Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Didi Kempot, Sobat Ambyar, Satunya Kampret dan Kecebong

5 Mei 2020   18:37 Diperbarui: 5 Mei 2020   19:07 258
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumsel.tribunnews.com

Lord Didi Kempot itulah julukan Dionisius Prasetyo saat ini. Penyanyi campur sari yang sedang digadang- gadang banyak institusi untuk melakukan penggalangan dana terkait covid-19. Kesibukan Didi Kempot yang luar biasa tentu membutuhkan tenaga yang prima. Tentu sebetulnya ia sedang lelah, kecapaian, tetapi demi tugas ia tetap melayani permintaan baik wawancara, menyanyi dari rumah dan penciptaan, peluncuran lagu baru.

Sebagai manusia ada batas tenaganya. Tetapi Lord Didi tentu tidak tegaan, seperti halnya orang Jawa pada umumnya, semua permintaan diiyakan sampai istirahatnya kurang. Didi Kempot memang tengah dalam puncak ketenaran, setelah sebelumnya pernah menghilang selama 20 tahun dan kembali lagi meraih puncaknya berkat era digital saat ini.

Di saat banyak anak muda merasa sering patah hati, hati ambyar ditinggal pacar, hati hancur berkeping- keping ditolak cintanya atau sedih ketika banyak orang tidak tahu kemauannya. Lagu - lagu Didi Kempot kebetulan dengan suasana hati milenial tersebut yang kebetulan senang berselancar di dunia maya, aktif di dunia blogger. Merekapun mempopulerkan lagu - lagu yang mewakili hatinya yang gegana, pas sekali dan akhirnya lagu - lagu Didi Kempot nge hit kembali.

Yang saya ingat pastinya adalah Stasiun Balapan dan Sewu Kuto. Lagu itu sering saya dengar dan kami nyanyikan di kantor saat sedang tidak bekerja. Dengan gitar dan cuk bersama teman guru melantunkan lagu itu dengan penuh perasaan. Seperti mewakili perasaan kami, yang rindu kampung halaman, seperti diingatkan masa 

- masa dulu ketika seringkali mendapati kenyataan patah hati dan sedih karena ditolak cinta oleh seorang gadis. Lagu Didi seperti meresap ketika membayangkan dan mengingat kembali betapa"ambyarnya" menjadi jomlo tidak punya pacar, mau pedekate tidak berani giliran sudah berani sudah ditelikung.

Ah begitulah Mas Didi sebuah lagu terutama campur sari bagi perantau, yang datang ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang layak menjadi sahabat setia saat lelah, capai dan suntuk. Lagu- lagu Didi Kempot bisa dinyanyikan lintas generasi baik yang muda dengan akustiknya dan gaya milenialnya ataukah dengan alunan cong dut atau keroncong dangdut yang asyik dinyanyikan sambil berjoget -

- joget sesukanya. Setelah itu hati terasa plong dan perasaan suntukpun hilang sudah. Itulah cara para perantau menghilangkan perasaan melankoli ketika mengingat kembali suasana kampung halaman atau ingat kembali saat menyimpan kenangan yang tidak terlupakan.

Didi Kempot Lahir ,21 Desember 1966. Sebelum Korona Jobnya telah penuh sampai akhir tahun. Banyak permintaan baik konser kecil maupun yang berskala nasional. Bahkan di luar negeripun Didi Kempot sudah ditunggu penampilannya. Apalagi di Suriname di mana banyak keturunan Jawa di sana.Secara dekat  memang belum pernah ketemu. Bahkan saya malah belum sekalipun mengikuti konsernya, tetapi saya merasa dekat dengan lagu - lagunya. Sering menyanyikan lagu - lagunya. Yang paling saya ingat dulu adalah lagu  Sentir Lengo potro. Lagu lama yang masih sering terngiang- ngiang di telinga.

Lagu - lagu Didi Kempot itu nyaman dan nyamleng didengar, saya lebih menyukai yang bercengkok keroncong dengan tonjolan suara cuk dak cak. Ditambah dengan kendang dan suara betotan basnya meluncurlah lagu lagu seperti Joko Lelur, Stasiun Balapan, Cidro.Hari ini 5 Mei pagi pagi saya kaget melihat tagar di media sosial. Didi Kempot meninggal. Hah. Saya pegang tangan, saya cubit kulit tangannya sakit, lalu saya lihat lagi, terus saya buka lagi kompas.com, Detik.com dan laman informasi lain. Ya ternyata benar Lord Didi telah berpulang. Ia pergi saat dalam puncak kesuksesannya. Sobat ambyar pasti tengah melongo, kaget, tidak percaya bahwa pencipta dan penyanyi lagu - lagu patah hati itu sudah tidak ada, ia tengah melangkah dalam keabadian. Lagunya sedang ngehits. Bukan hanya milik para orang tua dan kuno seperti saya. Lagunya milik anak muda, juga anak kecil yang hapal dengan lirik- liriknya. Bahkan beberapa lagu telah dihapal oleh anak saya yang kelahiran Jakarta, meskipun bapaknya asli Magelang.

Didi Kempot telah menyihir orang- orang, melepas diri dari intrik politik, berpaling dari diskusi - diskusi para pengamat yang saling mempertahankan argumentasi. Mendengarnya malah jadi mumet, bukannya terhibur malah bikin sakit kepala. Nah saat pusing saya ganti chanel mendengar lagu - lagu ambyarnya Didi Kempot. Bagai tersihir kepala yang pusing berganti dengan candu yang membuat lidah bergoyang dan tubuh ingin bergerak menari dan berjoget. Tidak peduli yang lihat yang penting bergoyang dan menyanyi.

Lagu Didi Kempot, meskipun syairnya sebagian besar bercerita tentang kesedihan saat putus, cinta, ditinggal selingkuh, ditelikung, cinta jarak jauh, cinta bertepuk sebelah tangan dan perasaan hancur ketika ditinggal kekasih selama- lamanya disebuah tempat yang membuat ingat selamanya. Musiknya enak didengar, meskipun syairnya sedih tetapi musiknya menghentak membuat kaki , tangan dan tubuh sontak ingin bergerak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun