Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Buruh - Orang Biasa

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Sisi Lain dari "Single Mother" di Tengah Perayaan Mother's Day di Filipina

9 Mei 2021   15:30 Diperbarui: 9 Mei 2021   21:54 1050
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: Ketut Subiyanto via Pexels.com

Apabila media sosial kita memiliki pertemanan dengan orang-orang Filipina, kita akan mendapatkan pelbagai ungkapan salam untuk ibu pada hari ini. Happy Mother's day. Demikian ungkapan salam yang terpampang di dinding medsos orang Filipina.  

Ya, pada hari ini di Filipina sementara merayakan hari ibu. Pelbagai cara orang Filipina mengungkapkan rasa sayang kepada ibu.

Sejauh yang saya perhatikan pada foto-foto yang diposting oleh teman-teman Filipina di medsos, ada pelbagai cara mereka mengungkapkan rasa kasih mereka kepada ibu. 

Itu bisa lewat pemberian bunga, hadiah kue, penempatan foto-foto yang membahasakan kenangan mereka bersama ibu, dan lain sebagainya. Pendeknya, pada hari ini ibu menjadi sosok sentral di Filipina. 

Semuanya ini membahasakan satu pesan. Ibu selalu memainkan peran penting di dalam keluarga. Perannya itu tak akan bisa dibalas dengan barang apa pun. 

Benarlah ungkapan bahwa "surga ada di telapak kaki ibu." Penghargaan dan penghormatan kita kepada ibu kita harus menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita.

Akan tetapi, pelbagai sisi miris juga menghampiri kisah banyak ibu. Salah satunya, kisah kaum single mother, yang mana ditinggal pergi oleh suami mereka dan memaksa mereka harus mengasuh anak sendirian. 

Seorang teman asal Filipina dan berstatuskan single mother harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditinggalkan oleh suaminya 3 tahun lalu. Suaminya memilih pindah ke provinsi lain dan sudah memiliki keluarga berbeda. 

Teman ini harus banting tulang. Dua orang anaknya yang masih berada di sekolah dasar sekiranya mendapat penghidupan yang layak. Makanya, dia mesti kerja tak kenal lelah. 

Persoalannya, dia tidak memiliki ijazah pendidikan yang memadai untuk masuk pada pekerjaan yang layak. Jadi, pilihannya adalah mencari pekerjaan yang sesuai dengan level pendidikannya. 

Sehari-hari, dia menjual Miki. Miki adalah makanan yang berupa mie dan dicampur dengan sup daging.  Ini adalah makanan khas yang gampang dijumpai di provinsi saya tinggal di Filipina. Harganya terjangkau untuk banyak pihak.

Masalahnya, dia hanya menjual Miki di desanya saja. Keuntungannya pun tidak terlalu banyak. Apalagi desanya berjarak jauh dengan desa-desa tetangga. Praktisnya, yang menjadi harapan terakhir sebagai pembeli adalah orang-orang dari desanya. Itu pun kalau Mikinya menjawabi selera mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun