Mohon tunggu...
Dinar Rahmayanti
Dinar Rahmayanti Mohon Tunggu... Novelis - S1 Perbankan Syariah, STEI SEBI

Belajar mengikat ilmu dengan tulisan

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

My Dream [Part 1 : Hujan]

19 September 2021   12:35 Diperbarui: 19 September 2021   12:50 76 7 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
My Dream [Part 1 : Hujan]
Foto: Dokumentasi Pribadi

*Hujan*

Bajunya sudah basah kuyup dan lepek, Naila memutuskan menerobos hujan deras setelah ia pikir sia-sia saja menunggu, toh tidak ada yang akan datang menjemputnya di gerbang sekolah dengan kendaraan, atau yang sekedar membawakan payung untuknya. Percuma juga menunggu reda, hujan sore itu lebat dan deras, tidak tau kapan akan berhenti. Jam di ruang kelas menunjukan pukul 15.00 saat Naila bergegas pulang, memasukan buku-buku pelajarannya kedalam kantung kresek hitam dan membungkusnya dengan rapi. Ya, sejak masuk musim penghujan Naila berinisiatif membawa kantung kresek setiap hari ke sekolah. Tentu saja agar buku-buku pelajaran itu tetap aman saat ia bawa menerobos lebatnya hujan. Bukan enggan membawa payung atau jas hujan, Naila hanya punya satu jas hujan dirumah. Jas hujan itu ia relakan dipakai ibunya pergi ke ladang. Jelas ibunya jauh lebih membutuhkan daripada Naila yang muda dan bugar.

Tubuh Naila menggigil, hujan sore itu rupanya sangat deras. Sesekali petir menyambar dan naila hanya menutup telinganya seraya berdoa. Naila menyusri pinggiran jalan raya yang tanpa trotoar seorang diri. Memang tak banyak yang memutuskan berjalan kaki pulang sekolah ditengah hujan. Teman Naila yang lain tentu banyak yang membawa motor, atau memutuskan naik ojek, atau ada yang menunggu orangtuanya menjemput. Sedangkan Naila hanya dibekali uang jajan lima ribu rupiah sehari, bahkan tak jarang ia tidak membawa sepeserpun uang ke sekolah. Tentu saya uang itu habis untuk sekali makan dijam istirakat, tak cukup untuk membayar ojek pulang.

20 menit sudah Naila bermandikan hujan, jarak rumah ke sekolah itu sekitar 1 Kilo Meter. Naila sudah terbiasa berjalan kaki pulang dan pergi, kecuali ada yang berbaik hati memberinya tumpangan. Naila membuka pintu seraya mengucap salam, tapi tak ada jawaban disana. Ia masuk dan meletakan tasnya diatas amben (tempat duduk yang terbuat dari bambu). Naila bergegas kedapur, dilihat ibunya tengah menyalakan tungku kayu bakar.

"Nai sudah pulang? Ibu tidak dengar karna berisik hujan". Sapa perempuan berumur 40 tahun tersebut. "Iya bu, ibu pasti baru pulang ya? Tunggu aku berganti pakaian, setelah itu biar Nai bantu ibu masak". Ucap Naila sambil meraih tangan ibunya dan mencium tangan. Naila bergegas ke kamar berganti pakaian dan menyimpan pakaian basahnya dikamar mandi.

Naila dan ibunya hanya tingga berdua di gubuk sederhana yang ia sebut rumah. Rumah dengan 2 kamar tidur, beralaskan tanah dengan bilik bambu yang sudah reot. Kini rumah itu membuat Naila dan ibunya tidak nenyak tidur, musim penghujan membuat atapnya yang sudah lapuk bocor dimana-mana. Belum lagi bilik bambu yang sudah usang, membuat malam Naila ditengah hujan semakin dingin.

Naila menyalakan tungku sembari menghangatkan tubuhnya yang menggigil, sementara sang ibu menyiapkan sayuran yang ia petik dari ladang, seikat kangkung jadi menu makanan Naila malam ini. Sebetulnya ia suadah bosan dengan kangkung yang hampir setiap hari menjadi santapannya. Tapi apa boleh buat, hanya itu makanan yang ada dan mudah didapat. Beruntungnya, tumis kangkung bagi Naila selalu terasa lebih nikmat jika diracik langsung tangan sang ibu.

Seusai memasak, Naila bergegas mandi dan sholat asar, karena ingin membantu ibunya ia lupa sejak tadi belum menunaikan sholat. Jam dinding usang dikamarnya menunjukan pukul 17.00. Naila baru ingat bahwa sedari pulang tadi ia belum membuka bungkusan buku sekolahnya, ia perlu memastikan bahwa buku itu tidak basah karena hujan sore ini sangat deras. Naila beranjak dari kamarnya, membuka tas dan kantong pelastik itu, untung saja buku tulisnya hanya basah sedikit di bagian ujung.

Hingga menjelang maghrib hujan tidak juga berhenti, Naila bersyukur ia memutuskan untuk segera pulang, jika tidak maka entah sampai kapan ia menunggu reda. Tak lama suara adzan di mesjid terdengar sayup-sayup, derasnya hujan sore itu membuat speaker masjid dekat rumah Naila tidak terdengar dengan jelas. Naila dan ibunya bergegas wudhu dan sholat bersama. Momen ini selalu menjadi salah satu bagian yang paling Naila sukai. Bermunajat pada pemilik semesta, melangitkan segala doa-doa. Naila tak pernah lupa menyertakan setiap mimpi-mimpinya dalam doa yang terucap, untuk dirinya serta orang-orang tercinta.

Menjelang malam perut keroncongan Naila sudah menagih jatah, ia dan ibunya menyantap nasi hangat dengan tumis kangkung yang dimasaknya tadi sore, ditemani gemercik suara hujan dari atap rumah tanpa plafon itu. Entah karena masakan yang enak atau perut yang sudah lapar, makan malamnya terasa nikmat bagi mereka berdua.

Mohon tunggu...
Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan