Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Peminat kata

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ide Pak Nadiem, Titik Tolak Menjadikan Sekolah sebagai Rumah yang Nyaman

5 Desember 2019   07:30 Diperbarui: 5 Desember 2019   07:45 129 2 0 Mohon Tunggu...
Ide Pak Nadiem, Titik Tolak Menjadikan Sekolah sebagai Rumah yang Nyaman
Dok. pribadi

"There is not place like home." Tidak ada tempat lain selain rumah.  

Ungkapan ini secara tidak langsung menyatakan kalau rumah selalu menjadi tempat ternyaman untuk siapa saja. Ini terjadi karena di dan dari rumah kita dibentuk, belajar banyak hal dan mendapat kenyamanan tertentu.

Di rumah kita bisa bebas mengekspresikan diri. Di rumah, kita menjadi diri sendiri. 

Kira-kira gagasan kebebasan belajar pak Nadiem merupakan manifestasi secara tidak langsung dari proses pendidikan di rumah. Dalam arti, sekolah mesti menjadi rumah yang memberi waktu dan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan diri.

Sekolah kerap dipandang sebagai rumah kedua. Sebagian waktu kita sejak kecil, kita habiskan di sekolah. Setengah hari dalam sehari, kita berada di sekolah. Jadinya, sekolah bukan saja tempat belajar, tetapi rumah kedua bagi kita.

Pertanyaannya, entahkah sekolah sudah menjadi rumah kedua bagi para peserta didik?

Saya kira sekolah belum sepenuhnya menjadi rumah bila banyak orang yang merasa terbebankan dan tidak nyaman saat berada di sekolah.

Rasa beban ini nampak pada keengganan dan kemalasan seorang peserta didik pergi sekolah. Bahkan rasa beban ini nampak juga pada tendensi dari peserta didik untuk bolos dari sekolah.

Karena situasinya tidak nyaman, maka niat berekspresi pun tidak hadir. Misalnya, ingin menyampaikan pendapat di kelas, tetapi takut disalahkan dan ditegur karena pendapatnya adalah kritik untuk guru atau sekolah.

Atau juga, di sekolah tidak sedikit peserta didik yang menjadi pribadi yang lain. Contohnya, mereka menuruti perintah guru hanya ingin menyenangi hati guru dan takut dimarahi walaupun di dalam hati mereka tidak suka.

Sebaliknya di rumah keluarga, ada kenyamanan yang hadir. Ada ruang untuk mengekspresikan diri. Ini terjadi karena ada kedekatan relasi antara anggota keluarga. Setiap orang diterima dengan tangan terbuka.

Sekolah juga tidak menjadi rumah kedua saat ada peserta didik yang menjadi korban bullying dari sesama temannya di sekolah. Karena aksi bullying yang dialami, seorang peserta didik bisa saja enggan ke sekolah atau merasa takut berada di lingkungan sekolah.

Minggu lalu seorang ibu berkisah tentang situasi yang dialami oleh puteri kecilnya. Sang ibu begitu marah karena anak perempuannya menjadi korban bullying di sekolah.

Karena ini, sang ibu mau melaporkan peristiwa itu ke pihak berwajib kalau hal itu dihentikan. Tetapi sebelumnya, dia sudah melaporkan hal itu ke pihak sekolah.

Alasan sang ibu adalah dia tidak ingin mentalitas anaknya terganggu karena ketidaknyamanan di sekolah.

Ibu ini benar. Sekolah mestinya menjadi rumah kedua, dalam mana peserta didik merasa nyaman dan jauh dari situasi bullying.

Saya sangat suka konsep dari sekolah pada pendidikan Taman Kanak-Kanak (TKK). Selain sekolah menyediahkan ruang kelas, sekolah juga menyediahkan tempat khusus bermain.

Jadinya, situasi rumah seolah ditransfer ke lingkungan sekolah. Anak-anak mendapat ruang untuk mengekspresikan diri laiknya di rumah.

Para guru umumnya begitu ramah, bersahabat dan pandai menemani anak-anak yang berusia sekitar 4-6 tahun. Karena ini, peserta didik merasa nyaman berada di sekolah walaupun mereka tinggal jauh dari orangtua.

Situasi semakin berbeda saat mulai masuk Sekolah Dasar. Sudah tidak ada banyak ruang yang bisa memungkinkan seorang peserta didik bermain sesuai usianya.

Rutinitas biasanya terjadi adalah seorang peserta didik pergi ke sekolah, ke ruang kelas, bermain saat waktu istirahat dan kemudian pulang ke rumah.

Tidak hanya di lingkungan Sekolah Dasar. Situasi ini pun juga terjadi hingga level SMP dan SMA.

Mereka akan merasakan sekolah sebagai rumah saat mereka merasa "at home" tinggal dan belajar di sekolah.

Tetapi mereka tidak melihat sekolah sebagai rumah saat mereka pergi sekolah sebagai kewajiban semata. Ujung-ujungnya mereka gampang meninggalkan sekolah karena tidak menemukan kenyamanan sekolah laiknya sebuah rumah.

Sekolah bukan Sekadar Tempat Belajar
Pada umumnya, kita menghabiskan banyak waktu di sekolah. Dalam waktu sehari, sebagian besar peserta didik berada di sekolah.

Namun tidak sedikit orang yang menilai kalau pergi ke sekolah hanyalah sebagai sebuah kewajiban semata.

Tak heran pada saat jam sekolah berakhir, banyak yang merasa senang. Saat guru juga absen dari sekolah, banyak murid juga yang bersukacita atas situasi tersebut.

Situasi-situasi seperti ini menunjukkan kalau sekolah belum dinilai sebagai rumah, tetapi sebagai tempat belajar. Padahal kalau sekolah dinilai sebagai rumah, ada rasa untuk tinggal dan berada di sekolah.

Di rumah keluarga umumnya kita merasa nyaman. Kita berkomunikasi dengan terbuka dan bebas karena kita memilki kepercayaan antara satu sama lain.

Sekolah adalah Rumah Kedua
"There is no place like school."

Mungkin ekspresi ini bisa terlahir saat peserta didik merasa nyaman dengan lingkungan sekolah. Selalu ada niat untuk berada di sekolah dan kembali bersekolah.

Sekolah menjadi rumah kedua saat peserta didik merasa pendidik bukan sekadar guru rasa orangtua. Mereka bisa menjadi tempat bagi peserta didik untuk berkomunikasi dan menyampaikan gagasan dan pendapat.

Teman kelas dan sekolah bukan sekadar teman karena satu sekolah, tetapi teman rasa saudara yang mempunyai penghargaan di antara satu sama lain. Sebagai saudara, tiap peserta didik merasa nyaman untuk bergaul.

Sekolah adalah rumah kedua. Sebagai rumah, sekolah bisa menjadi tempat di mana peserta didik bisa bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik.

Sekolah menjadi rumah kedua yang nyaman mungkin sudah ada dalam benak pak menteri pendidikan. Gagasan-gagasan brilliant pak Menteri yang dikeluarkan beberapa hari lalu bisa menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan sekolah sebagai rumah kedua.

Kebebasan Ekspresi peserta didik merupakan poin penting yang bisa menjadi titik tolak membangun sekolah sebagai rumah kedua. Semoga saja gagasan ini bisa diterjemahkan pada konteks sekolah sehingga peserta didik merasa nyaman "at home" berada di sekolah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x