Mohon tunggu...
Efrem Siregar
Efrem Siregar Mohon Tunggu... Pecinta filsafat, pengetahuan budaya dan industri

Segala yang indah harus berfungsi dan bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lelaki yang Mengatakan Cinta dan Lelaki yang Mencintaiku

25 Maret 2019   17:58 Diperbarui: 25 Maret 2019   18:04 91 7 0 Mohon Tunggu...

Gedung opera di pusat kota dipenuhi orang-orang yang datang dari gang-gang kecil perkampungan dan lorong-lorong perkantoran. Mereka berjalan dengan langkah kecil menembus pintu,  mencari nomor di deretan bangku seperti yang tertera pada karcis masing-masing.

Bayangan mereka hanya menampakan sosok Derira, sang penari yang akan tampil di hadapan mereka. Tak satupun di antara laki-laki yang memasuki gedung mengenal dia. Derira selama beberapa minggu belakangan menjadi buah bibir di warung-warung kopi dan panggung disko tengah malam.

Rasa penasaran akan paras manis Derira mulai menggetarkan dada.

Mereka mulai menempati bangku masing-masing yang terbagi dalam beberapa kelas meskipun beberapa buruh mampu membayar dua kali lipat kursi terdepan. Namun, pengelola lebih meyakini bahwa para Direktur akan lebih bermanfaat ketimbang uang Rp70 juta yang dapat lenyap hanya dalam semalam saja.

Sorotan lampu menerangi tirai merah yang mulai memperlihatkan tubuh Derira yang tegak berdiri menatap dunia di depannya. Pertunjukan dimulai tanpa kata sambutan dan pengantar.

Derira muncul dengan ujung jari menyentuh selendang yang melilit lingkaran lehernya. Dia melenggokan badannya dengan lengan bertumpu pada pundak yang kaku. Dia sesekali menundukan kepala, menjijit kaki kanan di atas lantai lalu menangkap langit dengan kedua tangannya.

Tiga puluh menit lamanya para pria terkesima seperti pasien sakit jiwa yang kehilangan akal dan mengira musibah yang mereka bawakan malam ini telah dilenyapkan oleh Tuhan.

Pertunjukan selesai dengan begitu singkat. Namun, seorang lelaki parih baya terlihat berjalan menuju panggung di mana Derira masih berdiri tersenyum. Pria itu datang mengungkapkan cinta kepadanya.

"Nona Derira, kekayaan yang aku bangun dengan susah payah selama 20 tahun belum sempurna sama sekali. Ternyata kau adalah bagian yang sempurna itu," kata pria yang memiliki dua perusahaan tambang sembari menyalam tangan Derira.

Namun, belum selesai dia berkata, lelaki lainnya menyahut Derira.

"Aku seorang pengembara. Dan harus kuakui kau adalah wanita terindah dari semua tempat yang pernah aku singgahi. Sudikah kau ikut mengembara denganku malam ini?" kata pria muda itu.

Derira mendengar semua ucapan mereka, hanya saja dia tidak membalas sepatah katapun. Dia menatap wajah keduanya dan tanpa kata mulai berjalan meninggalkan mareka.

Pengusaha itu begitu terkejut atas perlakuan tidak sopan yang diberikan Derira kepadanya.

"Terkutuklah kau yang dengan sangat hina mengacuhkan diriku, berjalan menuju api kematian yang akan menjemputmu," katanya.

"Derira, ini sangat tidak pantas untuk siapapun," sambut pria muda di sebelahnya.

Derira yang mendengar sungut-sungut mereka menghentikan langkah kakinya. Pada akhirnya, dia berkata kepada mereka.

"Seseorang datang dengan menjanjikan segalanya kepadaku, namun ia juga memperlihatkan nafsu dan kedengkiannya kepadaku. Aku tidak tertarik sama sekali dengan orang ini," kata Derira.

Mendengar sindiran ini, si pengusaha mengelak ucapan terakhirnya.

"Aku hanya menunjukan cintaku dengan cara yang lain," katanya.

Sementara pria muda itu masih menunggu Derira berbicara kepadanya.

"Bagaimana denganku, Derira?"

"Pergilah kalian berdua, karena setelah ini kalian akan pulang dan membenci pertemuan ini," ucap Derira yang berjalan lalu hilang di antara gelap panggung.

Derira melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan dua lelaki tadi dalam kebodohan. Mereka pulang dengan kekecewaan teramat sangat dan bersumpah tidak akan pernah menemui gadis itu.

(Derira terus berjalan, berjalan, berjalan dan berharap orang yang mencintainya akan mengejarnya dalam kegelapan)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
25 Maret 2019