Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Kenali "Musuh" Utama Para Pelancong

13 Maret 2018   10:09 Diperbarui: 13 Maret 2018   13:04 544 7 2
Kenali "Musuh" Utama Para Pelancong
Ilustrasi: www.harnas.co

Melancong atau travelling memang sebuah hobi yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Mengasyikkan karena bisa menemukan hal-hal baru saat jalan-jalan, menegangkan karena sering mengalami hal-hal di luar dugaan. Terkadang para pelancong atau travellers sering tidak siap menghadapi persoalan di luar dugaan itu ketimbang menikmati pemandangan indah. Oleh karena itu kita perlu mengenali dan mengantisipasi datangnya 'musuh' utama dalam perjalanan yang akan dilalui. "Musuh"utama yang bakalan dihadapi para pelancong antara lain:

1. Cuaca

Cuaca merupakan "musuh" sekaligus teman nomor satu dalam perjalanan. Cuaca cerah tentu menyenangkan karena kita bisa leluasa menikmati perjalanan sekaligus mengambil foto dan berswafoto ria. Namun cuaca buruk bisa menghambat perjalanan kita untuk sampai tujuan. Cuaca mendung apalagi hingga hujan deras, walau membawa mobil pribadi sekalipun tentu sangat mengganggu kenyamanan berkendara, bahkan bisa menunda penerbangan atau keberangkatan kapal. Hasil jepretan kamera pun akan tampak gelap karena kurangnya cahaya alam. 

Foto Sunset Terhalang Awan Mendung (Dokpri)
Foto Sunset Terhalang Awan Mendung (Dokpri)

Demikian pula cuaca yang terlalu panas juga membuat tubuh cepat berkeringat dan lelah. Foto-foto yang dihasilkan juga kurang bagus, kadang terlalu putih karena pantulan cahaya, atau malah sebaliknya terlalu gelap akibat kalah bersaing dengan cahaya matahari. Pengalaman jalan-jalan di Turki waktu musim panas membuktikan itu. Oleh karena itu ada baiknya juga memantau prakiraan cuaca sebelum berangkat untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Scam

Scam atau gangguan penipuan oleh manusia juga menjadi hambatan utama jalan-jalan. Di Ho Chi Minh City, saya dikerjai pengemudi becak yang tiba-tiba meminta tambahan di luar perjanjian yang disepakati. Walau agak sedikit ngedumel, mau tidak mau terpaksa harus saya bayar semua daripada berantem di tengah jalan karena sama-sama tidak mengerti bahasanya. Paling repot kalau harus melayani para pedagang kaki lima yang berebut menawarkan dagangannya, bahkan nyaris baku pukul di antara mereka ketika saya memilih salah satunya, seperti kejadian di India ketika sesama tukang bajaj bertengkar memperebutkan saya.

Di dalam negeri, sudah jamak kejadian para preman rajin memalak wisatawan dengan modus uang keamanan atau menjadi guide dadakan walau sebenarnya tidak butuh-butuh amat. Untuk menghindari scam, sebaiknya bersikap seperti orang yang sudah kenal daerah, jangan terlalu lama bengong, tetap melangkah sambil baca peta walau kemungkinan sedikit nyasar, lalu berhenti di sebuah kedai, pesan kopi atau teh sambil membuka peta kembali.

3. Pembatalan sepihak

Saya baru saja mengalami hal ini ketika sebuah maskapai penerbangan dengan seenaknya memindahkan jadwal penerbangan yang seharusnya ke Malang menjadi Surabaya. Hal ini tentu mengganggu rencana yang telah disusun karena tentu mengurangi waktu eksplorasi akibat harus menambah waktu perjalanan. Untungnya saya dapat maskapai lain dengan tujuan Malang walau harus tertunda dua jam dari jadwal semula.

Pengalaman paling buruk ketika hendak menyeberangi perbatasan Thailand - Malaysia. Tiket yang sudah dipesan online ternyata telah diganti orang lain, dengan alasan agen yang di Penang tidak konfirmasi dengan agen di Hat Yai tempat saya berangkat. Memang uang dikembalikan penuh, tapi di libur panjang angkutan umum penuh semua. Akhirnya saya nekat menyeberangi perbatasan dengan taksi gelap dan selamat hingga sampai ke Changloon sebelum berganti bis ke Penang.

Pemesanan online, terutama angkutan darat dan laut belum sepenuhnya menjamin kepastian berangkat, apalagi saat high season atau malah low season, karena kurangnya penumpang membuat angkutan umum malas untuk narik. Jadi kalau ada keraguan sebaiknya pastikan melalui telepon langsung kepada operatornya, bukan ke agen travel, apakah rute tersebut memang benar berangkat atau ditunda.

4. Bencana

Nah ini yang susah diduga, baik bencana alam maupun manusia. Saya pernah mengalami terperangkap kudeta saat di Turki tahun 2016 lalu, padahal pas hendak menuju bandara untuk pulang kembali ke Indonesia. Kepulangan terpaksa ditunda dua hari sampai kondisi benar-benar aman dan saya berlindung di Konsulat Indonesia Istanbul untuk memperoleh perlindungan. 

Kebakaran server sebuah maskapai penerbangan nasional juga turut menunda kepulangan saya dari Batam karena seluruh jadwal penerbangan menjadi berantakan. Terpaksa kita diinapkan di sebuah hotel mewah di daerah Nagoya Batam. Namun tetap saja musibah itu mengganggu jadwal saya yang seharusnya sudah berada di kantor untuk rapat penting.

Kejadian perampokan, banjir, atau gempa juga mungkin terjadi saat dalam perjalanan. Untuk bencana alam kita bisa mengantisipasi dengan rajin membaca berita terkini, namun yang sulit itu memprediksi bencana akibat ulah manusia. Kita hanya bisa waspada setiap saat dalam perjalanan, apalagi dengan kenalan baru yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.

5. Mendadak Sakit

Perjalanan saya di Jepang nyaris berantakan ketika baru malam pertama tidur tiba-tiba pinggang sakit parah dan membuat saya susah tertidur lelap. Saya hampir pesan tiket pulang bila masih tetap nyeri. Bahkan tiket bis yang sudah dipesan pagi hari terpaksa hangus karena saya harus memulihkan kondisi dulu sebelum berangkat. Untungnya sekitar jam 8 pagi kondisi tubuh sudah membaik dan siap kembali berangkat. Alhamdulillah hingga pulang ke tanah air tubuh masih sanggup untuk menemani jalan-jalan. 

Dari peristiwa tersebut, ada baiknya memang memeriksakan kesehatan terlebih dahulu sebelum berangkat. Membeli asuransi perjalanan terutama untuk perjalanan jauh ke luar negeri juga penting agar bila terjadi sesuatu dengan tubuh dapat di-cover dengan asuransi. Apalagi sekarang ini banyak penyakit baru muncul ke permukaan dari daerah-daerah tertentu yang tidak dikenal sebelumnya.

* * * *

Namun keberadaan "musuh-musuh" tersebut bukanlah untuk ditakuti sehingga harus menunda bahkan membatalkan perjalanan kita. Anggaplah mereka sebagai duri kecil yang hanya perlu disingkirkan ke tepi jalan. Percayalah pada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa akan menolong perjalanan kita bila dilandasi niat tulus tanpa tendensi apapun. Jadi jangan lupa berdoa sebelum melakukan perjalanan panjang.