Mohon tunggu...
Didik Sedyadi
Didik Sedyadi Mohon Tunggu... Suka berdiskusi tentang matematika bersama anak-anak SMAN 1 Majalengka. Hobby menulis. Tinggal di Majalengka Jawa Barat

Suka berdiskusi tentang matematika bersama anak-anak SMAN 1 Majalengka. Hobby menulis. Tinggal di Majalengka Jawa Barat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerita 8 Seri : Serpihan Edelweis (1)

4 April 2014   05:45 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:06 0 0 1 Mohon Tunggu...

Setting cerita di belahan barat lereng gunung Sumbing, desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah (kondisi sosio kultural gambaran sekitar tahun 1988-1989). Salam buat teman-teman guru di SMA Muhammadiyah 1 Banjarnegara. ___________________________________________________________________________

SERI 1 :   DITELAN LERENG SUMBING

Libur panjang dimulai setelah pembagian rapor.

Ketinggian Puncak Sumbing menjadi pikiran Fauzi. Kabut. Dingin. Tancapkan bendera Muhapala , perkumpulan pecinta alam SMU Muhammadiyah 1 Banjarnegara . Dan yang satu ini, Edelweis. Ia ingin melihatnya kembali.

Sebagai anggota Muhapala ia sangat menjunjung komitmen mencintai alam. Mengambil edelweiss dari puncak gunung adalah sebuah penyimpangan komitmen. Berkali-kali Fauzi bersama kelompoknya menaklukkan puncak gunung tanpa edelweiss. Ketinggian gunung Slamet, Lawu, Ungaran, Merapi dan Merbabu pernah ditaklukkan, bahkan gunung Ciremay di Kuningan Jawa Barat pernah dikangkanginya pula.

“Aku pesan beberapa tangkai edelweiss Zi.” Kata Lestari , sahabatnya yang biasa dipanggil “Tari”, ketika usai pembagian rapor.

“Edelweis ?” Fauzi terhenyak mendengar permintaan gadis teman sekelasnya itu.

“Iya. Edelweis adalah bunga abadi….. aku berharap persahabatan kita akan abadi seperti edelweiss.” Kata Tari sambil merengut.

“Ooooh….”

Hati Fauzi membantah. Permintaan Lestari sangat berat untuk dipenuhi. Sejenak nafas panjang dihela. Namun gadis yang duduk di sampingnya itu seperti menangkap arti desahan nafas Fauzi.

“Kamu keberatan?”

“Edelweiss adalah simbol keabadian Tari , sebuah simbol keabadian tak layak untuk dipetik atau dirusak . Kami anggota pecinta alam telah sepakat untuk tidak menyakiti alam. ”

“Artinya kamu keberatan bukan?” Desak Lestari.

“Aaah Tari, Tariiii , sudahlah….. nanti kuganti dengan anggrek yang indah, atau melati yang wangi… edelweiss tak terlalu bagus, warnanya seperti rumput kering.”

Fauzi tak banyak komentar ketika Lestari merajuk. Ia biarkan gadis itu pulang tanpa meninggalkan pesan apapun. Ketika gadis itu hilang dari pandangan, diambilnya HP dari sakunya. Ia kirim SMS untuk Nurjanah, ketua Muhapala.

“…. Nur, ada dua masalah, ibuku mengajakku berkunjung ke rumah Pak Lik Narto di Bandung , kedua, tari memaksaku ambilkan edelweiss !”

Hingga beberapa lama tak ada jawaban dari Nurjanah. Fauzi kesal. Dengan gontai ditemui ibunya di ruang tengah.

“Ke Lik Narto-nya apa tak bisa diundur Bu?” Tanya Fauzi sambil meraih pisang di meja.

“Maksudnya kamu minta Ibu mengundur rencana ini?”

“Ih ! Ibu malah balik bertanya !”

“Kamu minta Ibu mengundurkan rencana ini kan?”

“Kalau bisa Bu…”

“Kau telpon Pak Likmu itu, besok suruh jemput Ibu di Stasiun Kiaracondong.”

“Maksud Ibu?”

“Ibu berangkat sendiri…… berangkat sendiri……. karena anaknya jadi pejabat yang punya acara tak bisa diganggu gugat!”

“Ibu jangan ngambek seperti itu….. jadi tidak enak nih!”

“Sudaaah… telepon sana!”

Fauzi merasa keputusan ibunya seperti memasabodohkan dirinya. Tapi ijin sangat diperlukan. Ini adalah kesempatan. Sebenarnya hati Fauzi tak tega melepas ibunya berangkat ke Bandung sendirian , tapi godaan pendakian gunung Sumbing kali ini tak bisa ditolak. Makanya ketika ibunya menyuruh menelpon Pak Liknya, ia segera mengangkat gagang telpon menyampaikan pesan ibunya. Setelah beberapa jenak menelepon ia kembali duduk dekat ibunya.

“Pak Lik siap jemput ibu !” Kata Fauzi lega.

“PakLikmu tak pernah menawar apa yang kuminta.”

“Ibu menyindir ya…..”

“Hmh!”

“Besok ibu kuantar sampai Purwokerto , sampai Stasiun Raya, sekalian aku beli perbekalan.”

“Sudahlaaah… Purwokerto itu tak terlalu jauh, kau pikirkan persiapanmu saja. Matangkan rancangan, jangan sampai ada yang ketinggalan.”

“Benar nggak mau diantar?”

“Kapan Ibu pernah berbohong padamu?”

Fauzi tak menolak lagi. Memang rasanya tak pernah dirinya dibohongi ibunya. Apalagi sejak ibunya berpisah dengan ayahnya, ibunya nampak semakin sayang terhadap dirinya. Curahan kasih sayang ibunya yang dirasa semakin hangat, justru selalu mengingatkan Fauzi kepada ayahnya . Ia sering berangan-angan dalam suasana penuh kasih sayang ini kedua orang tuanya ada di sisinya. Apalagi sebagai anak tunggal, ia merasa semakin kesepian hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya kini tinggal di Purwojati Banyumas, tempat kelahiran ayahnya. Ia sendiri bersama ibunya di kota Banjarnegara, tempat kelahiran ibunya.

“Kamu melamun ya?” Ibunya menegur ketika menapati dirinya tengah tertegun dalam lamunannya.

“Ah…ibu ini ! Uzi hanya ingat ayah…. seandainya sekarang ada ayah di sini Bu…”

“Aaah.. sudahlah Zi, itu urusan orang tua.”

Sebenarnya Fauzi ingin membantah bahwa itu bukan hanya urusan orang tua, tetapi lebih pasti itu merupakan urusan anak-anak yang terkena akibat dari perceraian. Memang, walaupun kedua orang tuanya telah bercerai, akan tetapi ibunya tak pernah melarang Fauzi mengunjungi ayahnya . Satu hal yang menyenangkan hati Fauzi, ayahnya selalu menanyakan keadaan ibunya. Tak satupun perkataan ayahnya yang menjelek-jelekkan ibunya, sehingga ia tak habis pikir mengapa keduanya bercerai.

* * *

Sore tadi Lestari mengantar Fauzi hingga kota Parakan. Malamnya dari Parakan Fauzi bersama rombongan Muhipala menuju gerbang timur Sumbing. Ketika lepas waktu ‘Isya rombongan telah mulai merayap punggung gunung, menyusuri jalan setapak dari arah timur gunung Sumbing. Sesekali ia kencangkan syal pemberian Lestariyang melilit lehernya untuk mengurangi hawa dingin yang menerpa bagian lehernya.

“Zi ! Aku lihat Lestari memberimu syal ?” Tanya Nurjanah di belakangnya.

“Memangnya kenapa? Cemburu?”

“Aaah… bisa saja kamu ini ! Aku duluan ya !“ Kata Nurjanah seraya mempercepat langkah melewati Fauzi. Fauzi hanya menggelengkan kepala melihat gadis itu begitu gesit pada jalan yang menanjak.

“Hati-hati !” Kata Fauzi sambil menyorotkan lampu senter ke arah ketua Muhipala itu. Nurjanah tak menjawab, hanya membalas menyorotkan senter ke arah Fauzi.

Ketika tengah malam lewat, suasana alam begitu angker. Ketinggian telah membawa rombongan Muhipala ke tempat yang jauh dari keramaian seperti kerlip lampu di kota Parakan yang nampak jauh di bawah. Bayangan pohon pinus telah berkurang. Mendekati puncak berhawa dingin menusuk tulang, kini tinggal semak belukar. Ketika rombongan mulai renggang jaraknya, masing-masing seperti harus mengadu nasibnya sendiri. Desiran angin yang menerpa wajah mampu meremangkan bulu kuduk.

“Muhipalaaaaaa…!” Fauzi mendengar teriakan dari atas membelah kesunyian punggung Sumbing. Fauzi hapal, itu suara Darto. Suara teriakan itu artinya untuk membangkitkan semangat anggota yang lain . Dari tempat-tempat lain kemudian muncul suara sahutan.

“Siaaaaap!”

“Maju teruuuuss !”

“Muhipalaaaaaa……..!”

Fauzi mendesah. Ia berhenti sejenak. Tak menyahut teriakan teman-temannya. Entah kenapa tiba-tiba ia rasakan perutnya mual. Untuk melangkah lutut rasanya menjadi gemetar. Keringat dingin membasahi wajahnya. Fauzi menyeka dengan lengannya.

Untuk memulihkan kondisi, ia duduk. Fauzi minum beberapa teguk. Ada perasaan lega dalam perutnya ketika lambungnya kemasukan air. Kini pikirannya mulai tenang .Tangannya meraba saku celananya. Diambilnya HP karena ingin melapor keadaannya kepada Nurjanah.

“Hmmmh….. tak ada sinyal !” Ia bergumam. Baru sadar bahwa ketinggian gunung Sumbing merupakan daerah blank.

Hampir seperempat jam Fauzi duduk. Tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Hanya angin yang mendesahkan daun-daun semak belukar. Dengan tertatih-tatih ia mencoba bangkit meneruskan pendakian. Rasa mual itu telah mereda .

Setengah jam dengan susah payah akhirnya Fauzi mulai memasuki kawasan puncak. Tak ada lagi semak belukar. Yang ada rerumputan khas puncak gunung.

“Fauziiii….!” Terdengar suara teriakan memanggil namanya.

“Hooooiiiiiii……..!” Fauzi membalas teriakan itu.

Jam setengah empat pagi Fauzi sampai di puncak. Teman-teman lain sudah menunggu. Darto dan Mayang tengah kegirangan memainkan bendera Muhipala yang ditancapkan. Beberapa teman yang lain duduk beradu punggung untuk menghangatkan badan. Bambang telah beberapa kali mengambil gambar rekan-rekannya yang kedinginan.

“Aku kira kau tak akan sampai…” Sambut Nurjanah .

“Aku istirahat hampir setengah jam . Aku mual Nur, aku akan beritahu kamu tapi tak ada sinyal !”

“Kamu pikir ini kota?” Kata Nurjanah seraya tertawa.

Keduanya berjalan menghadap arah timur. Langit mulai nampak semburat. Mereka menunggu matahari terbit. Keduanya duduk berdampingan.

“Di sekitar kita banyak edelweiss Zi…… kamu bisa petik beberapa tangkai untuk Lestari.” Kata Nurjanah mengingatkan. Fauzi diam. Senter di tangannya disorotkan ke arah edelweiss yang tumbuh tak jauh dari bebatuan tempat duduknya.

“Saat ini tentu Lestari sedang nyenyak tidur. Mungkin ia tengah bermimpi menimang edelweiss , sementara aku harus bingung mempertaruhkan sumpahku sebagai pecinta alam.” Fauzi kesal.

“Zi, biar aku bantu. Biar aku yang petik edelweiss itu, aku sembunyikan dalam ranselku, biar orang lain tidak tahu. Kau tidak salah melanggar sumpah, biar aku yang berkorban. Bunga itu nanti kau berikan pada Lestari. Karena Lestari ingin edelweiss dari tanganmu, itu harapannya bukan?”

“Tapi itu kesalahan besar Nur, apalagi kamu sebagai ketua. Ah, sudahlah ! jangan lakukan itu, jangan berkorban demi orang lain, demi aku, demi Lestari. Kita akan malu kepada diri kita sendiri. “ Kata Fauzi seraya menghela nafas panjang.

“Yaaah terserah kamulah!”

Ketika garis merah mulai nampak di langit timur, rombongan Muhipala bersiap-siap mengambil tayammum. Seperti waktu-waktu yang lewat, shalat shubuh di puncak gunung terasa sangat syahdu. Rasa bahwa jiwanya berada di puncak dunia terasa sangat kental. Hati para anggota Muhipala semakin terasa tintrim teriris ketika Mahmud melantunkan adzan dengan lengkingan tinggi. Suara yang melengking itu menyebar ke udara gelap. Hilang . Kadang muncul gema entah darimana datangnya. Sesekali suara desah pinus di hutan lereng Sumbing terdengar.

Kali itu Nurjanah memutuskan untuk turun gunung usai shalat shubuh, tak menunggu matahari terbit. Katanya sudah terlalu sering mengabadikan suasana seperti itu, Yang dipikirkan Nurjanah adalah beberapa anggota Muhipala yang mulai menggigil susah diajak bicara.

Ketika semua telah siap berangkat, tiba-tiba Fauzi merasakan perutnya kembali mual. Ia duduk sejenak.

“Kau sakit lagi?” Tanya Nurnajah menghampiri.

“Sedikit mual. Kalian jalan duluan sajalah…..!”

“Tidak, saya khawatir mualmu semakin parah .”

“Jangan sepelekan aku Nur?”

“Lho? Aaah…. ! Ya sudah, aku tak mau menyinggungmu lagi ! Sehat-sehat saja Zi, awas jangan terlalu lama…. tubuhmu bisa membeku!” Kata Nurjanah meninggalkan Fauzi menyusul anggota lain yang telah turun terlebih dulu.

Ketika telah sendirian, Fauzi mengambil senter. Ia berjalan ke bibir puncak. Di situ banyak sekali bunga edelweiss yang tumbuh. Fauzi jongkok. Dibelainya bunga-bunga yang terasa dingin itu. Dalam benaknya berkelebat wajah Lestari . Gadis itu tersenyum. Fauzi tak terasa tersenyum juga . Ia ingat betapa Lestari semakin nampak manis ketika tersenyum dengan bulu mata yang lentiknya. Fauzi meraba syal yang kini menghangatkan lehernya. Syal rajutan tangan Lestari benar-benar membuat dirinya dekat dengan gadis itu.

Tangan Fauzi meraba-raba ransel. Ketika cutter yang dicarinya ketemu, ia genggam erat. Bibirnya terkatup. Nafas panjang dihelanya. Hatinya berontak ingin membuang cutter itu jauh-jauh. Tapi kini di hadapannya bunga-bunga edelweiss dan Lestari tengah menantinya.

“ Sumpahku gugur ! Bodohnya akuuu….!” Ia mulai memotong tangkai-tangkai edelweiss . Ada sekitar dua puluh tangkai. Fauzi merasa bersalah. Berdosa, telah melanggar sumpah sebagai pecinta alam. Tak terasa matanya terasa hangat. Kemudian air matanya menitik.

“Aaahhh! Sudahlah ! Terlanjur! Aku bukan pecinta alam !” Gumam Fauzi kesal. Edelweiss itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong keresek , lantas disimpan ke dalam ransel.

Sejenak kemudian Fauzi bergegas menuruni puncak Sumbing yang masih gelap. Karena agak terburu-buru kakinya terpeleset bongkahan batu. Tubuhnya bergulung-gulung beberapa kali. Ketika badannya telah tergeletak di tanah yang agak datar, ia pegangi perutnya. Rasa mual itu datang lagi. Kini hawa dingin terasa lebih menjalar ke tulang-tulang. Fauzi meringis. Selain perutnya yang mual ternyata kepalanya juga pusing, seperti melayang-layang.

Ia berhenti sejenak. Sepintas di bagian bawah nampak bayangan pohon-pohon pinus. Tapi tempat itu masih agak jauh. Sementara itu udara terasa semakin dingin. Teman-temannya sudah jauh tak terdengar suaranya lagi. Fauzi meraba-raba senternya. Barang itu tak ditemui. Yang ada hanya rumput dan tanah dingin. Rupanya barang itu terlempar ketika ia jatuh begulung-gulung.

Akhirnya dengan menahan rasa mual, kepala melayang Fauzi mencoba menuruni lereng Sumbing. Menanti waktu siang rasanya tidak mungkin. Terlalu lama. Akhirnya di tengah kegelapan ia mencoba berjalan sepenuh kemampuannya.

Auch! Aaaaah ! Fauzi kembali terpelanting ketika kakinya tersangkut batang perdu. Beberapa kali tubuhnya kembali terguling. Kali ini akibatnya cukup fatal. Ia kehilangan jejak jalan menurun. Dahinya membentur gundukan tanah keras.

Houeek !

Ia muntah. Keadaannya semakin payah. Mulutnya terasa asam. Ia mencoba mencari botol air mineral, tetapi ternyata barang itu tak ditemui. Sementara mulut dan lehernya terasa sangat tidak enak karena kotoran muntahan itu sebagian masih tersangkut di mulut dan leher.

Ya Allaaah…….. mungkinkah aku akan mati di sini ! Keluhnya. Ia raba dahinya. Basah. Keringat dingin yang memenuhi dahinya ia seka dengan lengat jaketnya.

Fauzi tak sempat menghitung waktu. Keadaannya semakin payah. Sekilas ia ingat membawa HP, akan tetapi barang itu juga tak ketahuan lagi ada di mana. Beberapa kali terjatuh kembali. Bangkit. Merangkak. Berhenti sejenak. Kini Fauzi telah sampai di kawasan hutan pinus. Tapi ia tak tahu hutan pinus di bagian mana. Seingatnya jika sampai hutan pinus kerlip lampu di kota Parakan , bahkan kawasan kota Temanggung, mulai nampak. Tapi kali ini tidak. Di bawah gelap.

Mungkinkah aku tersesat ? Pikir Fauzi seraya duduk mengatur nafas yang terengah-engah. Tangannya meraba ransel . Tapi ia mengeluh ketika ingat bahwa air dan senter yang dibawanya sudah tak ditemui lagi.

Fauzi meremang bulu romanya ketika bayangan kematian melintas di benaknya. Mati dalam keadaan sendirian di punggung gunung Sumbing. Ia masih cerita tentang para pendaki yang hilang di kelebatan hutan punggung gunung. Ia ingat Gagah Pribadi, mahasiswa asal Purwokerto yang hilang di gunung Slamet, ingat Jonathan yang hilang di gunung Salak. Tiba-tiba air matanya meleleh. bahkan semakin deras. Wajah ibunya, wajah ayahnya silih berganti datang, juga wajah Lestari . Mungkinkah wajah-wajah itu tak akan dijumpai lagi. Ia meraba ransel ketika ingat akan Lestari. Keresek berisi bunga edelweiss masih ada.

Lestari….. , Tari….. ! Gumamnya lirih.

Aku belum mau mati ya Allaaaah ! Fauzi berteriak. Suaranya bergema di kegelapan. Tetapi hanya sejenak, kemudian kembali sepi. Rasa takut itu benar-benar menggumpal dalam dadanya. Maka ketika rasa itu memuncak, Fauzi bergegas kembali merayap dalam gelap. Seolah di belakangnya malaikat maut sedang menguntitnya. Sesekali ia menengok ke belakang, tetapi tetap saja hanya kegelapan yang nampak. Tak ia rasakan telah berapa lama ia merayap, tertatih-tatih, muntah, terguling. Yang ada hanya berusaha bergerak. Entah ke mana .

Aaaaaa…………! Aaaa…kh….aaa… !

Fauzi tidak dapat berpikir ketika tiba-tiba kakinya seperti tak berpijak pada tanah lagi. Tubuhnya serasa terbating ke sana kemari tak terkendali.

Gusraaaak ! Suara gemerisik perdu tertimpa sebuah tubuh yang jatuh. Kemudian kembali sepi. ***

Bersambung  ke seri 2 ...............

KONTEN MENARIK LAINNYA
x