Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Memahami Manifesto Multipolar 6.0, Pameran Seni Rupa Kontemporer

17 Mei 2018   17:06 Diperbarui: 17 Mei 2018   19:24 992
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pengujung serius menonton Pameran (Foto Oleh Joko Dwi)

Dunia seni rupa menjadi hingar bingar sejak seni rupa kontemporer ikut andil dalam memeriahkan pameran- pameran seni rupa baik di Indonesia maupun Dunia. Pemahaman awam seni rupa  hanya memahami bahwa yang disebut produk seni rupa adalah lukisan, patung dan seni grafis. Ternyata dalam perkembangannya Banyak ragam dalam seni visual.

Boleh dikatakan dengan munculnya komputer, produk digital dan produk grafis modern seni rupa menjadi lebih berwarna. Sebutlah happening art,  Penggunaan media visual seperti fotografi, televisi, video, Infokus, memberikan banyak ide pada seniman kontemporer.

Butuh kreatifitas untuk menyandingkan konsep seni dengan penguasaan IT. Anak --anak sekarang sangat paham dunia digital dan kecenderungan mengembangkan konsep seni dengan media audio visual memberi warna tersendiri.

Pameran Manifesto Multipolar 6.0 yang digelar di Galeri Nasional Indonesia yang berada di depan stasiun Gambir Jakarta Pusat ini memberi pemahaman baru bagi penikmat seni. Di pameran ini ada produk Mural, Lukisan, fotografi, cuplikan-cuplikan adegan peristiwa tragis tragedi masa reformasi. Film Pendek bertema khusus.

Penikmat seni melihat dan mengapresiasi bienal kontemoprer yang digelar setahun dua kali itu sebagai sebuah pembelajaran seni visual baru. Mau tidak mau seni kontemporer memang akan menjadi pelengkap dari seni rupa konvensional lain yang dan Galeri Seni Sangat Peduli dengan perkembangan seni tersebut. Banyak anak muda terlibat dalam pameran kali ini termasuk seniman  yang biasa aktif di Gudang Sarinah.

Karya lukis berbentuk mural yang tergelar di depan persis pintu utama karya Hendra Hehe terdiri dari 3 panel berjudul fingertrust 150 x 540 cm (Foto Oleh Joko Dwi)
Karya lukis berbentuk mural yang tergelar di depan persis pintu utama karya Hendra Hehe terdiri dari 3 panel berjudul fingertrust 150 x 540 cm (Foto Oleh Joko Dwi)
Praktik Multipolar memberi pemahaman seni rupa lahir dari berbagai narasi, konsep pemikiran dan praktik  yang kian beragam  dan berlangsung dengan keunikan  pengalaman dari medan  yang terus terhubung  dengan berbagai perubahan sosial budaya. Multipolar lahir dari efek  yang ditimbulkanoleh lingkungan media dan teknologi  akhir-akhir ini. (dari pengantar kuratorial pameran Manifesto 6.0: Multipolar Seni Rupa 20 Tahun Setelah Reformasi).

Ketika memasuki pameran penulis sudah dihadapkan pada bentuk bentuk seni rupa multibentuk dari ruang interior yang berada di sebelah kiri pintu utama  beberapa patung menghiasi pameran (Patung kolaborasi produk patung murni dengan media digital. Ada pecahan pecahan batu dan pernak pernik sisa peristiwa tragis Reformasi 20 tahun lalu.

Ruang visual penulis mencoba memahami kritikan-kritikan yang datang dari narasi visual saat ini dan  dengan sabar penulis mesti harus  berpikir luas untuk bisa mencoba mengintip konsep yang hendak diinformasikan ke penikmat seni ini. Penulis melihat seni grafis yang sering ditemui di kafe-kafe dengan kebebasan visual yang tidak terpatok pada teori seni rupa seperti nirmana dan komposisi.

Penulis jadi ingat saat kuliah Nirmana. Tentu seniman --seniman sekarang itu lebih luas daya jelajah kereatifitasnya. Maka teori nirmana dulu dan sekarang tentu beda konsepnya. Tetapi secara garis besar pengetahuan tentang komposisi, sedikit banyak memberi dasar penciptaan narasi visual.

Petung ini adalah salah satu kolaborasi antara seni patung dan multimedia (Foto Oleh Joko Dwiatmoko)
Petung ini adalah salah satu kolaborasi antara seni patung dan multimedia (Foto Oleh Joko Dwiatmoko)
Kurator pameran kali ini adalah A. Sudjud Dartanto, Bayu Genia Krisbie, Citra Smara Dewi, Teguh Margono tentu bekerja keras mempersiapkan konsep pameran yang pas dengan semangat anak muda. Ketika berkunjung di pameran ini banyak sekali pengunjung yang datang, kebanyakan anak muda. Penulis senang dengan apresiasi anak muda.

Semoga saja seni rupa terus berkembang dan menjadi sebuah kekayaan budaya. Paling tidak seni rupa ikut membangkitkan rasa nasionalisme dan merekatkan jalinan pertemanan yang sempat koyak moyak akibat perseteruan di dunia maya dengan pemicunya adalah polemik politik yang tidak pernah habis menguras energi masyarakat. Hanya budaya dan produk visual yang mampu mengritik tanpa menyinggung frontal .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun