Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Media Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa di Museum

9 Mei 2017   19:57 Diperbarui: 9 Mei 2017   20:05 0 1 1 Mohon Tunggu...
Media Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa di Museum
Para pemakalah dari kiri: M. Husin, Kresno Yulianto, dan Puguh Tjahjono dengan moderator Weye Haryanto (Foto: Djulianto Susantio)

Tadi pagi, Selasa, 9 Mei 2017 kembali saya diundang oleh Museum Basoeki Abdullah. Setelah pembukaan pameran lukisan pada 4 Mei lalu, kali ini seminar bertema “Museum Sebagai Media Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa”.

Acara ini masih berkaitan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap 2 Mei.

Tampil tiga orang pembicara dalam acara itu. Seharusnya hadir Sopan Ardianto, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Namun beliau berhalangan. Seorang staf Sopan menggantikan beliau, yakni M. Husin. Pembicara lain adalah Kresno Yulianto, Dosen Museologi di FIB UI dan Puguh Tjahjono, Perupa dan Pengajar Seni.

M. Husin membawakan makalah berjudul “Pendidikan Karakter melalui Museum”. Menurut Husin pendidikan karakter memiliki tiga arti, yakni:

  • Sebagai akhlak, budi pekerti, watak atau kepribadian yang memberi ciri khusus bangsa Indonesia,
  • Sifat dan komitmen bangsa Indonesia yang menjadi pandangan hidup yang mendukung kemajuan peradaban bangsa, dan
  • Karakter bangsa tercermin dalam etos kerja yang tinggi, berwawasan ke depan, berpikir positif dan rasional, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

Selanjutnya Husin mengemukakan dasar pembentukan karakter. Kata Husin ada enam pilar utama institusi penghasil manusia berkarakter kuat, yakni kepercayaan, respek, tanggung jawab, keadilan, peduli, dan kewarganegaraan.

Sebagian peserta seminar museum (Foto: A. Djoko Budiono)
Sebagian peserta seminar museum (Foto: A. Djoko Budiono)
Makalah kedua dibawakan oleh Puguh Tjahjono. Ia banyak menulis tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara. Sebagai filsuf, kata Puguh, Ki Hajar Dewantara banyak mengupas tentang kebudayaan. Kebudayaan sebagai praksis sosiologis harus digerakkan dan diberikan daya revitalisasi terus-menerus, agar bertahan sekaligus hidup berkembang, serta mengalir mengikuti perubahan zaman.

Selanjutnya Puguh mengatakan kebudayaan harus memiliki watak kemajuan, mampu berdaulat memiliki kesetaraan dengan kebudayaan seantero jagad. “Kita tidak bisa menghindarkan diri secara terus-menerus atas penerimaan nilai-nilai dari luar, memakai tata cara orang (bangsa) lain,” jelasnya.

Makalah ketiga atau terakhir disampaikan oleh Kresno Yulianto. Menurut Kresno, pembangunan karakter bangsa adalah upaya kolektif-sistemik untuk mewujudkan kehidupan bangsa dan negaranya sesuai dengan dasar dan ideologi, konstitusi, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional, dan global yang berkeadaban.

Mengutip tulisan Ambrose dan Paine, menurut Kresno, secara umum museum mempunyai tiga peranan dalam masyarakat. Pertama, memastikan perawatan dan konservasi warisan budaya. Kedua, memberikan dukungan kepada institusi pendidikan, memberikan fasilitas kegiatan belajar, kegiatan budaya. Ketiga, membangun identitas di lokasi tempat mereka berada.

Lain lagi menurut Edson dan Dean. Sebagaimana dikutip Kresno, “Setiap museum mempunyai tanggung jawab pelayanan dalam bidang pendidikan kepada masyarakat”.

Seminar museum ini, menurut laporan Kepala Museum Basoeki Abdullah Joko Madsono dihadiri sekitar 80 peserta. Selain guru dan komunitas, juga hadir seniman, pemerhati, beberapa perwakilan museum, dan pihak-pihak terkait.  Seminar dibuka oleh Kepala Sub Direktorat Perencanaan, Evaluasi, dan Dokumentasi, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Judi Wahyudin.***