Mohon tunggu...
Dita Utami
Dita Utami Mohon Tunggu... Administrasi - ibu rumah tangga

ibu rumah tangga yang peduli

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pendidikan Karakter Mencetak Generasi Toleran dan Cinta Damai

27 Februari 2019   08:14 Diperbarui: 27 Februari 2019   09:59 19
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dinamika jaman memang terus berubah. Di era yang serba modern ini, banyak orang bisa belajar melalui internet kapan saja dan dimana saja. 

Di satu sisi, sistem belajar semaca ini memang diuntungkan. Selain efektif, juga memudahkan. Namun sistem belajar yang semacam ini akan mempunyai dampak yang negative, jika anak tidak mampunyai fondasi yang kuat. Untuk bisa mempunyai fondasi yang kuat itu, memang diperlukan peran semua pihak. Mulai dari orangtua hingga tenaga pengajar. Dan untuk menguatkan fondasi itu salah satunya bisa dilakukan melalui menerapkan pendidikan karakter sejak dini.

Seiring dengan mudahnya penyebaran informasi, siapapun bisa mengakses informasi apapun dengan mudah. Dari yang inspiratif hingga yang provokatif. Dari yang valid hingga yang hoax. 

Jika kita dan generasi milenial ini tidak mempunyai fondasi yang kuat, akan mudah diombang-ambingkan oleh informasi yang berkembang saat ini. Apalagi penyebaran hoax dan ujaran kebencian saat ini begitu kencang ketika Indonesia memasuki tahun politik. 

Di sisi lain, propaganda radikalisme juga terus terjadi di dunia maya. Semakin lengkaplah ancaman dan gangguan dunia maya di era milenial ini. Jika pendidikan karakter tidak dikuatkan sejak dini, akan banyak orang yang menyerap informasi salah.

Karena informasi yang salah itu dianggap sebuah kebenaran, maka seseorang akan merasa dirinya paling benar. Ketika kebenaran itu diklaim, yang terjadi adalah persekusi. Dan praktek ini bisa dilakukan oleh siapapun. Dari preman pinggir jalan, pelajar, hingga ormas. 

Praktek tawuran antar pelajar bisa terjadi hanya karena terprovokasi oleh informasi yang salah. Bahkan, karena persoalan yang sepele amarah mereka bisa dengan mudah diprovokasi sampai akhirnya berujung pada tawuran. Dan tak jarang tawuran antar pelajar ini berujung pada kematian.

Penguatan karakter sesuai dengan ajaran agama dan budaya Indonesia, penting dilakukan. Ucapan, perilaku dan akhlak dalam setiap orang, harus bisa memberikan kontribusi yang positif. Setidaknya bagi keluarga dan lingkungan sekitar. 

Jika semua orang bisa melakukan dan mendorong penguatan karakter ini, tentu akan bisa melahirkan generasi yang toleran. Harapannya, generasi penyebar hoax tidak lagi ada. 

Generasi penyuka persekusi dan tawuran juga tidak lagi ada. Semuanya berganti dengan generasi cinta damai, yang saling menghargai dan menghormati antar sesama.

Mari saling mengingatkan dan memberikan contoh yang baik. Mari kita kita luruskan yang salah, dan tidak perlu lagi menebar kebencian atas nama kepentingan politik atau kepentingan apapun. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun