Mohon tunggu...
Ibnu Malik
Ibnu Malik Mohon Tunggu...

Random Uncategorized | http://djatmikoxv.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Digital

Tidak Pernah Ada Kebebasan Bersama BlackBerry

24 Maret 2013   16:00 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:18 3359 2 4 Mohon Tunggu...

Sabtu siang (23/3), untuk kesekian kali dalam hari ini saya dapat notifikasi dari Indosat, sebagai provider internet BlackBerry Full Service yang saya pakai. Anda mendapatkan gratis 4Mb dengan pemakaian internet Rp. x,xxx,- lagi, begitu isi notifikasi yang muncul dengan sistem pop-up. Aneh, karena terjadinya di handset BlackBerry, dan Full Service (BIS). Dan saya samasekali tidak pernah mengakses YouTube maupun streaming siaran Trans TV atau Trans 7, baik melalui aplikasi maupun native browser, apalagi Opera Mini. Tidak, tanpa adanya koneksi WiFi yang stabil.

Dulu, saya pikir cuma YouTube yang 'restricted' dalam paket internet BlackBerry, di paket Full Service sekalipun. Seorang teman dekat yang sudah jauh lebih dulu menggunakan BlackBerry pernah menceritakan pengalamannya, iseng buka YouTube dan streaming video berdurasi pendek, pulsa utamanya melayang sekitar 20 ribuan. Durasi video pendek dalam benak saya kurang dari 1 menit. Lalu, berapa yang harus dikeluarkan untuk menonton sebuah video klip berdurasi 3-4 menit, atau 1 seri Upin & Ipin yang rata-rata berdurasi 21 menit?

Itu pertanyaan matematis yang sebenarnya tidak perlu dijawab, karena saya yakin tidak ada satupun pengguna BlackBerry di dunia, apalagi di Indonesia, yang rela membuang pulsa (baca: uang), cuma untuk streaming video via handset, tanpa memanfaatkan WiFi. Kecuali, pengguna baru yang samasekali tidak tahu, atau orang tolol. Tolol? Bukankah pengguna smartphone seharusnya lebih smart dari smartphone-nya? Entah, itu cuma asumsi.

Karena risih dengan notifikasi pop-up yang muncul hampir tiap jam itu, akhirnya saya coba menelpon operator untuk menanyakan kenapa saya bisa dapat notifikasi seperti itu. Dan yang menyedihkan, saya tidak bisa menelpon operator dari handset BlackBerry yang saya pakai... Masalahnya sederhana saja, BlackBerry yang saya gunakan tidak memiliki physical keyboard seperti umumnya handset BlackBerry. Ketika kita menelpon operator, kita pasti dihadapkan pada pilihan untuk menekan nomor-nomor tertentu sehubungan dengan keperluan kita. Dan itu tidak berfungsi di BlackBerry yang saya pakai, cuma ada nada sibuk sebagai gantinya.

Ah, gadget mahal tidak selalu bisa menolong... Ujung-ujungnya saya pakai nomor pribadi di ponsel lama untuk kembali menelpon operator. Memang, BlackBerry ini properti kantor, boleh dibawa pulang, sama seperti MacBook Pro yang bagi saya terlalu berat kalau harus selalu dibawa pulang setiap hari. Lagipula, tanpa koneksi internet, buat apa bawa laptop? Satu hal menyedihkan lagi, BlackBerry yang saya pakai pun tidak mendukung 'tethering'. Istilah umum dalam dunia Android untuk menjadikan ponsel sebagai modem/router.

Soal pop-up notification itu akhirnya operator saya bisa menjelaskan sebab-sebabnya, dan sangat masuk akal. Kenapa? Karena ternyata saya menggunakan aplikasi pihak ketiga yang tidak termasuk dalam paket internet BlackBerry Full Sevice. Lalu muncul pertanyaan, Full Service... Menyeluruh. Apanya yang menyeluruh, kalau pada prakteknya tetap saja penuh keterbatasan. Perlu diingat, saya tidak menyalahkan operator saya soal ini, mengingat operator seluler di Indonesia tidak lebih sebagai media formal penyedia layanan dari BlackBerry. Sedangkan sistemnya, itu urusan BlackBerry selaku penyelenggara paket BlackBerry Internet Service. Dan jangan pernah lupa, BlackBerry (sebelum BB OS 10 rilis) pada dasarnya tidak menjual handset, melainkan servis.

Apa yang bisa diharapkan dari BlackBerry, sebagai gadget, sebagai smartphone, sebagai perangkat kerja dan mungkin juga sebagai status sosial? Tidak pernah ada kebebasan dalam BlackBerry, kecuali harga yang tidak sebanding dengan fitur dan performanya.

Ahh... Mestinya saya bersyukur, bisa menggunakan BlackBerry tanpa perlu keluar uang sepeser pun untuk membelinya, juga tanpa perlu memikirkan dan membayar sendiri biaya langganan paket BlackBerry Internet Service. Tapi saya mungkin terlahir sebagai antagonis oposisi, yang suka mengkritik kekurangan yang sifatnya esensial, dalam hal ini teknologi. Saya tidak pernah berpendapat kalau BlackBerry diciptakan penuh kebebasan bagi penggunanya. Pendapat itu jauh lebih cocok ditujukan pada Android, sebagai teknologi dan gadget yang hampir tanpa syarat (kecuali Gmail, validasi akses ke Google Play, d/h. Android Market).

Dari keterangan operator saya, aplikasi pihak ketiga dikenakan biaya akses GPRS normal, Rp. 1,-/kb. Apa saja aplikasi pihak ketiga itu? Banyak sekali. Dua contohnya adalah Opera Mini dan WhatsApp messenger. Semua aplikasi yang tidak diciptakan oleh BlackBerry (atau dengan nama lama mereka; RIM - Research In Motion). Tapi Yahoo! Messenger tidak dikenakan biaya, alias termasuk dalam paket BlackBerry Internet Full Service. Kenapa WhatsApp tidak? Saya tidak tahu. Kenapa Opera Mini juga tidak, saya juga tidak tahu.

Akses internet melalui native browser (browser bawaan) BlackBerry? Ya, silakan tunggu sampai tua. Lambat. Bukan cuma pada native browser BlackBerry saja, hampir di semua native browser gadget dengan OS (sistem operasi) lainnya. Tapi mungkin Internet Explorer Mobile jaman Windows Mobile 6 yang paling parah... Itu yang pernah saya rasakan. Karena itu ada aplikasi browser lain dari pihak ketiga, yang bisa jauh lebih cepat, dan juga jauh lebih hemat biaya kalau tidak mau ambil paket berlangganan internet.

Pertanyaannya masih tetap sama; apa hebatnya BlackBerry, sebagai smartphone. Tidak peduli itu kelas Gemini dan Curve yang disegmentasikan menengah bawah (dengan harga yang overpricing), ataupun kelas Torch dan Bold yang disegmentasikan untuk kelas menengah atas (dengan fitur dan fungsi yang tidak jauh beda dengan kelas bawahnya).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x