Humaniora Artikel Utama

Menanti Perbaikan Layanan Rekam Biometrik Jemaah Haji dan Umrah

15 Maret 2019   08:00 Diperbarui: 15 Maret 2019   12:52 171 24 8
Menanti Perbaikan Layanan Rekam Biometrik Jemaah Haji dan Umrah
Sejumlah alat biometrik milik rekanan Imigrasi Arab Saudi tidak bisa digunakan di Asrama Haji Sudiang. | Sumber: Abdiwan/tribuntimur.com

Kisruh. Demikian kesan yang penulis tangkap seputar rekam biometrik bagi jemaah haji dan umrah. Bagi penulis sendiri sih tak ada persoalan untuk menunaikan ibadah umrah lantaran untuk melakukan rekam biometrik tidak mengalami kesulitan.

Penyebabnya, antara lain: lokasi perekaman tidak jauh, biaya ringan karena transportasinya mudah dan terjangkau, pelayanannya ok prima. Tapi bagi warga lain nun jauh di sana, kesulitan yang dihadapi, lantaran lokasi tempat perekaman biometrik jauh, transportasi mahal, belum bagi usia lanjut sangat merepotkan bagi anggota keluarga dan jumlahnya banyak.

Pikir! Tapi, jangan emosional dulu. Ibadah disertai perasaan mendongkol tentu tak membuahkan hasil menggembirakan. Bukankah ke Tanah Suci untuk umrah dan ibadah haji itu senyatanya merupakan upaya mencari ridha Allah. Di sana, kita menjadi tamu Allah. Nah, karena itu, lakukan penuh ikhlas. Mengedepankan rasa sabar sangat indah. Titik.

Sebagian jemaah umrah mennggalkan pusat layanan rekam biomterik di sebuah mall. Foto | dokpri
Sebagian jemaah umrah mennggalkan pusat layanan rekam biomterik di sebuah mall. Foto | dokpri
Kamis pagi (14/3/2019) penulis bersama istri dan putra, melakukan rekam biometrik. Lokasinya tidak jauh, Mall Cipinang Indah. Lokasi perekaman dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 55 menit dari kawasan Ceger, TMII Jakarta Timur, lantaran macet.

Kalau tak ada kemacetan sih, ya hanya 30 menit. Itu kalau hari libur, tapi kan perusahaan perekaman biometrik yang ditunjuk Arab Saudi, yaitu Visa Facilitation Services (VFS) Thaseel (penyelenggara pembuatan visa) tidak bekerja 24 jam.

Namun sebelum beranjak lebih jauh berbicara tentang rekam biometrik, sungguh elok diceritakan sedikit tentang aturan rekam ini, yang menurut catatan mulai diberlakukan sejak 24 Oktober 2018. Aturan itu merupakan sebagai prasyarat pembuatan visa jemaah haji, yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Realitasnya, layanan itu mulai berlangsung pada Senin (11/3/2019) lalu.

Antrian di layanan perekaman biometrik. Foto | Dokpri
Antrian di layanan perekaman biometrik. Foto | Dokpri
Apa sih biometrik?

Sebagian umat Muslim yang pernah menunaikan ibadah haji dan umrah tentu paham. Tapi untuk menyegarkan ingatan, perlu diulang. Intinya, biometrik adalah metode untuk mengenali seseorang berdasarkan ciri-ciri fisik, karakter, dan perilakunya secara otomatis. Pengenalan karakter ini dilakukan melalui retina, sidik jari, pola wajah dan sebagainya.

Perekaman biometrik dilakukan untuk mempermudah jemaah calon haji saat mendatangi Tanah Suci. Pelayanan rekam biometrik bertujuan memangkas waktu antrean, dan mengurangi kelelahan jemaah haji setibanya di Saudi.

Dengan dilakukan perekaman tersebut di Tanah Air, penumpukan jamaah saat di bandara khusus jamaah Indonesia diharapkan tidak ada lagi antrean yang memakan waktu yang lama.

Proses perekaman data biometrik, berdasarkan pengalaman, nggak lama, kok. Hanya sekitar empat jam untuk satu kelompok terbang (kloter). Ini berbarengan dengan persiapan segala kebutuhan lainnya sebelum berangkat seperti pemeriksaan kesehatan, pembagian gelang elektronik, kunci kamar hingga uang saku.

Pada tahun sebelumnya proses ini dilakukan saat jamaah tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi. Pada tahun ini untuk pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Hal itu dimaksudkan untuk mempermudah imigrasi di Arab dan faktor kelelahan karena mengantre.

Suasana layanan. Foto | Dokpri
Suasana layanan. Foto | Dokpri
Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Kementerian Agama Nizar Ali menyebut bahwa proses perekaman biometrik adalah tahapan pertama sebelum nanti jemaah melanjutkan proses pre-clearance (verifikasi akhir) yang tahun ini baru diberlakukan uji coba di tiga embarkasi, yaitu: Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG), Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS), dan Embarkasi Surabaya (SUB).

Khusus dari ketiga embarkasi tersebut, jamaah akan melakukan proses verifikasi akhir (pre clearence) berupa perekaman satu sidik jari dan stempel paspor di Bandara Cengkareng dan Surabaya.

Kenapa hanya di Cengkareng, ia menjelaskan adanya keterbatasan waktu dan negosiasi yang baru mencapai sepakat pada akhir bulan puasa. Kedua adanya keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Direktorat Jenderal Imigrasi Arab Saudi.

**

Lantas, mengapa rekam biometrik ditolak?

Sederhana sih alasannya, yaitu, jemaah umrah mengalami kesulitan lantaran kantor VFS-Tasheel baru ada di beberapa titik, seperti Aceh, Medan, Jakarta, Semarang, Makassar dan lain-lain.

Sebelumnya, asosiasi pengusaha travel umroh bersama puluhan masyarakat, melakukan aksi damai ke Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sumut, di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Rabu (3/10). Intinya, mereka menolak kebijakan pemerintah Arab Saudi, yang menerapkan visa biometrik melalui VFS-Tasheel.

Seperti penulis saksikan, pagi hari sebelum Cipinang Indah Mall dibuka, jamaah umrah sudah datang ke kantor Tasheel. Mereka disambut ramah petugas di depan pintu dan selanjutnya masuk ke ruang untuk mengambil foto biometrik dan sidik jari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2