L Siregar
L Siregar pelajar/mahasiswa

ergo inimicus vobis factus sum verum dicens vobi Apa karena aku mengatakan kebenaran, lantas aku harus menjadi musuhmu?

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Traveloka dan "Trending Topic" Twitter

14 November 2017   21:58 Diperbarui: 14 November 2017   22:07 507 1 0

Umpamanya taktik serang gaya Barcelona. Ananda Sukarlan mungkin tidak menyangka serangan balik lawan lebih tangkas.

Seharian ini, Twitter digebuk tagar #uninstalltraveloka. Kemunculannya masih diiriskan dengan kata Kolese Kanisius. Pendiri Traveloka, Derianto Kusuma yang termasuk alumni Kolese Kanisius pun kena getah.

Padahal, membaca kicauan dan sebaran yang seliweran di sosmed, perlawanan secara sekilas dibuat untuk membalas aksi WO Ananda Sukarlan.

Namun, dalam konteks lebih luas, Ananda Sukarlan justru tampak sebagai pintu masuk untuk tujuan yang agaknya samar-samar, tapi dapat ditebak.

Memang tidak ada yang menduga, bahkan mungkin tak terpikirkan bahwa aksi tiga hari lalu akan menyentuh aplikasi penyedia jasa tiket dan hotel ini.

Alasan tagar #uninstalltraveloka muncul karena Derianto Kusuma disebut hadir dalam perayaan 90 tahun Kolese Kanisius. Dugaan ini terbantah, sebab keterangan Manager Hubungan Masyarakat Traveloka, Busyra Oryza menyatakan, Derianto Kusuma tidak hadir di sana (Tirto.com, Selasa (14/11/2017)

Keterangan ini harusnya sudah menyelesaikan kemarut di jagat maya. Toh, jika ingin dibalikkan pada sikap Ananda Sukarlan, dia sudah mengakui tindakannya di akhir pekan itu dilakukannya atas nama pribadi. Perilakunya spontan tanpa membawa serta nama Kolese Kanisius.

Tapi, merasa percuma. Benar atau tidaknya warganet menghapus aplikasi itu dari gadget, tidak ada yang tahu. Yang menampang jelas pada fenomen ini adalah perlawanan melalui media sosial.

Mengira tagar #uninstalltraveloka perkara sepele, nyatanya Traveloka sedang melakukan langkah serius. Dilansir dari Detik.com, Selasa (14/11/2017), pihak Traveloka tengah melakukan investigasi mendalami tagar itu.

Itulah mengapa tujuan sebenarnya masih samar-samar. Dan kejadian ini seakan menjadi lampu kuning bagi korporasi lain untuk lebih waspada. Tidak seorang pun menyangka, kejadian nyeleneh dapat berubah menjadi nila yang setitiknya merusak susu sebelanga.

Lalu apa kira-kira solusi atau jalan tengah kasus ini? Tidak mudah menjawabnya, selama titik pangkal persoalan belum jelas.

Saya menduga , ini adalah masalah klasik. Yang terulang dan terus dipertanyakan seperti membolak-balik buku filsafat moral yang tak pernah habis dibaca sekali duduk.