Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Karena Berbentuk Payudara Maka Disebut Kendi Susu

12 Maret 2021   16:39 Diperbarui: 12 Maret 2021   16:47 1017
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seorang warga mengambil air dari Candi Belahan atau Sumber Tetek (Foto: wartabromo.com)

Yang disebut tinggalan arkeologi memiliki berbagai nama, bentuk, ukuran, bahan, dan warna. Ada yang berukuran besar dan tidak bisa dipindahkan, antara lain candi dan keraton. Ada yang berukuran kecil dan mudah dipindahkan, antara lain koin, alat rumah tangga, dan senjata.

Di antara tinggalan arkeologi, ada yang berupa kendi. Kendi merupakan wadah penyimpanan air minum berbahan tanah liat. Benda itu dikenal sejak masa prasejarah (sebelum manusia mengenal sumber tertulis) hingga masa kini.  Masa 1970-an saya pernah memakai kendi. Sejuk sekali kalau minum dari kendi. Ada dua model kendi yang saya gunakan. 

Pertama, tanpa cerat. Jadi air minum dimasukkan dan dikeluarkan dari bagian atas. Kedua, kendi bercerat. Memasukkan air dari bagian atas dan mengeluarkan air lewat cerat di bagian tengah. Kebanyakan kendi berwarna coklat atau coklat kehitaman, sebagaimana warna tanah liat yang kemudian dibakar.

Kendi susu

Saat ini kita mengenal berbagai ukuran, bentuk, dan model kendi. Di dunia arkeologi, jenis kendi yang paling populer disebut kendi susu. Kendi ini bukan untuk menyimpan susu. Namun bentuk ceratnya seperti payudara, jadi disebut kendi susu.

Kendi susu banyak ditemukan pada situs Trowulan, yang diduga bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, di Mojokerto (Jawa Timur). Saya lihat beberapa museum memiliki koleksi kendi susu, yakni Pusat Informasi Majapahit. Di Jakarta, koleksi kendi susu ada di Museum Nasional dan Museum Seni Rupa dan Keramik.  

Karena banyak ditemukan di Trowulan, sering kali orang menamakan kendi susu sebagai kendi Majapahit. Seperti halnya candi yang berasal dari kata 'candika', istilah kendi berasal dari kata 'kundika', wadah air dalam mitologi Hindu-Buddha. Diyakini, kendi diproduksi di Nusantara sebelum masuknya kebudayaan India.

Dulu kendi amat disukai masyarakat di sejumlah negara. Jangan heran negara produsen keramik kuno di Asia Tenggara yang terkenal, Tiongkok, Siam (Thailand), dan Annam (Vietnam) kemudian memproduksi kendi susu berbahan porselin atau keramik.

'Kundika'[ secara spesifik merupakan wadah air pendeta Buddha. Kendi yang dipakai dewa-dewa Hindu disebut 'kamandalu'.

Seorang warga mengambil air dari Candi Belahan atau Sumber Tetek (Foto: wartabromo.com)
Seorang warga mengambil air dari Candi Belahan atau Sumber Tetek (Foto: wartabromo.com)
Sumber kehidupan

Dalam mitologi, kendi menjadi wadah untuk menyimpan amerta atau air untuk kehidupan abadi. Untuk upacara-upacara sakral, kendi masih digunakan sampai sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun