Mohon tunggu...
Dina Kusumaningrum
Dina Kusumaningrum Mohon Tunggu... Lainnya - Alumni UIN Syarifhidayatullah

Belajar, belajar dan terus belajar

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

"Obat" itu Bernama Kebahagiaan

16 Desember 2020   00:30 Diperbarui: 16 Desember 2020   00:33 242
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Seorang anak, dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya adalah unik. Mereka terlahir sempurna dengan talenta dan kemampuan yang memukau. Namun, setiap anak memiliki kadar yang berbeda-beda, karena setiap anak berkembang di jalannya sendiri dengan cara sendiri.

Setiap anak spesial, cerdas, dan berbakat. Tentu saja spesial, kecerdasan, dan bakatnya berbeda-beda tergantung masing-masing anak dan pola asuh orang tua.

Awal mula saya mengenal anak "spesial" kala menjadi pendidik di Sekolah Tetum Bunaya, Jagakarsa sebagai pendamping anak berkebutuhan khusus. Menjadi tantangan tersendiri ketika mengemban tugas tersebut. Jujur, kali pertama begitu minder. Bisa enggak ya saya nanti. Sangat kontras, seorang Sarjana Sosial Islam UIN Syarif Hidayatullah mengajar. Lebih lagi kepada anak autis. Selain itu, berat rasanya ingin resign (mengundurkan diri) saja, tapi rasa bosan itu hilang melihat keceriaan yang terlihat dari para siswa ketika pelajaran tengah berlangsung.

Saya sangat bersyukur dan bahagia mengajar di sana. Saya bisa bertemu anak berkebutuhan khusus. Bahkan, terbiasa mulai ketagihan mengajar anak autis.

Oleh Ibu Diah, Kepala Sekolah sekaligus pemilik sekolah Tetum Bunaya menugaskan saya khusus mendampingi Tiaz dan Farel. Mereka anak "spesial". Tiaz kelas I SD, Farel duduk di TK B. Saya mendampingi keduanya dari awal bel masuk sekolah hingga jam pelajaran usai. Pun saat pelajaran olahraga renang saya turut mendampingi.

Saat jam pelajaran dimulai saya betul-betul mengawasi, karena mereka tidak secara penuh mengerti apa yang disampaikan guru di kelas. Untuk Farel saya mendampinginya dari Senin hingga Rabu, sedangan Tiaz Kamis dan Jumat.

Tetum Bunaya merupakan sekolah inklusi, di mana menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Tentunya, saya tidak hanya di kelas saja, kerap mengejar anak yang tiba-tiba keluar dari kelas. Sampai berlarian hingga baju yang saya kenakan basah lantaran keringat yang mengucur. Dari basah sampai kering lagi. Bahkan, tangan saya berbarut akibat dicakarnya karena sedang tantrum. Ini yang membuat saya ingin resign dari kerjaan ini. Karena apa? Pertama lelah, kedua cari pekerjaan yang lebih baik.

Lalu yang membuat saya semangat adalah, mendidik merupakan amalan yang tak pernah putus. Ya berbagi ilmu dan kesabaran yang pernah ada batasnya. Kuncinya menghadapi anak "spesial" tersebut adalah bahagia dan berpikir positif.

dokumen-tetum-bunaya-5fd8f0f3d541df475b207094.jpg
dokumen-tetum-bunaya-5fd8f0f3d541df475b207094.jpg
Membimbing anak berkebutuhan khusus butuh waktu yang tidak singkat, tidak bisa hanya duduk dihadapan siswa. Tetapi juga, mengejar-ngejar untuk membujuknya untuk belajar di kelas. Namun, itu tidak melulu berhasil. Dan semua itu terbalas saat mereka luluh dengan saya dan paham apa yang diajarkan oleh guru di kelas. Itu rasanya senang sekali intinya berjuta-juta bahagia.

Fokus belajar di kelas dan belajar dengan anteng bukanlah hal remeh. Terkadang tertarik untuk mengikuti guru di kelas, dan sekejap kembali kedunianya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun