Humaniora Pilihan

Pemandu yang Memandu

23 November 2018   20:40 Diperbarui: 23 November 2018   22:50 101 3 0

Menjadi pemandu wisata, seringkali dianggap menyenangkan. Liburan gratis dan dibayar! Seperti itulah mungkin gambaran banyak orang. Anak pantai, anak gunung, hidupnya bebas ke sana ke mari. Menikmati keindahan tempat wisata sepanjang waktu. Terlebih lagi saat ini, banyak program di televisi, dan channel Youtube yang mengangkat pariwisata. Pastinya, tidak sedikit pemuda pemudi yang bercita-cita menjadi seperti mereka. Dua kata, liburan dan dibayar!

Berbeda cerita memang, acara wisata yang seringkali kita saksikan dengan aktivitas wisata alam sesungguhnya. Setting tempat, perbekalan, tujuan, risiko yang mungkin terjadi, dan lain sebagainya memang sudah diperhitungkan dan diantisipasi. Hal yang nampak memang tinggal bersenang – senang. Ketika kita mencoba perjalanan ke alam, tentunya berbeda. Mungkin kita bisa memilih mengikuti agen wisata yang juga telah menyiapkan semua keperluan kita, atau kita mencoba backpacker yang juga cukup ngetop saat ini. Bahkan, saat kita menggunakan jasa agen wisata pun, kita tetap memerlukan persiapan diri kita, persiapan barang, dan keperluan pribadi, segala kemungkinan dan risiko selalu ada. Kita menjadi penumpang, mengikuti pemandu wisata, mempercayakan perjalanan kita, membebankan semua risiko yang mungkin terjadi untuk menikmati alam.

Menjadi pemandu wisata ternyata mempunyai tanggunjawab besar. Memastikan perjalanan orang lain, memastikan tujuan, ketepatan waktu, keselamatan, dan kebahagiaan orang lain. Satu hal saja ada kekurangan. Dia akan menjadi orang utama yang disalahkan. Mulai dari tidak molornya jadwal perjalanan, makanan tidak enak, tempat menginap tidak nyaman, atau bahkan yang berkaitan dengan alam, seperti hujan! Dia tetap akan menjadi objek pelampiasan kekesalan yang utama. Pemandu wisata yang nampaknya selalu senang dengan hidupnya, pastinya orang yang penuh perhitungan, penuh perencanaan, dan terlatih menghadapi tekanan, bahkan yang amatir sekali pun.

Terdapat sebuah kasus di mana sekelompok rombonan wisata mengalami masalah ketika perjalanan pulang. Hari menjelang gelap, mobil yang digunakan mengalami pecah radiator. Rombongan masih berada di tengah hutan, dengan jarak tempuh sekitar 31 km. Terdapat 8 orang termasuk pemandu wisata dan supir dalam rombongan, terdiri dari orang dewasa hingga anak kecil. Setiap orang mempunyai kondisi, kesiapan fisik dan mental yang berbeda beda. Ini menjadi semakin menarik, karena dalam tekanan, semua orang akan memunculkan sifat dasar manusianya kembali, egoisme. Berusaha mementingkan keselamatannya, dan mencari sumber kesalahan, menyalahkan orang lain atas hal buruk yang terjadi. Semua merasa sudah membayar, dan tidak seharusnya hal demikian terjadi.

Apa yang sebenarnya harus dilakukan? Sebenarnya, semua hanya perlu tetap pada perannya masing – masing, dan menjalankan peran masing – masing sebaik mungkin. Percaya sepenuhnya semua bisa menjalankan peranannya dengan baik. Percayakan sepenuhnya pemandu wisata untuk menemukan solusi, mencari bantuan, memperhitungkan dan menentukan prioritas evakuasi. Semua harus mematuhi perintah dan arahan dari pemandu wisata, apapun itu. Orang yang paling mengerti kondisi wilayah sekitar ini adalah pemandu wisata, dan sopir.

Pak Her, sopir mobil yang cukup berpengalaman, sudah mengetahui kerusakan mobil ada pada radiator. Akses kelistrikan seharusnya masih bisa dimanfaatkan untuk sumber penerangan sembari menunggu bantuan datang. Jika tidak ada akses kelistrikan, matikan semua ponsel kecuali milik Prita agar saat baterai habis, simcard provider bisa dipindah ke ponsel yang masih menyala. Hingga hari benar benar gelap, cukup 1 HP menyala dengan mode hemat daya. Jika kondisi benar benar gelap, untuk menenangkan Kevin dan Kanaya bisa digunakan alat konten yang dimiliki oleh Anggi.

Tentunya tempat yang paling aman saat ini tetaplah berada di dalam mobil. Kelilingi mobil dengan garam agar hewan seperti ular tidak mendekat, siapkan obat nyamuk Pak Lukman untuk malam hari jika ada yang ditinggal. Akses internet yang dimiliki Prita, bisa dimanfaatkan untuk mengirim lokasi tempat mereka terhenti dan menghubungi 911 atau memasang status di media sosialnya. Dengan lokasi ini, apabila diperlukan bantuan yang lebih besar akan mudah di jangkau. Sementara sang suami tetap harus membeerikan optimisme, keyakinan kepada anak dan istrinya serta penumpang lainnya, keadaan akan baik saja.

Fred, Ahli biologi yang tersesat, harus segera ditemukan sebelum hari gelap. Ada 30 menit waktu pencarian. Logikanya, ketika peluit masih terdengar, suara teriakan pun akan dapat didengar olehnya. Dapat dibuat api sebagai sinyal asap, dengan kemungkinan terburuk Pak Fred tersesat meski banyak kemungkinan lain seperti ia menemukan salah satu spesies biologi yang menarik, terluka, tersandung, atau memang BAB nya belum tuntas. Dua orang mahasiswa yang sangat cemas, harus bisa menenangkan diri, mengikuti arahan dari pemandu wisata, dan bergabung dengan Kevin dan ibunya, serta tetap berada bersama rombongan yang lainnya.

Ada waktu 2 jam 15 menit sebelum kendaraan evakuasi datang dan mampu membawa 4 orang untuk keluar dari hutan, dan 30 menit untuk membawa 1 orang ke pondok yang ada di hutan. Ini akan menjadi lebih sulit, karena semua pasti ingin kembali secepatnya. Pemandu harus menentukan prioritasnya. Terdapat beberapa masalah dan prioritas yang dipikirkan.

Kevin sebaiknya di bawa dengan ibunya

Anggi mengalami cedera pada kakinya sehingga tidak dapat lari pada kondisi mendesak

Kanaya adalah seorang perempuan yang berbahaya jika berada di pondok pintu hutan konservasi bersama penjaga laki laki.

Meski memiliki sakit jantung, Pak Her adalah orang yang paling mengerti mobil, Pak Fred adalah orang yang paling mengenal alat yang dimilikinya serta fenomena biologi di sekitar, sedang kita pemandu wisata adalah orang yang paling bertanggungjawab dan mengerti kondisi alam sekitar.

Sehingga mobil sedan dengan kapasitas 4 orang ini diperuntukkan bagi Kevin, Bu Prita, Kanaya, dan Anggi menuju perkotaan. Motor dari pintu hutan konservasi akan menjemput pak Lukman kembali ke pintu hutan jika hanya berjaga sendiri dan mengantar ke kampung terdekat jika terdapat beberapa penjaga yan stay di pintu hutan. Agar dapat tetap berkomunikasi hingga esok hari setelah Bu Prita tiba di perkotaan, Pak Lukman ponsel pemandu wisata (27%) sedangkan pemandu wisata meminjam HP pak Lukman (70%) dan simcard ibu Prita untuk berusaha berkomunikasi dan berjaga jika baterai senter habis. Dengan kata lain, orang yang sementara menunggu di bus adalah pemandu wisata dan Pak Her alih alih bus masih tidak dapat menyala hingga gelap, serta Fred jika telah kembali. Sisa makanan 2 pax dengan sisa makanan yang ditinggalkan oleh peserta lain berupa coklat Anggi, Botol minum Kanaya, snack Bu Prita, dan bekal Fred yang tidak mungkin dibawa saat BAB seharusnya cukup untuk 3 orang untuk menunggu hingga bala bantuan datang atau esok pagi hingga matahari terbit kembali.

Gambaran akhir cerita sebenarnya bermacam – macam, kembali kepada semua orang dalam kasus ini, apakah mereka mau menjalankan perannya masing masing sebaik mungkin atau tidak. Rhanal Khasali menulis buku yang berjudul Lets Change. Dalam buku ini digambarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, orang yang dipercaya menjadi seorang Driver. Mempunyai tanggungjawab penuh selama perjalanan, memastikan keselamatan dan tujuan penumpangnya. Digambarkan pula menjadi seorang penumpang, bagaimana menjadi penumpang yang baik, mengikuti arah tujuan dan mengingatkan driver untuk tetap fokus sampai tujuan.

Apapun kita, siapapun kita, pasti mempunyai peran sertanya sendiri – sendiri, entah besar ataupun kecil dampak yang dapat kita berikan, selama kita menjalankan dengan baik peranan kita pasti ada dampak baiknya. Tidak perlu berandai kita ada di posisi orang lain dan bisa meakukan yang orang lain lakukan dengan lebih baik.