Mohon tunggu...
Inamu Dzakiyyatul Jamilah
Inamu Dzakiyyatul Jamilah Mohon Tunggu... Fb : Inamu dzakiyyatul jamilah, Instagram :Inamu_99

Mahasiswi "Ngono yo ngono nanging yo ojo ngono"

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Pernikahan Tak Hanya Sebatas Konteks Kesenangan dan Berdua-duaan (2)

9 Oktober 2020   07:51 Diperbarui: 9 Oktober 2020   08:56 253 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pernikahan Tak Hanya Sebatas Konteks Kesenangan dan Berdua-duaan (2)
unsplash.com/Ryan Holloway

Ini sekedar pertimbangan untuk kematangan sebuah rencana besar bernama pernikahan. Dan ini sekedar brain stroming bagi para laki-laki jomblo untuk dapat berfikir realistis. Maksudnya, realita kehidupan ketika berumah tangga pun perlu diperhitungkan. 

Berbagai permasalahan khas dalam kehidupan rumah tanggapun perlu di dalami. Jangan sampai, kita tak mampu atau tak sanggup menghadapi complicated-nya kehidupan rumah tangga sehingga anaklah yang menjadi korban. Jangan sampai pula, hanya karena keterbatasan materi, anaklah yang harus menadi objek kemarahan sang istri karena merasa tak tahan dengan kondisi yang ada, bila anak sudah menjadi korban tentu saja sangat di sayangkan.

Dan tidak sedikit pasangan yang sangat tergopoh-gopoh menjalani kehidupan rumah tangga, tidak punya biaya untuk istri melahirkan, tidak mampu membeli susu ketika ternyata sang istri terbatas air susunya. 

Mungkin hal ini menjadi sangat menarik ketika suatu saat kehidupan rumah tangga sudah mapan. Tetapi apakah kondisi demikian itu, selamanya di anggap baik. atau, haruskah kondisi yang mengundang iba itu harus tetap terlalui sebagai sebuah standar kebanyakan pasangan di tahun-tahun pertama berumah tangga.

Tentu tidak demikian, ketika istri lebih banyak menaggung beban mental saat hadapi kondisi tersulit, bukan tidak mungkin memunculkan korban. Dan korban itu adalah anak, sang buah hati, ada seorang anak laki-laki lucu, gembil, senang berceloteh dan menggemasan tentu saja. Namun perlahan, cerewetnya hilang ditelan  peristiwa demi peristiwa.

Mungkin karena sang bocah itu sering memergoki ibunya yang tengah marah, yang tengah bersedih, yang tengah menangis hingga menghilanglah keceriaannya. Pun dengan kepercayaan dirinya. Anak manis itu tumbuh menjadi sosok yang pemalu, ragu-ragu dan sangat segan pada ibunya sendiri. 

Alih-alih bisa curhat atau mengekspresikan perasaan, yang ada malah takut dan tak berani menyampaikan. Mengingat kemungkinan buruk yang mungkin akan mucul, lebih baik berpikir ulang dari pada menyesal kemudian. Karena pernikahan itu sendiri adalah sebuah itikad baik untuk mengandung sebanyak-banyaknya keberkahan dan keajaiban. Pernikahan itu bagian dari ibadah. Dan ingat-ingat, pernikahan  itu bukan main-main.

Pernikahan bukan sebuah sandiwara untuk dilakoni alam waktu sesaat. Pernikahan juga bukan untuk satu tujuan sederhana.

Ingat kawan, buah dari pernikahan itu ada sesosok mungil yang tak berdosa bernama anak, bilakah konisi kita memprihatinkan serba terbatas baik materi maupun non materi, tentu saja rentan. Atau dengan kata lain, bagaimana anak akan terpenuhi kasih sayangnya dengan penuh jika orang tuanya alam keadaan galau karena memikirkan keterbatasan yang ada. Bagaimana anak akan terbina dengan sempurna jika kedua orang tuanya banyak bertengkar akibat kekurangan yang ada. Bagaimana anak akan diberi sikap terbaik jika sang istri ekspresi memikirkan hari ini dan hari esok.

Keterbatasan memang akan menjadi sebuah cerita dramatis yang sangat berkesan an tak akan terluoakan. Apalagi jika banyak orang sukses yang membuktikan kehidupan rumah tangganya benar-benar dari nol, bahkan ari kondisi yang sangat minus.belum punya apa-apa, belum punya penghasilan, masih numpang di rumah orang tua an lain-lain. Lalu beberapa waktu kemudian ia menjadi orang yang mampu dari sebelumnya. 

Terhadap contoh yang demikian, sebaiknya dipelajari kembali bagaimana perjalanan atau perjuangannya. Jangan hanya di cerna secara sederhana dan dengan pikiran yang praktis. Jangan sampai,hanya bermodalkan semangat yang membara tetapi karena ketiakmampuan menjalani proses, malah berakhir engan cerita yang memilukan,  anaklah yang kemudian kembali menjai korban.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x