Mohon tunggu...
Annisa Fadhillah
Annisa Fadhillah Mohon Tunggu... Depok-Bogor

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Umat Islam di Mata Sejarah

26 Agustus 2019   16:10 Diperbarui: 26 Agustus 2019   16:16 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tanggal 17 Agustus 2019 merupakan HUT RI ke 74, seluruh masyarakat Indonesia merayakannya dengan penuh sukacita dan harapan. Dibalik angka 74 tersebut terdapat banyak pengorbanan para pahlawan yang senantiasa mencurahkan tenaga dan pikirannya bahkan jiwa nya untuk membuat Indonesia bebas dari penjajah. Termasuk peran dari seluruh lapisan umat islam yang telah memberikan kontribusi dalam memerdekakan Indonesia. Hal ini diungkapkan dalam buku yang berjudul Jas Mewah.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan dengan tema yang sama yaitu mengenai sejarah dakwah islam, jas mewah ini singkatan dari jangan sekali-kali melupakan sejarah dan dakwah islam di Indonesia. Yang ada dalam  buku ini adalah usaha untuk memotret bagaimana peran umat islam di indonesia dalam membentuk dan memperjuangkan indonesia. Sebab selama ini kita menyaksikan suatu ironi umat islam di indonesia ini mayoritas dan tentu saja yang mayoritas ini pasti tidak diam, punya peran yang sangat besar dalam sejarah indonesia, hanya ketika kita bicara apa peran umat islam dalam sejarah indonesia jutru kurang muncul atau tidak terlihat malah yang lebih dibesarkan peran dari umat lain yang dari segi jumlah justru tidak signifikan untuk berkontribusi didalam pembentukan indonesia. Maka buku ini hadir sebagai salah pengaya wacana mengenai sejarah islam di indonesia yang isinya untuk mengungkap kontribusi yang diberikan umat islam didalam pembentukan atau sejarah indonesia.

Diawali tentang masuk dan berkembangnya islam di indonesia, tujuannya untuk mengetahui sejak kapan islam datang agar bisa memperkirakan kiprahnya dalam sejarah Indonesia, sehingga bisa memahami dengan baik bahwa merupakan hal yang wajar islam banyak memberikan kontribusi untuk Indonesia.

Islam sudah ada sejak abad ke-7 artinya sudah hampir 14 abad, itu merupakan kurun waktu yang sangat lama, maka tidak mungkin selama 14 abad tersebut islam tidak berperan dalam sejarah indonesia. Menjadi hal yang masuk akal islam menjadi mayoritas di indonesia. Saluran-saluran yang digunakan pendakwah islam adalah saluran-saluran yang langsung akses kepada masyarakat.

Contoh datangnya da'i timur yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, mendirikan masjid, menawarkan ajaran yang sangat relevan dengan masyarakat indonesia, oleh sebab itu islam di indonesia yang pertama menerima adalah rakyat bukan raja. Karenanya kita tidak pernah mendengar perang misalnya kekhalifahan umawiyyah dengan kerajaan indonesia. Oleh karena itu islam relatif mudah diserap oleh masyarakat. Yang kedua prinsip islam yang diajarkan tersebut banyak kesesuaian dengan kultur masyarakat kita. Misalnya islaam megajarkan sikap yang egaliter (setara) berbeda dalam ajaran hindu yang memiliki beberapa kasta. Karena aslinya masyarakat indonesia itu egaliter, maka ketika islam datang cocok dan lebih cepat lagi diterima. Sehingga terlebih dahulu masyarakatnya masuk islam lalu rajanya seorang Islam pula dan terbentuklah kerajaan islam. Seperti abad ke 11 adanya kerajaan aceh dan lain-lain.

Yang dibawa dalam agama adalah ajaran, basis nya ilmu maka kita harus mempertanyakan bagaimana islam berkembang di nusantara sebagai agama. Hal ini diharuskan adanya wujud historikal, ternyata yang menyebabkan islam mudah berkembang adalah ketika umat islam memperhatikan institusi pendidikan islam yang paling tua di kawasan ini adalah pesantren.

Pesantren apabila merujuk pada sejarahnya dia mengikuti pola-pola madrasah di Baghdad, di Irak, pola itu ditiru dikembangkan di indonesia, namun tentunya dengan adaptasi pesantren di Indonesia. Hal ini hasil semacam adaptasi dari sistem pusat-pusat islam seperti di Baghdah diadaptasi di indonesia dan pesantren ini lah yang telah berhasil mendidik orang-orang yang nantinya akan menjadi pemikul agama islam, menyebarkan agama islam. Maka disiapkanlah pesantren-pesantren sehingga menjadi masuk akal mengapa islam bisa menyebar hingga ke seluruh indonesia karena ada pesantren, sebab dari pesantren tersebut santri dididik oleh kiyai untuk tidak hanya tinggal disitu namun menyebar hingga ke pelosok Indonesia. Tugas mereka adalah dakwah apapun profesi mereka, yang memungkinkan islam menjadi tersebar luas dan itu yang terjadi hingga sekarang pesanren ini menjadi pertahanan benteng islam yang paling kokoh di indonesia, contoh kasus peran pesantren didalam memepertahankan indonesia dari penjajahan.

Hal ini seringkali kurang terdengar oleh kita di dalam penulisan sejarah. Apabila kita perhatikan Belanda memiliki pola dalam menjajah Indonesia yaitu dengan memanfaatkan sumber daya lokal sehingga bukan orang-orang Belanda yang pindah ke Indonsia, namun kekuasaannya diambil alih oleh elit Belanda. Yang bekerja di bawah adalah pekerja-pekerja lokal, sehingga untuk jabatan bupati ke bawah tidak ada yang diduduki oleh Belanda, semuanya orang pribumi. Sehingga yang dimaksud kolonialisme itu bukan spenuhnya orang belanda menetap disini, namun orang Belanda bekerja sama dengan penduduk lokal. Nah pertanyaannya waktu itu kenapa ada usaha-usaha perlawanan terhadap kedzaliman belanda padahal waktu itu hampir semua bikrokasi yang ada di indonesia mengikuti Belanda. Ternyata kunci dari hal tersebut ada di pesatren.

Pesantren yang dipimpin oleh kiyai, kiyai itu bukan hanya sekedar pemimpin agama namun kiyai adalah pemimpin sejati (ulil amri bagi masyarakat), ulil amri bagi umat islam itu ada dua satu ulil amri fii umuriddunyaa  yakni pemerintah ada juga ulil amri fii umuriddiin dan ketika pemerintah nya kafir maka ulil amri itu dua-dua nya jatuh ke tangan ulama.

Nah ulama itu adanya di pesantren. Oleh karena itu ketika masyarakat kehilangan figur dari kalangan ulil amri, seolah-olah tidak punya pemimpin karna umaro yang dulu atau raja-raja yang telah mereka percayai ternyata pada saat belanda datang malah menjadi budak Belanda. Pada akhirnya masyarakat ini tidak memiliki alternatif lain kecuali dia punya pemimpin yang lebih otentik, dalam hal ini akhirnya bertemu dengan para ulama di pesantren.

Di pesantren inilah masyarakat memerlukan figur yang layak untuk menjadi pemimpin, maka nanti didalam sejarah pergerakan pembebasan terhadap kolonial pasti dibelakangnya ada figur-figur kiyai, santri, ada pesantren yg menggerakkan perlawanan belanda. Namun lagi-lagi ini tidak dimunculkan, tidak dijadikan sebagai satu monumen didalam perjuangan membentuk indonesia mengusir penjajah di indonesia ini. Oleh sebab itu peran pesantren menjadi sangat sentral untuk dibahas di dalam sejarah indonesia.

Referensi: Bahtiar, Tiar Anwar.2018.Jas Mewah.Pro-U Media

KONTEN MENARIK LAINNYA
x