Mohon tunggu...
Eddy Roesdiono
Eddy Roesdiono Mohon Tunggu... Guru Bahasa Inggris, Penerjemah, Copywriter, Teacher Trainer -

'S.C'. S for sharing, C for connecting. They leave me with ampler room for more freedom for writing.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Minyak Kayu Putih Aromatherapy Cap Lang, Sahabat Kuliah Malam

6 November 2016   11:08 Diperbarui: 6 November 2016   11:16 485
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Belajar itu tak kenal waktu. Kalimat ini muncul begitu saja di benak saya Juni lalu, dan mendaftarlah saya  di salah satu perguran tinggi negeri di Surabaya, diterima di program yang saya pilih, yakni Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Saya perlu nambah gelar di belakang nama saya karena sering disindir teman begini, “Lihat itu backdrop acara pelatihanJoyful learning and Creative teaching  untuk guru yang menyebutkan namamu sebagai instruktur hanya pakai gelar S1, sementara peserta banyak yang menyandang gelar S2”.

Pendek cerita, mulailah saya kuliah lagi. Di usia 54, praktis saya menjadi mahasiswa paling sepuh. Mahasiswa lain adalah fresh graduates dan professional muda, yang akan menjadi rekan kuliah selama paling cepat 18 bulan ke depan. Kuliah berlangsung tiga hari dalam seminggu, yakni Senin sampai Rabu, mulai pukul 18.00 sampai 22.00.

Bekerja di pagi hari kemudian dilanjut kuliah di senja hari malam bukan perkara mudah bagi saya. Kantuk menyerang setiap saat dan semangat bisa memudar kapan saja, apalagi bila dosen kasih materi dengan cara tak menarik. Bila terserang kantuk, saya biasa mengolesi pelipis dengan minyak kayu putih. Celakanya, aroma cajuput oil segera merebak di antara adik-adik mahasiswi/mahasiswi yang necis-necis dan cakep-cakep dengan farfum beraroma sedap. Aroma minyak kayu putih saya merusakan ketentraman hidung. “Masuk angin ya, pak? Atau mules?” mereka tanya. Ini memang pertanyaan tipikal untuk pemakai minyak kayu putih, karena cajuput oil memang terkenal sebagai kawan setia di kala mules dan masuk asing. Besoknya, ketika saya oles minyak kayu putih ke pelipis, ada yang tanya lagi, “Masuk angin lagi, pak? Kok sering banget masuk angin?”

Waduh! Ini menimbulkan kesan saya adalah mahasiswa paruh baya yang sakit-sakitan. Masak setiap masuk kuliah dikira dalam keadaan masuk angin! Perlu cari akal.

Dan solusi itu dihadirkan putri saya Nadia. Seminggu lalu, saya jemput dia di stasiun kereta sepulang perjalanan dari Bandung naik kereta api malam Turangga. “Kok baumu sedap?” saya tanya Nadia. “Pakai minyak kayu putih ekaliptus, biar hangat dan segar di perjalanan semalam dalam kereta yang dingin,” jawab Nadia.

“Mana ada minyak kayu putih baunya keren seperti itu?”saya tak percaya.

“Ada. Ini!” Nadia mengacungkan sebotol satu botol kecil isi 30 ml minyak kayu putih ekaliptus aromatherapy Cap Lang varian lavender dengan tutup warna ungu. “Mirip minyak kayu putih, tapi bahan dasarnya minyak ekaliptus,” kata Nadia.

Saya raih botol itu, saya buka tutupnya, dan mengolesi pelipis dengan minyak ekaliptus aromatherapy Cap Lang.  Lo, jebule memang beda dan unik; segar, hangat dan menentramkan. “Ini buat bapak, ya?” kata saya.

“Enak aja. Bapak beli sendiri dong!”

 Empat hari lalu, saya mulai mengantongi minyak ekaliptus aromatherapy Cap Lang. Manakala kantuk menyerang di ruang kuliah, saya buka tutup botol, saya endus aromanya beberapa saat, dan saya oles di kedua pelipis, sedikit di bawah mata dan seoles di titik di bawah cuping yang menurut ilmu Chi adalah sleeping point. Saya jadi segar sekaligus hangat, kantuk hilang, mood terdongkrak, dan penjelasan yang disajikan dosen melalui di layar LCD terserap dengan baik. Selain itu, saya jadi lebih percaya diri karena aroma minyak ekaliptus aromatherapy Cap Lang bisa menyamarkan aroma asam keringat lantaran saya sering terpaksa pergi kuliah seusai kerja tak sempat mandi.

“Hm, elegan sekali aromanya. Pakai apa-an, Pak?” teman sebelah, perempuan profesional muda yang saya kenal sebagai karyawan bank bertanya. “Minyak antingantuk dan antigalau,” saya jawab sekenanya. “Memang ada? Mau dong pak. Boleh minta?”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun