Efa Butar butar
Efa Butar butar Karyawan Swasta

Teknologi Pangan | Content Writer | 0896-5747-1513 | efab22@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Cerita PKL di B2PTTG LIPI Subang, Serunya Melakukan Penelitian Bagi Mahasiswa Hingga Karya Dipatenkan

10 Agustus 2018   21:10 Diperbarui: 10 Agustus 2018   21:10 731 3 1
Cerita PKL di B2PTTG LIPI Subang, Serunya Melakukan Penelitian Bagi Mahasiswa Hingga Karya Dipatenkan
Perpisahan bersama Bapak Pimpinan B2PTTG LIPI subang dan Ibu-ibu peneliti | Foto: Bp. Achmat

Tidak mudah untuk menembus perguruan tinggi impian, namun lebih tidak mudah lagi untuk melepaskannya dan melenggang manis di panggung berbalut baju kebesaran beserta toga yang melengkapinya.

2014 lalu, untuk bisa lekas-lekas meninggalkan dunia perkuliahan, seluruh mahasiswa semester akhir diberi kesempatan untuk mengeksplore kemampuan diri, pemahaman terhadap ilmu dan membangun diri sebagai persiapan memasuki dunia kerja. Mahasiswa diajak pula untuk peduli terhadap setiap detail pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing agar bisa menentukan topik apa yang akan dibahas di TA atau skripsinya nanti.

Sebagai seorang sarjana muda, tugas kami saat itu hanya melaksanakan TA (Tugas Akhir). Kebetulan dari kampus memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswa mahasiswinya untuk menentukan lokasi PKL (Praktik Kerja Lapang) yang diinginkan mahasiswa. Tempat yang sesuai keinginan.

Hal ini bertujuan agar mahasiswa tidak merasa terbebani dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Pun, sewaktu-waktu terjadi penyesalan mengapa dulu memilih tempat tersebut, mahasiswa/i tidak bisa menyalahkan pihak lain selain dirinya sendiri. Itu sebabnya setiap pilihan dipikirkan matang-matang.

Dengan berbagai alasan dan pemikiran, saya memutuskan untuk memilih Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (B2PTTG LIPI) di Subang, Jawa Barat, bersama dengan 2 mahasiswi lainnya.

Ya sebenarnya dulu sesederhana pemikiran mahasiswa saja sih "Ingin mengenal Subang dan sepertinya nama LIPI akan sangat menjual jika tercatut di riwayat hidup kelak" hanya itu. Jika dikira kami bertiga memiliki pemikiran yang mendalam atau alasan spesifik lainnya, jelas tidak ada. Haha.

Nasehat Dosen dan Lapangan yang Bertolak Belakang.

Jauh sebelum keberangkatan ke lokasi PKL, seluruh mahasiswa/i dibekali dengan beberapa nasihat dan perkiraan kurang lebih kondisi yang akan dialami di lokasi PKL. Hal ini dimaksud agar mahasiswa/i berkomitmen patuh pada aturan yang selama hampir 3 tahun dijalani, disiplin, dan tidak mencoreng nama baik pribadi dan almamater.

Salah satu yang terekam erat adalah "Bahwa setiap menghadiri acara formal, mahasiswa/i wajib pula untuk menggunakan pakaian formal seperti kemeja berikut seragam almamater, rok, serta sepatu pantofel.

Bermodal pesan yang langsung kami lakukan ini, kami bertiga untuk pertama kali menginjakkan kaki di lobby gedung LIPI Subang. Usai berjalan kurang lebih 1 km dari penginapan. Menanti seseorang yang akan menghampiri kami dan menyadari bahwa "titipannya" telah tiba dengan selamat di lokasi.

Sebuah bel berdering cukup nyaring. Pukul 07.00 WIB tepat. Masih terus menanti di lobby sambil sesekali sok sibuk mencari tahu berita teraktual melalui setumpuk koran yang memang sengaja diletakkan di meja.

Tidak lama, seorang pria paruh baya menghampiri kami bertiga. Tatapannya cukup tajam, tidak ada senyum di sana. Cukup untuk bikin bergidik 3 orang mahasiswi Sumatera yang terus melemparkan senyum palsu (baca: ketakutan) selama berada di ruangan.

Foto perpisahan bersama Bapak dan Ibu Pembimbing | Foto: Bp. Achmat
Foto perpisahan bersama Bapak dan Ibu Pembimbing | Foto: Bp. Achmat
Wajar saja, senam jantung di hari pertama itu memang perlu meski sangat menakutkan.

Masih teringat dengan sangat jelas bagaimana Beliau memandang kami dari atas hingga ke bawah. Dalam rautnya, saya dapat menangkap sebuah pertanyaan namun tak dapat menebak kira-kira apa yang akan disampaikan olehnya.

Tidak jelas siapa yang pertama kali mengulurkan tangan untuk berjabatan - sebuah keharusan dalam pertemuan pertama, dan bentuk penghormatan dari 3 orang tamu ringkih dihadapan yang dituakan serta menjadi tombak penentu kehidupan kami 3 bulan ke depan - tangan tersebut diabaikan. Hahaha.

Sebaliknya, beliau memperkenalkan diri secara singkat lalu kami dibawa ke dalam suatu ruangan. Mirip ruangan biasa dari luar, namun setelah masuk, tempat tersebut ternyata adalah sebuah laboratorium pengolahan.

Usai beradaptasi sesaat, kami membaur bersama Ibu-ibu peneliti lainnya dalam pelaksanaan project mereka. Pengolahan makanan untuk kebutuhan kemanusiaan. Bahasanya kerenkan? Memang itulah yang dilakukan di sana. Ini jugalah yang menjadi satu alasan mengapa saya tidak pernah menyesali keputusan untuk memilih LIPI sebagai tempat saya menggali potensi. Meneliti sesuatu itu tanpa disadari berhasil menanamkan rasa percaya diri, pula, melatih diri untuk lebih teliti dan ingin mengetahui lebih banyak lagi. 

Mengolah makanan untuk kebutuhan penelitian itu gampang-gampang sulit. Gampang jika terbiasa dan hati bahagia, sulit karena harus teliti terhadap setiap angka. Perbedaan yang signifikan akan menghasilkan hasil yang berbeda. Mungkin saja itu lebih baik, mungkin saja malah makin buruk. Pasti. Alasan ini pulalah mengapa penelitian harus dilakukan berulang-ulang.

Dari sana, akhirnya saya mendapat jawaban mengapa kami disambut dengan tak bersahabat oleh pria paruh baya yang hingga saat ini sangat saya hormati karena kepedulian Beliau terhadap anak didiknya - Bapak Achmat namanya - KAMI SALAH KOSTUM!

Butuh pergerakan yang cepat untuk melakukan ini itu di laboratorium. Di laboratorium kampus pun kami terbiasa dengan pakaian nyaman agar lebih mudah melakukan pergerakan. Hanya saja, kami sangat tidak menyangka akan menghadapi hal ini di hari pertama PKL. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2