Ini tentu menjadi kewaspadaan bagi sistem keuangan Indonesia dan beresiko menjatuhkan perbankan.

Untunglah BI punya strategi mensiasatinya.

Perbankan didorong agar interlink dengan fintech untuk menghindari risiko shadow banking melalui standar Open Application Programming Interface (API).

Skemanya bisa juga dengan kerjasama bisnis, maupun kepemilikan perusahaan. Interlink bank-fintech ini masuk dalam visi sistem pembayaran Indonesia 2025.

Selain menghindari resiko shadow bank, manfaat dari interlink bank-fintech bisa didapatkan pengguna, misalnya tidak perlu repot top-up untuk transaksi karena dana bisa diambil dari rekening bank.

Salah satu bentuk kolaborasi ini adalah BCA dan Go-Pay. Pengguna GoPay kini bisa menarik tunai dana di seluruh ATM BCA yang tersebar di Indonesia.

VIDEO PILIHAN