Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerita Mini | Jenderal Kancil Kebelet Jadi Khotib Jumat

16 Oktober 2020   07:59 Diperbarui: 16 Oktober 2020   08:23 328 41 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerita Mini | Jenderal Kancil Kebelet Jadi Khotib Jumat
Ilustrasi, sholat di Masjid Istiqlal. Foto | Warta Ekonomi

Pada perhelatan akbar unjuk rasa peringatan Kapak Naga Bonar, Jenderal Kancil melepaskan peci kebesarannya. Ia mengganti dengan songkok Wak Haji, berwarna putih, sebagai simbol memberi dukungan kepada ulama.

Ia tahu diri, pangkat sederet bintang di pundaknya, termasuk seragam kebesaran militernya tak dibuka. Jadilah ia tampil beda dengan jenderal lain berpangkat lebih rendah. Meski begitu, ia tetap gagah. Jadilah ia tampil sebagai panglima relegius. Sopan dan berwibawa pula.

Belakangan, ia melepaskan kebesaran militernya itu. Bukan dipaksa, tetapi memang ada waktunya untuk istirahat lantaran usia sudah memasuki masa pensiun. Maka, jadilah ia seperti warga biasa. Sama statusnya dengan para kuli tinta atau pun penjual pisang goreng di pinggir jalan.

Meski begitu, ia tetap dihormati warga, para senior jenderal dan penggantinya lantaran punya jasa besar kala menjabat sebagai seorang jenderal.

Sebutan jenderal masih tetap melekat meski diembel-embeli sebutan purnawirawan. Purnawirawan jenderal masih dihormati dan memiliki wibawa. Karenannya, sang jenderal ini merendah di rakyat akar rumput. Namun, senyatanya, kerendahan itu punya niat "ada undang di balik batu".

Ia pun sadar, meski disebut purnawirawan bukan berarti dirinya harus berhenti mengabdi kepada masyarakat. Atas kesadaran itulah maka si Jenderal Kancil ini berusaha dapat dipercaya menjabat sebagai seorang komisaris di salah satu perusahaan.

Ya, seperti purnawirawan lainnya. Itu pun kalau masih dipercaya. Sebab, di era reformasi seperti sekarang, hal itu tidak mesti secara otomatis dirinya diperebutkan untuk ditempatkan sebagai dewan komisaris seperti di badan usaha milik negara, misalnya.

Nah lantaran kepercayaan untuk menjabat di salah satu komisaris pada perusahaan berpelat merah tak kunjung datang, ia jadi mutung. Tepatnya, patah hati. Merasa gondok dengan pimpinan negeri. Pikirnya, jangankan menjabat menteri, jadi seorang komisaris saja tidak. Bahkan, kawan-kawannya yang dulu merasa dibela dan dibantunya, sekarang tidak lagi mengopeni.

Kendati begitu, ia tidak kehilangan akal. Maklumlah, namanya saja Jenderal Kancil.

**

Mumpung masih punya wibawa, pikir sang jenderal ini, dirinya harus termanfaatkan. Pengabdian kepada masyarakat harus optimal. Dengan alasan atas dasar bahwa hidup harus bermanfaat, maka Jenderal Kancil mendirikan organisasi nirlaba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
16 Oktober 2020