Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Nyepi sebagai Momentum Jaga Kebersihan Atmosfer

5 Maret 2019   23:57 Diperbarui: 6 Maret 2019   11:17 276 35 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nyepi sebagai Momentum Jaga Kebersihan Atmosfer
Upacara melis di pantai Madani, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel. Foto | Dokpri

"Siapa pun, manusia maupun hewan akan hidup selamat dan sejahtera di bumi, jika kebersihan atmosfir bumi terpelihara dengan berbagai cara". 

Demikian salah satu pesan mantan Dirjen Bimas Hindu, Kementerian Agama, Prof. Dr. IB Yudha Triguna, pada upacara melis di pantai Madani, Kabupaten Tanah Bumbu.

Acara melasti dihadiri para pejabat setempat. Foto | Dokpri
Acara melasti dihadiri para pejabat setempat. Foto | Dokpri
**
Sehari lagi umat Hindu di Indonesia, melaksanakan Hari Raya Nyepi yang ditandai dengan Catur Berata (empat pantangan), yaitu tidak bekerja (amati karya), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), tidak menyalakan api (amati gni), dan tidak bepergian (amati lelunganan).

Inti dasarnya, Nyepi adalah momentum untuk melakukan pengendalian diri terhadap segala bentuk godaan yang bersumber dari dalam diri.

Agar manusia dan seisi alam bersih serta suci, maka sebelum melaksanakan Nyepi, umat Hindu di seluruh Indonesia menyelenggarakan dua kegiatan penting, yaitu melasti ke pusat-pusat air dan atau ke laut serta melaksanakan kegiatan Tawur (ruwatan bumi). 

Kegiatan melasti, kata Triguna kepada penulis, bertujuan untuk membersihkan dan menjaga kesucian Pratima, simbol Tuhan dan segala hal yang berkaitan dengan atribut Tuhan.

Masyarakat Hindu se-Kalimantan Selatan (Kalsel) Senen lalu juga melaksanakan upacara melis di pantai Madani, Kabupaten Tanah Bumbu. Lebih dari 7 ribu umat Hindu Bali bergabung dengan umat Hindu etnis Maratus dengan atusiusnya mengikuti acara di bawah terik matahari yang menyengat. Umat demikian kusuknya mengikuti arahan tiga Pandito yang dipimpin oleh Ida Peranda.

Puluhan balaganjur ditabuh anak-anak yang terampil. Terlihat ibu-ibu dengan seragam putih-kuning menari Rejang Dewa dan Rejang Renteng dengan gemulainya mempersembahkan yang utama kepada Tuhan adalah hakikat agama dan karena itu berbagai persembahan akan semakin mulia jika disempurnakan dengan sesajen, kekidung, dan gambelan dan suara genta  para pandito.

Para tokoh dan pendita Hindu di tengah upacara melasti. Foto | Dokpri
Para tokoh dan pendita Hindu di tengah upacara melasti. Foto | Dokpri
Pada kesematan itu diberikan tausiah oleh Prof. Dr. IBG Yudha Triguna, M.S Dirjen Bimas Hindu (2006-2015) menyatakan bahwa dalam Atharwa Weda disebutkan, "Siapa pun, manusia maupun hewan akan hidup selamat dan sejahtera di bumi, jika kebersihan atmosfer bumi terpelihara dengan berbagai cara".

Oleh karena itu laut dipelihara dan disucikan. Dipelihara dengan cara menjadikannya sebagai tempat suci, bukan tempat pembuangan. Sebagai temat suci, karena laut diyakini di bawah kuasa Dewa Baruna.

Prof. Triguna juga meminta kepada umat Hindu untuk senantiasa menjaga ibu Pertiwi di mana pun berada. Hanya dengan menghormati ibu Pertiwi, kemakmuran akan datang, karena kita telah merawat dan menyemainya dengan prinsip kerja sebagai pembebasan.

Prof. Triguna bersama umat Hindu di Kalsel. Foto | Dokpri
Prof. Triguna bersama umat Hindu di Kalsel. Foto | Dokpri
Pada kesempatan itu, hadir Asisten I Bidang Pemerintahan mewakili Bupati dengan menyatakan bahwa keberadaan umat Hindu di Kabupaten Tanah Bumbu telah mampu menjadi parner masyarakat setempat untuk maju bersama. Oleh karena itu, even ini akan terus dijadikan sebagai kegiatan wisata spiritual, kata Bupati yang dibacakan oleh Ir. Sartono.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x