Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mencari Popularitas di Tengah Keprihatinan

7 Agustus 2021   05:57 Diperbarui: 7 Agustus 2021   05:59 319
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Spanduk terpajang di mana- mana di tengah situasi keprihatinan masyarakat akibat Pandemi yang berlarut - larut. Lantas apakah diam saja menyaksikan para politisi tidak peka terhadap situasi dan kondisi. Malah banyak dari mereka yang aji mumpung. Masalah mencari nama tidak bisa ditunda dan strategi pansos sudah dijalankan untuk mengambil start awal mengenalkan programnya kepada rakyat.

Apakah masyarakat peduli? Apakah masyarakat lantas terkesima dengan munculnya spanduk- spanduk besar pada politisi. Kalau saya melihatnya hanya tersenyum dan berkata. "Biasa saja!" Mengapa. Sebab sepak terjang politisi di saat pandemi masih mengancam tidak menarik sama sekali. Lantas apakah banyak yang seperti saya? mungkin banyak mungkin sedikit. Bagi politisi sah saja mulai berharap dukungan rakyat untuk menjaring simpati masyarakat menjelang tahun 2024, itu setrateji (stategi)) taktik politisi agar ia dikenal.

Begini orang tidak tahu si anu itu sebetulnya orang penting dibalik majunya partai blab la bla, ia orangnya pendiam, tidak ingin menunjukkan betapa pentingnya ia mata kader politik nasional. Maka ia harus dan kudu untuk memaksa tiap kepala daerah khususnya yang terpilih dengan kendaraan partainya.

Instruksi ketua umum partai jelas, kamu setia tidak pada partai, kalau setia wajib memberi ijin daerahnya memasang besar -- besar baliho yang calon pemimpin bangsa. Berapa biaya politik yang harus dikeluarkan. Tidak usah dihitung. Itu merupakan upaya balas jasa atas peranan partai yang bisa membuat pemimpin daerah bisa duduk di kursi kekuasaan daerah, entah sebagai gubernur, bupati, lurah atau ketua DPRD. Satu yang harus kalian lakukan laksanakan perintah.

Sah -- sah saja sih membangun brand atau mengenalkan diri sebagai sosok calon pemimpin. Tapi bagi sebagian masyarakat pasti setuju mengatakan aya aya wae, ono ono bae, ada - ada saja politisi ini. Harusnya biaya untuk mencetak spanduk dan menyewa billboard bisa dialokasikan untuk membantu masyarakat yang masih dalam resiko tinggi covid.

Lagian sudah kuno merayu masyarakat dengan spanduk besar. Percuma masyarakat juga sudah tahu politisi mana yang alami atau hanya sekedar pencitraan. Mau berapa ribu baliho, spanduk kalau tidak tertarik dan tidak suka dengan sosoknya ya percuma. Mau keturunan orang beken dan terkenal kalau dirinya bukan sosok idola. 

Namanya hanya menjadi bahan pergunjingan bukan bahan rujukan untuk menjadi salah satu kandidat pemimpin masa depan. Lagipula masyarakat sudah cerdas, siapa pemimpin yang melayani dan siapa pemimpin yang aji mumpung, melakukan pansos di saat situasi tidak tepat. Mau memasang sampai ke bulanpun  bila masyarakat kurang simpatik ya siap- siap saja gigit jari.

Mencari popularitas di tengah keprihatinan saat ini hanya membuat masyarakat semakin tidak simpatik. Mereka para politisi harus mempunyai strategi jitu untuk mendapat simpati masyarakat. Bekerja saja membantu masyarakat yang tengah kebingungan dengan situasi pandemi yang membuat banyak masyarakat kehilangan pekerjaan, kehilangan sumber pendapatan. 

Tekanan ekonomi, sosial dan keterbatasan pergerakan membuat masyarakat terjebak dalam tekanan psikologis dan juga krisis finansial. Lebih elok membantu langsung masyarakat dengan merapatkan barisan saling membangun solidaritas untuk bisa menghadapi krisis bersama- sama. Membangun kekompakan, membangun saling respek. 

Tugas politisi bisa menjadi jembatan atau sedikit membantu keuangan dengan pemberdayaan kemampuan masyarakat menghadapi krisis. 

Kalau politisi peka mereka akan terjun di tengah masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan, ikut disiplin mematuhi peraturan sehingga PPKM, pembatasan - pembatasan segera berakhir. Kalau masyarakat kompak dan sadar akan pentingnya pencegahan munculnya kluster baru covid 19 kekompakan itu yang utama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun