Mohon tunggu...
Donald Haromunthe
Donald Haromunthe Mohon Tunggu... Guru - Guru Seni Budaya di SMA Budi Mulia Pematangsiantar

Saya juga menulis di donald.haromunthe.com

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Motif Terbunuhnya Sang Motivator

3 Oktober 2016   00:10 Diperbarui: 3 Oktober 2016   00:47 285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: www.supermoney.com

Pemuda itu gelisah. Berkali-kali dia melirik HP di tangannya. Rasanya sudah tidak ada lagi notifikasi di semua akun media sosial miliknya yang luput dari sentuhan jemari dan kelibat pandangannya. Tak puas, ia juga sudah mengecek semua aplikasi chatting yang dia miliki. Mungkin karena hari sedang libur, ia punya waktu sebanyak yang perlu untuk melakukan semua itu. 

Tak ada yang menarik. Semua timeline yang nongol tanpa permisi di depan matanya, lama kelamaan membosankan juga baginya. Bagaimana tidak, setelah dia amati, polanya sama. Awalnya, orang itu muncul di TV. Kisah suksesnya lalu diulas para penulis yang sejujurnya tidak sudi menulis tentangnya kalau bukan karna lomba berhadiah. Kemudian di-broadcast dengan sedikit editan sana-sini. Lama kelamaaan begitu dia mengetikkan inisialnya di pencarian internet, nama orang itu juga yang nangkring disana. Dengan bantuan sedikit promosi dari rekannya para ahli SEO, jadilah dia viral dan abadi di sana. Akan terus begitu. Setidaknya sampai satelit luar angkasa hancur dan semua server internet hangus terbakar.

Sebentar dia melirik tumpukan ijazah dan sertifikat yang dia miliki. Dengan kedigdayaan Sembilan Cita yang dicanangkan di negeri ini, bagaimana mungkin dia masih penganggur akut? Dadanya sesak jika mengingat bahwa bahkan untuk membeli kuota internetnya pun, dia harus meminta dari orang tua yang baru saja kehilangan kerbau terakhir mereka untuk melunasi biaya kuliah profesinya.

Ah. Gemuruh dadanya jika mengingat mengapa ia tidak bisa berkompromi sedikitpun dengan kenyataan di dunia pekerjaan yang digelutinya. Siklusnya selalu begitu: Kenalan dengan teman sekantor, berdaptasi dengan mereka, mulai berkompetisi, lalu akhirnya dia mengalah mundur karena tidak ingin menyebabkan sakit hati. Begitu seterusnya hingga rasanya tak ada lagi head hunter yang mau melirik CV-ya di situs lowongan pekerjaan dan mereferensikannya ke kantor yang membutuhkan karyawan baru.

Bosan dengan semua yang dia lihat di layar HP-nya, dia menyalakan TV. Dan, orang itu lagi dan lagi. Iya, si motivator itu.

Ia tidak menyalahkan mengapa stasiun Televisi masih saja membayar mahal para motivator ini dengan bayaran tinggi hanya untuk menyemangati orang bagaimana caranya bangun pagi, atau untuk mereguk semangat kembali setelah ditinggal pergi oleh sang kekasih?


Di acara TV lainnya, masih motivator yang itu-itu juga, para penonton ditunjukkan sedang terperangah melihat kepiawaian si motivator menghubungkan antara Laut Mati dengan Kegagalan Karyawan yang Pelit Beramal. Masih di acara yang sama, si motivator tampaknya begitu percaya diri menguraikan "jalan tikus" menjadi pengusaha kaya, semudah memecahkan soal-soal Matematika di Bimbel-nya dulu dengan metode carcep (cara cepat), menyisakan pertanyaan nakal di benaknya: "Lalu, mengapa dia masih menjadi motivator juga setelah sekian tahun berlalu?"

Sejenak pemuda itu tersadar dari lamunannya. Selama ini ia tidak punya seorang pun musuh. Pun tak seorang pun sahabat sejati yang bisa memahami jiwanya yang introvert akut. Jika seseorang mesti memiliki musuh, kini di benaknya sudah jelas orang yang akan dia jadikan musuh: Iya, si motivator itu. Kebenciannya yang tak beralasan terhadap si motivator kini semakin menjadi-jadi. Mula-mula ia tidak mau lagi membuka siaran TV yang menyiarkan acara si motivator. Kemudian ia sama sekali tidak menonton TV manapun lagi. Lama-kelamaan bahkan layar HP-pun hanya sesekali dia buka. 

Saat status Pengangguran pun kini seolah mulai bosan berteman dengannya, ia punya misi yang luar biasa jahatnya di mata para ulama: Ia harus membunuh. Ia mesti membunuh si motivator itu. I a sudah menemukan motifnya sendiri: Di antara miliran penduduk di gaia (bumi) yang hidup ini, si motivator adalah orang yang paling tidak perduli seberapa mengenaskannya nasib yang ia sedang alami. 

Tapi, bagaimana caranya? Ia tidak tahu alamat si motivator.

Selain itu, ia tidak tahu bagaimana melakukan pembunuhan terhadap si motivator tanpa harus mendekam selamanya di terali besi yang sama menyedihkannya dengan menjadi seorang pengangguran. Belum lagi, ia juga mengidap penyakit lupa yang parah. Ditinggal sebentar, ia sudah langsung tak ingat lagi bagaimana wajah sang motivator. Hanya sesekali wajahnya sekelebat muncul, yakni saat ia mencuci wajah dan menggosok gigi sebelum tidur malam yang menyiksa sebab ia tahu bahwa keesokan harinya ia masih seorang pengangguran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun