Hijau Pilihan

Inovasi Balitbang PUPR untuk Pengelolaan Sampah

5 Desember 2017   20:42 Diperbarui: 7 Desember 2017   10:49 686 2 2
Inovasi Balitbang PUPR untuk Pengelolaan Sampah
Dokumentasi pribadi

November sudah datang,  artinya musim hujan jadi semakin akrab dengan keseharian kita.   Dan kalau membahas tentang hujan,  banjir yang menyertainya juga jadi hal yang lumrah kita saksikan atau dengar di berita-berita. Apakah ini artinya hujan jadi pengundang banjir? 

Salah besar buat saya kalau menumpahkan pada hujan sebagai penyebab banjir .  Banjir timbul karena ada yang salah dengan yang kita lakukan dalam penataan lingkungan. Salah satunya adalah pengelolaan sampah.  Sering lihat, kan setiap banjir datang banyak sampah yang mengambang atau ikut hanyut dalam genangan air banjir? 

Sampah plastik dan sampah rumah tangga adalah salah dua di antara sampah harian yang masih jadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk mengelolanya. Padahal sebenarnya kalau tahu bagaimana me-manage-nya, jumlahnya bisa kita tekan sampai residunya hanya tersisa 10-15%. Luar biasa, kan? Baru tau? Sama, saya juga begitu.  Baru tercerahkan saat hari minggu kemarin menyambangi acara Car Free Day di jalan Dago pada hari minggu, 19 November 2017.

Bertempat di pelataran parkir Eduplex, jalan Dago nomor 84 Bandung  ada booth dari Balitbang PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) yang menggelar Campaign "Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang". Selain menggelar zumba bersama pengunjung acara, digelar juga diskusi santai yang membahas seputar banjir, sampah dan limbah plastik. 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
foto: Tian
foto: Tian
foto: Tian Lustiana

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Permasalahan Sampah di Bandung

Menarik nih, soal limbah plastik yang selama ini kita ketahui sebagai limbah yang paling susah diurai oleh alam. Volume sampah plastik setiap harinya di Bandung bisa sampai mencapai  1.311 ton setiap harinya, meliputi wilayah Bandung,  Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (data dari liputan6.com).  Iya,  ini hitungannya hari,  bukan seminggu atau setahun.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Di sisi lain,  sampah kantong plastik biasa membutuhkan waktu sepuluh sampai 12 tahun agar bisa terurai secara alami. Sementara itu untuk botol plastik butuh waktu lebih lama lagi. Ini dikarenakan polimernya lebih kompleks dan lebih tebal, makanya butuh waktu sampai 20 tahun agar botol plastik bisa hancur. Duh ngeri saya membayangkannya.

Sampah Kresek dan Aspal

Tapi tunggu dulu. Ternyata nih, sampah plastik berupa kresek bisa kita manfaatkan sehingga residunya bisa  diminimalisir dengan mengolahnya menjadi bahan campuran aspal.   Sifat sampah plastik kresek yang lengket/meleleh bila dipanaskan ternyata bagus lho jika dijadikan sebagai bahan campuran aspal.

Sumber: Balitbang PU-PR
Sumber: Balitbang PU-PR
Sumber: Balitbang PU-PR
Sumber: Balitbang PU-PR
Hingga pada kadar tertentu, sampah plastik  malah bisa meningkatkan stabilitas dan kekuatan campuran aspal hingga bisa meningkatkan umur layanan jalan.  Berita bagus bagi para pengepul sampah,  bisa menambah lini baru untuk sumber penghasilannya, ya.  

Pada hari itu di lokasi acara pun disediakan box khusus untuk menampung sampah  plastik keresek dari para pengunjung acara nantinya akan diolah sebagai bahan campuran aspal.  Keren! Semoga bukan hanya pengunjung acara hari itu saja yang sudah aware soal ini tapi juga di kota-kota lainnya.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Pengelolaan Sampah Dapur  Jadi Bernilai Ekonomis

Selain sampah plastik, seperti yang sudah saya bahas sebelumnya di atas, masalah sampah rumah tangga juga jadi  masalah umum bagi kita untuk mengelolanya. Hampir dari setengahnya sampah total di Indonesia (data tahun 2016  tercatat mencapai porsi 44,5%).

Di Bandung sendiri volume sampah rumah tangga mencapai angka sebanyak 1.500 ton yang dihasilkan setiap harinya. Buat saya mengerikan kalau setiap hari terus bertambah tapi tidak bissa dikelola dengan baik.  Sampah dapur seperti bekas sayur yang tidak termakan karena basi atau sisa cahan dari batang sayur, kulit buah dan sejenisnya termasuk yang sering kita buang setiap harinya.

Di hari yang sama, saya berkesempatan untuk ngobrol dengan Ibu  Lya Meilany Setiawati,  dari Puslitbang Perumahan dan Permukiman.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Untuk pengelolaan sampah rumah tangga agar residunya lebih sedikit dari sebelumnya  bisa kita lakukan dengan cara pemilahan, pengolahan melalui teknologi yang sederhana dan praktis yang bisa kita manfaatkan dengan barang-barang yang ada di sekitar kita sendiri. Baru sisanya dibawa oleh petugas sampah.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Komposter Bekas Cacing (Kascing)

Di antara sampah rumah lainnya, sampah dapur adalah sampah yang paling cepat membusuk, menguarkan aroma tidak sedap bila tidak dikelola dengan baik. Namun baru-baru ini penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang PUPR menemukan cara pengelolaan  yang unik dengan sistem Composting dengan kascing (bekas cacing).

Untuk mengelolanya kita membutuhkan tiga bahan utama yaitu kompos, tanah,  dan kotoran hewan sapi  yang sudah kering dengan perbandingan 3:1:1. Jangan khawatir soal bau yang ditimbulkan dari kotoran sapi. Kotoran sapi ini tidak mempunyai bau seperti kotoran hewan lainnya.  Setelah ketiga bahan ini kita simpan dalam wadah, barulah limbah rumah tangga dari dapur tadi kita masukan ke dalam komposter.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2