Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru suka menulis

Berjuang Dengan kata-kata

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Memaknai Salib, Penderitaan dan Tantangan Masa Depan Umat Nasrani

19 April 2019   22:09 Diperbarui: 19 April 2019   23:04 0 3 1 Mohon Tunggu...
Memaknai Salib, Penderitaan dan Tantangan Masa Depan Umat Nasrani
news.analisadaily.com

Tantangan iman Katolik menurut Romo Franz Magnis Suseno tidak pernah dapat dipisahkan dari masalah, kesusahan dan harapan masyarakat pada umumnya. Gereja sangat mengerti masalah baik di dalam gereja sendiri maupun di luar gereja. Tantangan semakin berat karena kompleksitas masalah dari hari ke hari bukannya semakin ringan tetapi semakin berat.

Tantangan Ekonomi dan Perkembangan Digital

Setiap zaman ada masalah baru yang menuntut manusia untuk bisa bijaksana menyikapinya. Saat ini tantangan Indonesia adalah demokrasi, pergulatan kehidupan yang tidak jauh dari persoalan ekonomi akibat krisis perdagangan dunia. Perseteruan raksasa ekonomi dunia seperti perang dagang Amerika dan China. Imbas dari perang dagang itu tentu akan mempengaruhi kemampuan tiap negara untuk bisa mempertahankan stabilitas ekonomi. Bagi negara yang mempunyai pondasi kuat baik dalam cadangan devisa maupun ketahanan masyarakatnya menghadapi krisis tentu akan bisa dilalui dengan baik. gejolak selalu ada tapi tantangan itu bisa dilalui jika masyarakatnya bisa bekerja keras menutup celah- celah kelemahan negara.

Keterlibatan Nasrani dalam perkembangan Negara

Yang dipikirkan gereja adalah bagaimana ikut bertanggungjawab terhadap kesejahteraan bersama. Karena prinsip gereja katolik adalah 100 persen Katolik 100 persen Indonesia. Menjadi katolik itu tidak mudah apalagi di negara yang mayoritas penduduknya beragama Muslim. Tentu secara primordial akan terjadi persegekan iman, dan pembatasan- pembatasan terhadap minoritas. Namun menyadari sebagai minoritas umat katolik tertantang untuk berpartisipasi aktif membantu saudara- saudara yang lain tanpa memandang agama lepas dari derita kemiskinan.

Gereja sendiri mempunyai tantangan berat di dalam umat sendiri. Mereka yang kebetulan dari kaum menengah tidak cukup bisa "nyampur" dalam kehidupan bersama di lingkungannya. Banyak umat Katholik yang secara eksklusif hanya bergaul dengan orang- orang terdekatnya yang kebetulan mempunyai iman yang sama. Maka banyak orang memandang Kristen itu kaya- kaya tetapi jarang bergaul dengan tetangga. Itu tantangan karena itu menjadi catatan kritis yang harus diperbaiki agar orang katolik bisa masuk menjadi bagian dari masyarakat yang dinamis, mau bergaul diberbagai kalangan dan tidak apatis.

Umat Katolik jangan hanya mengeluh karena ada perlakuan fanatik tetapi tidak menyadari bahwa ada garis pemisah yang cukup lebar sehingga menjauhkan jarak antara umat Katolik dengan tetangga  dan amsyarakat sekitarnya. Salah satu kepedulian yang dekat dengan kehidupan tentu ikut bergotong royong, ikut menjadi panitia KPPS, ikut berpartisipasi aktif dalam membangkitkan kesadaran politik masyarakat. Masalah Kristenisasi dan tuduhan- tuduhan lain abaikan, toh, niatnya tulus membantu bukan mau dakwah menyebarkan agama.

Masa Kegelapan dan Ujian iman 

Dalam sejarahnya umat Nasrani memang pernah mengalami masa kegelapan iman. Banyak umat Kristiani seakan tidak peduli pada lingkungannya. Doa- doa hanyalah artifisial saja, sedangkan iman kering karena manusia lebih banyak mengabaikan manusia lain untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Penderitaan, kedekatan iman gereja, elite gereja pada kekuasaan mendorong mereka lupa pada esensi ajaran gereja yaitu cinta kasih. Banyak negara- negara dengan mayoritas katolik atau Kristen mengabaikan kaum papa miskin. Di Amerika latin menurut Romo Henri Jean Marie Nouwen dalam suratnya kepada kemenakannya Letter to Marc About Jesus menulis:" Saya menemukan  bahwa korban kemiskinan  dan penindasan seringkali jauh lebih yakin akan cinta asih Allah daripada kita (Kristen, Katolik). Amat jarang saya melihat penyerahan diri keada Alaah sendiri ang saya lihat ada di antara orang- orang Indian miskin di Amerika Selatan dan Amerika Tengah".

Problem- problem agama di dunia juga Katolik dan lainnya adalah keperpihakan yang kurang. Banyak yang merasa kaya dalam rohani dan ilmu pengetahuan cenderung memikirkan diri sendiri. Semakin miskin kompleksitas masalah memang semakin berat tetapi kedekatan dengan Tuhan sedemikian nyata seperti yang dinyatakan Henri Nouwen.

Salib bukan hanya simbol penguat Kristen, tapi salib adalah simbol penderitaan. Dengan salib Yesus mesti memanggulknya dengan siksaan, deraan, cercaan yang harus diterima sampai akhirnya tertancap di kayu salib. Yesus ingin merasakan betapa penderitaan telah menyadarkan manusia betapa dekatnya untuk saling peduli bukan malah mencerca dan menghinakan. Salib adalah beban derita yang harus ditanggung untuk memikul masalah- masalah hidup. Setiap manusia mempunyai salibnya sendiri, mempunyai penderitaan yang harus dipecahkan, dipinggul dan dijalani dengan sepenuh jiwa. Jika merasa berat akan semakin besar perasaan luka, derita oleh masalah berkepanjangan yang tidak habis- habisnya dalam kehidupan. Jadi salib mempunyai magna bahwa setiap manusia mempunyai beban masalah sendiri, penderitaan, kesakitan, kesialan, kesedihan, ketidaknyaman yang harus dilalui sepanjang hayat. Jika mampu melewati ujian- demi ujian salib yang terpanggung akan menjadi semakin ringan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x