Mohon tunggu...
Dina Mardiana
Dina Mardiana Mohon Tunggu... Penulis - Penulis dan penerjemah, saat ini tinggal di Prancis untuk bekerja

Suka menulis dan nonton film, main piano dan biola

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Ibnu Sina dan Kemajuan Peradaban Islam Melalui Film "The Physician"

5 Januari 2019   20:39 Diperbarui: 5 Januari 2019   21:01 5127
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ibnu Sina (paling kanan, diperankan Ben Kingsley) sedang mengajarkan ilmu kedokteran kepada murid-muridnya yang beragama Islam dan Yahudi. (foto: Plymouth Daily)

Di film ini juga digambarkan situasi Eropa pada masa Abad Pertengahan yang lebih dikenal dengan Zaman Kegelapan, dengan kehidupan rakyatnya yang tunduk pada doktrin-doktrin agama, takut berkembang dengan hanya menunggu keajaiban datang. 

Sang tabib yang punya keahlian memberikan ilmu pengobatan seadanya pun pada masa itu malah dianggap mempraktikkan ilmu sihir oleh kalangan gereja dan selalu diburu untuk dibakar hidup-hidup karena dianggap ajaran sesat yang dibawa setan. Anggapan mereka, satu-satunya cara ampuh membasmi setan ya dengan membakarnya hidup-hidup.

Sebaliknya di tanah seberang lautan, alias di semenanjung Arab dan Persia (sekarang disebut Iran), sedang berlangsung Era Keemasan (atau orang Barat menyebutnya The Golden Age), dengan berbagai kemajuan yang dihasilkan dari peradaban Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintahan dan budaya. Dalam film ini, Era Keemasan diwakilkan oleh tokoh penemu ilmu kedokteran modern, Ibnu Sina, yang mendiami kota Isfahan yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Shah yang mencintai budaya. 

Di kota itu, umat Islam dan Yahudi hidup dalam kerukunan menjalankan ibadahnya masing-masing. Bahkan dalam sebuah adegan digambarkan pula ada seorang penganut pagan (menyembah dewa-dewa) Zoroaster yang bisa hidup dengan tenang hingga menjelang ajalnya. Tapi, entah kenapa di film ini justru umat Kristen yang tidak diperbolehkan masuk ke kota tersebut, yang membuat Rob harus menyamar sebagai orang Yahudi dan menyunatkan dirinya ketika ia sampai di Mesir.  

Padahal, jika ditelusuri dari sejarah, pada masa peradaban dan kejayaan Islam, semua agama monotheisme pada saat itu hidup berdampingan dengan damai di tanah Arab dan Persia, termasuk Kristen. Begitu pula yang terjadi di Iran, meskipun sebagai agama minoritas, masyarakat Kristen pada saat terjadinya penaklukan Iran oleh bangsa Arab-Islam sejak abad ke-7 Masehi dilindungi oleh pemerintah Islam.

Rob dibantu sang guru, Ibnu Sina, dan Mirdin, sahabatnya yang beragama Yahudi, melakukan operasi bedah pada tubuh Shah Iran untuk yang pertama kalinya. (foto: IMDB)
Rob dibantu sang guru, Ibnu Sina, dan Mirdin, sahabatnya yang beragama Yahudi, melakukan operasi bedah pada tubuh Shah Iran untuk yang pertama kalinya. (foto: IMDB)
Yah, namanya juga film. Ada beberapa fakta yang juga agak di-twist dalam film ini agar lebih terkesan melankolik dan menjual, meskipun menurut saya sih masih dalam koridor sejarah utamanya, yaitu masa Golden Age dan tokoh historis Ibnu Sina. 

Berhubung karakter sentralnya Rob, dikisahkan dalam film ini justru dia yang pertama kali melakukan praktek bedah pada manusia, walaupun dibantu sang guru yaitu Ibnu Sina, setelah dia mengulik-ngulik (alias mengotopsi) tubuh sang penganut Zoroaster yang sudah mati.

Memang sebelum mati, si kakek penganut Zoroaster ini berpesan agar tubuhnya tidak usah dikubur, karena menurut kepercayaan agama ini tubuh manusia itu mengandung semua hal yang buruk sehingga sesudah kematian, tubuh cukup dibiarkan di atas menara dan dimakan burung bangkai. 

Rob masih penasaran apa yang menyebabkan kematian ibunya, dan ketika ia menemukan bahwa ada yang namanya usus buntu alias apendisitis, ia pun menduga hal yang sama menimpa pada Shah sehingga ia diizinkan untuk membedah perutnya. Padahal pada kenyataannya menurut fakta sejarah, justru Ibnu Sina yang pertama kali menemukan ilmu bedah anatomi tubuh manusia, kendati di dunia Barat nama Leonardo da Vinci yang lebih dikenal.

The Physician diangkat dari novel berjudul sama karya Noah Gordon, penulis Yahudi berkebangsaan Amerika. (foto: amazon)
The Physician diangkat dari novel berjudul sama karya Noah Gordon, penulis Yahudi berkebangsaan Amerika. (foto: amazon)
Di film ini juga diperlihatkan persahabatan antara Rob, Mirdin, dan Karim yang merupakan murid-murid Ibnu Sina di sekolah yang diberi nama madrassa (atau madrasah): Mirdin seorang Yahudi yang rajin dan taat, sementara Karim seorang Persia Muslim anak orang kaya yang pemalas dan tukang mabok tapi koq ya cerdas, ha ha... . 

Buktinya ia yang bersemangat membuatkan racun penangkal wabah pes yang dikirim oleh pasukan Seljuk ke kota itu. Karim mempunyai seorang pelayan bernama Davout yang sayangnya membelot bersama para mullah untuk menaklukkan Isfahan. Entah aksinya ini dilakukan atas dasar dendam karena suka dicaci Karim (yah maklumlah anak muda), padahal jelas-jelas umat Islam pada masa kekuasaan Shah hidup dalam kemakmuran dan kemajuan budaya serta ilmu pengetahuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun