Mohon tunggu...
Ni Made Dwi Meithayani
Ni Made Dwi Meithayani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Life Goes On~

Mahasiswa Undiksha

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Inilah Beberapa Perbedaan antara Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan

19 November 2021   20:12 Diperbarui: 19 November 2021   20:21 667
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Rahajeng Nyangra Rahina Galungan lan Kuningan" merupakan sebuah ungkapan yang tentunya sudah tidak asing lagi kita dengar khususnya di Bali menjelang perayaan Hari Haraya Galungan dan Kuningan. Sebagian orang mungkin menganggap bahwa Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan merupakan satu hari suci yang sama. Namun nyatanya, Hari Raya Galungan dan Kuningan memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya.

Lalu, apa saja sih yang membedakan antara perayaan Hari Raya Galungan dengan Hari Raya Kuningan? Yuk kita cari tahu!

Hari Raya Galungan terdiri dari kata Galungan berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang memiliki arti bertarung atau disebut juga sebagai dungulan yang memiliki arti sebagai menang atau kemenangan. Sedangkan Hari Raya Kuningan terdiri dari Kata Kuningan yang memiliki arti berwarna kuning yakni wuku ke-12 dalam kalender Bali.

Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan suatu perayaan hari suci yang dilaksanakan oleh Umat Hindu untuk memperingati kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Hari Raya Galungan diperingati setiap 6 bulan sekali atau 210 hari tepatnya pada hari Buddhaa Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon Wuku Dungulan), sementara Hari Raya Kuningan diperingati 10 hari setelah Hari Suci Galungan tepatnya pada hari Saniscara (Sabtu), Kliwon, wuku Kuningan.

Perbedaan antara Hari Raya Galungan dan Kuningan apabila ditinjau dari kepercayaan Umat Hindu, Hari Raya Galungan dipercaya sebagai hari suci dimana para Dewa dan leluhur atau atman (roh) yang sudah suci turun kebumi untuk menemui keturunannya. Sedangkan Hari Raya Kuningan yang bertepatan 10 hari setelah Hari Raya Galungan ini dipercaya sebagai hari dimana para Dewa serta para leluhur untuk Kembali ke surga setelah bertemu dengan para keturunannya.

Adapun dari pelaksanaan perayaan antara Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan, terdapat perbedaan yang dapat kita temui. Pada Hari Raya Galungan, proses persembahyangan yang dilakukan oleh Umat Hindu baik yang dilangsungkan di Pura maupun di Merajan sendiri dapat dilakukan baik dari pagi hingga sore. Sedangkan pada perayaan Hari Raya Kuningan, persembahyangan hanya dapat dilakuan dari pagi hingga pukul 12 siang. Hal ini dikarenakan setelah pukul 12 siang, para Dewa dan leluhur telah Kembali ke surge setelah bertemu dengan para keturunannya.

Dalam merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat hindu tentunya mempersiapkan banten atau sesajen yang akan dipersembahkan ketika hari suci Galungan dan Kuningan berlangsung. Pada Hari Raya Galungan, umat hindu menyiapkan sebuat banten yang disebut dengan Soda. Soda merupakan suatu persembahan yang dibuat oleh Umat Hindu dan umum digunakan pada pelaksanaan upacara keagamaan atau hari-hari besar umat Hindu. Soda terdiri dari tamas yang digunakan sebagai alas, tumpeng atau nasi yang dibentuk bundar dan sedikit pipih, jajan khas bali yang terdiri dari jaja uli dan jaja gina, Buah-buahan, rerasmen (kacang, saur garam, telur, sambel dan lain sebagainya), sampian soda, dan canang. Sama dengan hari raya Galungan, pada hari raya Kuningan masyarakat hindu juga membuat banten soda. Namun ada hal yang membedakan antara banten soda Galungan dan bantetn soda Kuningan. Perbedaan tersebut teletak pada banten soda Kuningan berisikan Sulanggi yang merupakan wadah yang digunakan untuk meletakan nasi kuning pada banten soda yang terbuat dari slepan. Nasi kuning pada perayaan Hari Raya Kuningan memiliki filosofi sebagai lambang kemakmuran yang dihaturkan oleh Umat Hindu kepada sang pencipta sebagai tanda terimakasi atau "Susksmaning Idep" serta tanda rasa syukur sebagai manusia yang menerima anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi yang berupa bahan bahan sandang dan pangan yang telah diterima.

Adapun sarana Upakara lainnya yang digunakan pada Hari Raya Kuningan yakni :

1. Tamiang sebagai lambing perlindungan dan perputaran roda alam

2. Endongan sebagai bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan dengan ilmu pengetahuan dan bakti

3. Ter sebagai symbol senjata karena bentuknya yang menyerupai panah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun