Don Zakiyamani
Don Zakiyamani Penulis

Sedang mengelola media belumtitik.com dan personal web https://www.donzakiyamani.co.id Wa: 081360360345

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Sandi Terlalu Tangguh Bagi Ma'ruf

14 Maret 2019   17:45 Diperbarui: 14 Maret 2019   18:11 1176 8 8
Sandi Terlalu Tangguh Bagi Ma'ruf
Sumber foto: kricom.id

Dalam tulisan singkat ini saya sebenarnya tidak ingin mendahului takdir. Akan tetapi saya ingin kita semua jujur akan fakta yang selama ini kita ketahui bersama. Adalah fakta bahwa Sandiaga Uno merupakan sosok yang sukses dalam bisnis. Bukan hanya mampu teori namun ia juga pelaku.

Sementara Ma'ruf Amin bukan pelaku dalam ekonomi akan tetapi hanya konseptor. Itupun belum teruji apakah teori yang dimilikinya mampu beradaptasi dengan ekonomi liberal yang sedang kita jalani. Sehingga dalam debat nantinya akan tampak dialog tak sepadan.

Secara komunikasi Sandiaga Uno juga lebih unggul. Lihatlah bagaimana ia menutupi lubang Prabowo saat debat pertama. Selain itu secara fisik Sandi akan mampu bertahan lama, fisik akan menentukan seseorang berpikir jernih dan masuk akal.

Menyoal penguasaan materi, menurut saya Sandi lebih baik. Indikasi ini berdasarkan kampanye yang dilakukan Sandi. Berbeda dengan Ma'ruf Amin yang tampak tidak memiliki ide dan gagasan. Ma'ruf Amin hanya mengomentari hal-hal yang tidak penting, salah satunya soal mobil esemka. Wajar saja, sebagai seorang Ketua MUI beliau selalu berkutat dengan persoalan keagamaan. Nantipun menurut saya ia hanya menjabarkan konsep ekonomi syariah yang lazim diketahui khalayak, tidak ada konsep baru.

Dialog kyai-santri yang nantinya akan kita saksikan. Ketika kyai bicara masa lalu maka santri bicara masa depan. Kalaupun nanti Ma'ruf Amin sampaikan visi Jokowi terkait kartu-kartu andalan tersebut, Sandiaga Uno akan mampu mengimbangi dengan visi ekonomi yang dia siapkan. Selain itu Sandiaga Uno akan menyulitkan Ma'ruf menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait kartu-kartu tersebut.

Salah satu kartu yang sedang viral misalnya kartu pra-kerja. Sandiaga Uno akan menanyakan kesiapan negara melakukan hal tersebut. Misalnya soal anggaran ditengah hutang yang masih menggunung. Selain itu, kartu pra-kerja bukan solusi cerdas dalam mengatasi pengangguran. Bahkan akan muncul 'penyakit' sosial baru bila itu dijalankan.

Terkait hal itu, Sandiaga Uno semakin diatas angin bila ia memaparkan hipotesis bahwa kartu pra-kerja bukti gagalnya Jokowi mengurus pendidikan. Sebagai salah satu solusi, harusnya pendidikan mampu menekan angka pengangguran. Kita ketahui bersama bahwa pendidikan salah satu bidang yang paling banyak menyerap anggaran. Bila masih banyak pengangguran berarti pendidikan kita salah urus.

Dalam debat ketiga nanti, pendidikan menjadi salah satu materi debat. Meski Jokowi memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) namun konsepnya sama dengan bidikmisi era SBY. Tidak ada yang baru dalam hal ini. Harusnya Kartu Indonesia Pintar (KIP) cukup tanpa perlu kartu Pra-Kerja apabila Jokowi punya visi yang benar terkait pendidikan kita. Bila tidak, semua kartu hanya pemikat ditahun politik. Lagi-lagi bukan tontonan yang dapat menjadi tuntunan bila program hanya muncul jelang pilpres. Harusnya sudah sejak lama dilakukan Jokowi.

Harusnya Jokowi berani mencontoh Sandiaga Uno yang menjalankan OK OCE sebelum pilkada berlangsung. Belakangan kartu Pra-kerja mendapat kritikan dari wapres saat in. JK mempersoalkan anggaran, dan JK benar. Dana infrastruktur kita masih utang sementara akan ada beban baru yang tidak produktif akan dilaksanakan. Di sinilah Sandiaga Uno akan kembali mengeluarkan jurus wirausaha. Lebih realistis dan tidak mematikan kreatifitas kaum muda.

Subsidi pengangguran dengan uang atau dengan skill nantinya yang akan tersaji. Jokowi memberi ikan dan Sandiga menawarkan kail. Secara akal sehat, gagasan wirausaha Sandiaga Uno lebih realistis dan akan membangun karakter bangsa yang lebih baik. Ambil contoh subsidi PKH yang setiap tahun malah bertambah penerimanya. Tidak ada pengurangan angka kemiskinan yang signifikan meski secara politik menguntungkan Jokowi.

Hal senada akan terjadi pada program pra-kerja nantinya. Selain menambah kemalasan, persoalan data yang amburadul bakal membebani keuangan negara. Peluang ini yang akan diambil Sandiaga Uno serta akan membuat Ma'ruf Amin tidak menjawab sesuai pertanyaan. Publik nantinya bisa menilai kualitas cawapres nomor urut dua yang sering tak nyambung menjawab.

Dengan sendirinya bakal kecewa karena kualitas debat tak sebanding dengan uang rakyat yang dihabiskan. Tentu saja pertarungan tak seimbang ini bukan keinginan kita. Harusnya debat menghasilkan pengetahuan baru, mendidik, mencerdaskan bukan bukan sebaliknya. Apalagi bidang yang dijadikan debat terkait sumber daya manusia, penghuni negara ini sekaligus yang menjalankan segala fasilitas yang ada.

Debat bukan hanya menarik pemilih akan tetapi debat harusnya mendapat solusi siapapun nantinya yang akan terpilih. Namun bila debat hanya menyajikan keunggulan masing-masing secara politik tanpa berani mengakui keunggulan lawan dan kelemahan diri maka debat menjadi percuma. Rakyat Indonesia kembali akan menyaksikan stand-up komedi ala politisi.

Stand-up komedi yang terlalu mahal, padahal acara sejenis stand-up komedi bisa disaksikan dengan murah bahkan gratis. Kepanikan Jokowi akan massa umat Islam dan kekalahan teman dekatnya Ahok dalam pilkada menjadi awal serta alasan Jokowi memilih Ma'ruf Amin. Keputusan politik memang sering diluar akal sehat, lebih dominan emosional ketimbang rasional. Selamat menonton debat.