Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Belajar di Rumah, Kesempatan Orangtua Terlibat dalam Pelajaran Anak di Sekolah

28 Maret 2020   06:42 Diperbarui: 28 Maret 2020   06:46 90 14 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar di Rumah, Kesempatan Orangtua Terlibat dalam Pelajaran Anak di Sekolah
Sumber foto parents.com

Wabah Covid-19 mengharuskan pemerintah untuk meliburkan sekolah-sekolah. Bukan sekadar liburan. Para peserta didik juga diharapkan untuk belajar dari rumah. Pasalnya, liburan ini bukan berada dalam agenda kalender sekolah.

Liburan ini terjadi karena tuntutan situasi. Sebagai tanggapannya, sekolah, peserta didik dan keluarga (rumah) seyogianya berperan aktif memanfaatkan waktu liburan sebagai kesempatan untuk belajar di rumah.  

Belajar di rumah bukanlah hal yang gampang. Bukan hanya peserta didik yang tertantang, tetapi juga guru. Terlebih lagi, kalau kebiasaan belajar di rumah bukanlah kebiasaan.

Menjadi gampang bagi mereka yang biasa mempunyai les pribadi selepas pelajaran di sekolah. Mereka mungkin hanya membutuhkan sedikit persiapan.

Saya menanyakan seorang teman yang berprofesi sebagai guru tentang pendekatannya belajar dari rumah. Dia mengajar di siswa Kelas 3 Sekolah Dasar.

Salah satu pendekatannya adalah membuat grup WA yang terdiri nomor dari para murid. Dia kategorikan grup itu menurut kelas.

Umumnya, siswa kelas 3 SD belum mempunyai phone. Jadi, dia mewajibkan orangtua mereka untuk memberikan nomor phone mereka.

Lewat grup WA itu, temanku ini mengirimkan bahan pelajaran dan tugas-tugas yang mesti dikerjakan di rumah. Mereka pun diminta untuk menyelesaikan tugas itu selama beberapa hari. Setelah itu, mereka mengirimkan tugas-tugas itu secara pribadi ke nomor gurunya dan bukannya lewat grup.

Caranya, tugas-tugas itu difoto. Kemudian hasil fotonya dikirim secara pribadi kepada guru mata pelajaran.

Memang dari pihak guru, hal itu bisa memberatkan. Andaikata dia mempunyai 40-an murid. Pada hari tertentu, dia mesti menerima kiriman 40-an kiriman tugas lewat WA.

Kemudian, dia akan mengecek dan memberikan koreksi satu persatu. Lalu, dia akan mengambil nilai dari setiap tugas yang terkirim.

Tujuan pengiriman tugas lewat nomor pribadi WA adalah agar tugas-tugas itu tidak dilihat oleh teman-teman yang lain. Selain itu, guru bisa memberikan koreksi secara pribadi kepada murid tanpa dilihat oleh teman-temannya. Kalau koreksi dibuat lewat grup, boleh jadi ada siswa yang meras tidak nyaman.  

Menariknya, relasi yang terjadi lewat medsos ini ikut membuka relasi dengan orangtua. Orangtua bisa tahu dan melihat apa yang disampaikan oleh guru tentang hasil pelajaran anak mereka. Terlebih lagi, kalau medium untuk berkomunikasi adalah phone dari orangtua.

Keuntungannya, orangtua bisa tahu perkembangan anak dari dekat. Beberapa orangtua bahkan bertanya langsung kepada guru tentang hasil tugas yang diberikan. Mereka juga bertanya bagaimana menjelaskan bahan-bahan pelajaran tertentu.  

Di balik situasi ini, teman saya ini menyatakan kalau belajar di rumah juga bergantung pada kemampuan orangtua. Kemampuan orangtua itu bukan saja soal penyediaan medium untuk memungkinkan aktivitas belajar. Seperti misal, orangtua hanya menyediakan phone bagi anak untuk berkomunikasi dengan guru.

Kemampuan itu menyangkut bagaimana orangtua memahami pelajaran yang digeluti oleh seorang anak. Orang juga seyogianya ikut terlibat aktif dalam proses belajar dari rumah ini. Dengan kata lain, mereka seharusnya terlibat aktif dalam proses belajar dan bukannya membiarkan anak belajar sendiri.

Kadangkala pikiran "tahu segalanya" memenjarakan orangtua untuk tidak belajar lebih jauh. Kalau ada anak yang menyodorkan tugas dan pelajaran sekolah, orangtua menjelaskan ala kadarnya tanpa menyelami lebih dalam pada pelajaran yang digeluti oleh anak.

Bahkan ada yang menjelaskan sembari memarahi anak yang tidak memahami tugas dan pelajarannya. Padahal titik pangkalnya dari orangtua yang tidak mempunyai pengetahuan cukup menjelaskan pelajaran dan tugas sekolah untuk anak.  

Hal ini bisa terjadi karena keterbatasan pengetahuan orangtua. Orangtua masih berpikir kalau pelajaran anak serupa dengan apa yang mereka peroleh beberapa tahun silam.

Bahan boleh tetap sama, tetapi metode penyajian bisa saja berbeda. Metode penyajian bahan itu bisa membuat orangtua menjadi kalang kabut. Pada situasi seperti itu, orangtua semestinya beradaptasi dengan pendekatan belajar untuk anak..

Adaptasi itu terjadi lewat kemauan untuk belajar bersama dengan anak. Belajar di rumah merupakan kesempatan bagi orangtua untuk belajar bersama anak.

Orangtua bisa tahu dan memahami apa yang dipelajari oleh anak di sekolah. Orangtua juga bisa tahu sejauh mana kemampuan anak dalam memahami pelajaran yang diberikan oleh orangtua di sekolah.

Mungkin kesempatan belajar di rumah menjadi panggilan bagi orangtua untuk belajar bersama anak. Dengan ini, pendidikan anak bukan saja menjadi tanggung jawab guru di sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab orangtua di rumah.

Belajar di dan dari rumah memang menantang. Tetapi kalau setiap komponen bersatu dalam proses belajar ini, aktivitas itu bisa memberikan manfaat. Alhasil liburan tidak menjadi waktu yang sia-sia.  

salam

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x