Mohon tunggu...
Dimas PrasetyoWibisono
Dimas PrasetyoWibisono Mohon Tunggu... Mahasiswa - dimaspryo27

Seorang mahasiswa semester akhir, Menyukai Sejarah, Mendekati Filsafat, Mendengarkan New Wave, dan sedikit absurd

Selanjutnya

Tutup

Hobi

[Ulasan] Penghancuran Buku Karya Fernando Baez: Rasa Miris Sedih Setelahnya Rasa Sayang dengan Buku

8 September 2021   11:50 Diperbarui: 8 September 2021   12:02 168 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Beberapa waktu lalu saya mendengar kabar penerbit buku Marjin Kiri, berencana mencetak ulang buku Penghancuran Buku: Dari Masa Ke Masa Karya Fernando Baez. Dengan mengusung cover pada cetakan pertama dengan desain seperti terbakar tapi dengan edisi yang lebih terbaharukan dengan penambahan pada bab baru (sama dengan cetakan kedua) dan ini menjadi cetakan ketiga buku ini.

Sebelum ada kabarnya cetak ulang, buku ini sangat langka di pasaran bahkan cetakan pertamanya dapat dijual kisaran 150 sampai 250ribu.  Saya membeli buku ini langsung di penerbit Marjin Kiri melalui e-commercenya seharga 101 ribu belum ongkir. Saat melihat secara langsung buku ini, cover seperti terbakarnya sangat apik. Tapi lebih apik lagi saat saya mulai membacanya.

Baez mengajak saya menelusuri periode sejarah penghancuran buku ini mulai dari mesopotamia romawi, masa revolusi, perang dunia, dan peristiwa kontemporer . Bagaimana buku belum terbuat dari kertas ternyata didahului melalui tablet-tablet dan papirus, yang ketahananya lebih ringkih ketimbang kertas. Beberapa bab yang begitu menarik perhatian saya adalah Berdiri dan Runtuhnya perpustakaan besar di dunia kuno yaitu Perpustakaan Alexandria, dan Pembahasan Mengenai Masa Perang Irak (2003) dimana Baez secara langsung melihat penghancuran secara langsung melalui penjarahan; buku-buku, manuskrip-manuskrip hingga karya langka diambil untuk kembali dijual bahkan saat penemuannya kembali ditemukan berada di negara lain ataupun para pencurinya menggelatakan begitu saja didepan bangunan museum ataupun perpustakaan yang sudah dijarah.

Penghancuran Buku tidak sekedar dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka baca buku, bodoh, dan fanatik karena justru lebih kompleks. Martin Heidegger dan Plato turut mempunyai peran dalam menghancurkan buku. Semisal Heidegger mengajak mahasiswa-mahasiswanya untuk membakar karya Edmund Husserl. Baez membawa pembaca dalam karyanya untuk merasakan kesedihan sebagaimana buku mengalami penghancuran melalui beragam motif, walaupun tidak selalu dilakukan manusia tapi juga faktor alam dan bencana seperti binatang pengengat semisal rayap dan kebakaran.

Beberapa dari masyarakat saat ini ada beberapa oknum yang merasa bahan bacaanya lebih wah ketimbang orang lain, merasa derajatnya lebih tinggi ketika membaca buku non fiksi ketimbang membaca yang fiksi atau sebaliknya. Ini adalah pengkotak-kotakan. pengkotak-kotakan dan rasa superior ini juga menjadi motif penghancuran buku, karena menganggap rendah pemikiran-pemikiran yang tertulis di buku sebagai memo ingatan penulisnya.

Setelah membaca karya Baez kita dapat memberikan refleksi kepada diri kita ataupun orang-orang yang masih mempunyai pikiran sepicik itu. Karena pada dasarnya buku adalah memo ingatan pada periode setiap zaman, dan setiap zaman memiliki keistimewaan pemikiran-pemikirannya sendiri. 

Dan sebagai penutup saya ingin memberikan kutipan yang ada pada Penghancuran Buku, dari Heinrich Heine bahwa "Dimana pun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar Manusia". Dan sudah sepatutnya kita melawan fenomena penghancuran buku yang terlihat didepan mata kita, menolak pembungkaman dan pemberangusan buah pikiran.  

Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobi Selengkapnya
Lihat Hobi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan