Mohon tunggu...
Didik Sedyadi
Didik Sedyadi Mohon Tunggu... Suka berdiskusi tentang matematika bersama anak-anak SMAN 1 Majalengka. Hobby menulis. Tinggal di Majalengka Jawa Barat

Suka berdiskusi tentang matematika bersama anak-anak SMAN 1 Majalengka. Hobby menulis. Tinggal di Majalengka Jawa Barat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerita 8 Seri: Serpihan Edelweis (Tamat)

22 April 2014   18:29 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Seri 8 :MENGUBUR EDELWEIS

Jam delapan pagi Pak Rahmat dan Bu Rahmat pamitan kepada Bu dahlan. Hari ini rencananya mereka berduaakan menyelidiki desa-desa di lereng Sumbing sebelah barat seperti Bowongso, Kembaran, Lamuk, Kalikuning dan Wonosari. Mereka bertiga mencegat bus yang akan ke Banjarnegara.

“Kau mau ikut Jeng?” Tanya Pak Rahmat kepaa istrinya.

“Tidak… nanti malah mengurangi keleluasaan. Biar Bapak berdua, nanti di sana menyewa ojeg saja untuk menyusuri desa-desa itu.”

“Ya, kalau begitu.”

“Sehari cukup perjalanannya?”

“Tak tahulah. Mungkin cukup, kalau hanya untuk bertanya-tanya saya rasa cukup. Kalaupun memang ada orang asing di suatu tempat, biasanya orang di desa itu mengenal. Jadi tidak terlalu sulit mencari orang hilang di pedesaan.”

Dua puluh menit laju bus dari Bawang, kini bus memasuki terminal. Setiap kali memasuki terminal, Bu Rahmat tidak pernah melepaskan pandangannya ke arah sekolah Fauzi. Bangunan SMA Muhammadiyah termasuk bangunan tertinggi, bertingkat empat, jadi tampak dari mana-mana. Termasuk dari terminal yang tidak terlalu jauh tempatnya.

Ketika bus berhenti Bu Rahmat turun. Diikuti oleh Pak Rahmat dan Pak Dahlan. Ketika kedua laki-laki itu mulai melangkah, lengan Pak Rahmat digamit istrinya.

“Maaaas…berhenti.”

“Ada apa? Mau beli apalagi?”

“Itu… Mas ,…. Faaa….. “ Kata Bu Rahmat menunjuk ke arah salah satu penumpang yang baru turun dari bus arah timur. Pak Rahmat dan Pak Dahlan menoleh. Keduanya melotot. Dada kedua orang itu gemuruh.

“Fauzi?”

“Fauziiiiiiiii…!” tak terkendali Bu Rahmat menghambur mengejarorang yang diyakini adalah anaknya.

Mendengar teriakan itu , anak laki-laki yang disebut namanya menoleh. Wajah anak laki-laki berbinar.

“Ibu?”

“Fauziiiii….. benar kau Fauzi?”

“Iya Bu…..”

Dengan serta merta Bu Rahmat memeluk anak laki-lakinya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bu Rahmat seperti tak ingin melepaskan peukannya. Pak Rahmat mendekat.

“Fauzi!”

“Ayah?” Pak Rahmat tak bisa mengucap kata-kata. Anak laki-lakinya dipeluknya erat. Kemudian Pak Dahlan turut mendekat. Beberapa jenak kemudian laki-laki itu mengubungi Nurjanah dan istrinya.

“Ayah di ….. di sini ?” Fauzi bertanya kepada ayahnya tak percaya.

“Semenjak kau hilang , ayah di sini.”

“Bu …. kasihan ayah Bu.” Kata Fauzi hampir tak terdengar. Matanya berkaca-kaca. Bahkan kemudian air mata itu menitik. Bu Rahmat kembali memeluk erat anaknya.

“Ia ayahmu Zi …. Ibu dan ayah sudah bersatu lagi ….”

“Ibu …. Ayaaaahhhh…… “ tak kuasa menahan kebahagian dan haru Fauzi terduduk lemas. Hingga beberapa lama mereka menjadi tontonan orang-orang di terminal. Sebagian lagi mengenali Fauzi yang telah dinyatakan hilang.

Siang itu rumah Fauzi dipenuhi para tetangga. Mereka ingin melihat dan mendengar cerita tentang pengalaman anak yang hilang. Bagi Fauzi apa yang diminta para tetangganya ia apenuhi. Sama sekali ia tidak capai atau bosan. Ia tengah merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Berkali-kali air mata harunya menetes melihat ibu dan ayahnya tersenyum bahagia menerima para tamu yang datang.

“Fauziiii…… “ Tiba-tiba Nurjanah menyibakkerumunan orang . Ia baru datang.

“Nur!”

Keduanya bersalaman erat. Mata Nurjanah basah. Bibirnya mencoba tersenyum. Namun kalah kuasa oleh aliran air mata yang deras. Fauzipun tidak dapat berkata apa-apa. Ada getaran yang menjalari telapak tangan yang dirasakan ketua Muhipala ituketika Fauzi menggenggam erat telapak tangannya. Hingga lama mereka berpegangan tangan. Para tetangga maklum, sebab dulu mereka mendengar bahwa salah satu yang harus bertanggung jawab atas hilangnya Fauzi adalah gadis itu.

Malam itu keluarga Nurjanah menginap di rumah Fauzi. Kini kedua keluarga itu seperti bukan siapa-siapa lagi. Pertalian batin antara Pak Dahlan dan Pak Rahmat menjadi semakin erat.

“Fauzi ….. ada sesuatu yang tak akan pernah Bapak lupakan.” Kata Pak Rahmat kepada anaknya. Semuanya diam menahan nafas.

“Ya ayah… .”

“Ayah sekarang merasa sangat berbahagia, berkumpul kembali denganmu, dengan ibumu. Mungkin kalau tidak ada peristiwa hilangnya kamu, ayah tidak seperti ini, tidak seperti, entah ayah dan ibumu kembali lagi atau tidak ….. “

“Ayah… Uzi sangat bersyukur … “

“Fauzi, orang yang paling berjasa menautkan kembali ayah dengan ibumu ….adalah….. “ Kata Pak Rahmat seraya memegang pundak Nurjanah.Gadis itu tertunduk dalam , “ ….. Nurjanah.”

Fauzi tak kuasa menahan keharuannya. Matanya kembali terasa panas. Sementara itu Nurjanah semakin tertunduk. Air matanya deras membasahi pangkuannya.

“Nurjanahlah yang pertama kali memberi tahu bahwa kau hilang. Ibumu bahkan tidak memberi tahu …. ibumu pikirannya kalut.”

“Iya pak … Nur …. Terimakasih.”

Tak terukur kebahagiaan yang dirasakan Nurjanah, ia mengalami sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya. Menjadi pembuka bagi keutuhan keluarga yang telah pecah. Demikian pula Fauzi, kekagumannya kepada gadis itu semakin menggumpal. Ia tak tahu dengan cara apa harus berterimakasih. Sulit untuk dicari padanannya.

***

Siang itu Fauzi mengajak Nurjanah mengunjungi rumah kakeknya di Kalibening. Di sana ada kolam. Airnya bening. Udaranya sejuk, ikan-ikan mas, kancra dan mujahir berenang ke sana kemari. Keduanya duduk di gubug pinggir kolam.

“Nur, sesuatu banyak aku dapatkan ketika aku hilang. Seperti yang aku ceritakan kemarin. Kini aku tak dapat melepaskan keterikatannya dengan para pemuda Lamuk.”

“Iya, aku mengerti. Kau adalah pahlawan yang hilang.”

“Tiap minggu aku harus melatih mereka. Hati mereka harus dibesarkan untuk berani mempertahankan desanya sendiri dari para pengacau.”

“Syukurlah, hilangmu bermanfaat bagi orang orang banyak.”

“Aku juga juga heran, kisahku seperti di sinetron…. “

“Kepergian Lestari ke kalimantan juga seperti di sinetron.”

“Hmhhh… Lestari , yaaaa begitulah barangkali cerita harus berakhir.” Gumam Fauzi seraya memandangi ikan-ikan. Nurjanah meliriknya sambil tersnyum.

“Kehilangan dia ya ?”

“Enggak. Mulai saja belum …… “

“Bisa saja ! Zi, aku tanya ya …. “

“Ya, tentang apa ?”

“Tentang bunga edelweis…. “

“Justru itu Nur, aku mengajakmu ke sini adalah untuk membicarakan edelweis. Ini …. di tasku , aku membawanya !” Kata Fauzi mengeluarkan isi tas punggungnya.

“Och!” Nurjanah menjerit kecil demi melihat Fauzi mengeluarkan segenggam batang-batang edelweis. Gadis menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku salah Nur ….. , aku bingung …….. akhirnya aku putuskan mengambil bunga-bunga ini. Terserah penilainmu kepadaku… layak atau tidak aku ini disebut pecinta alam.”

Hingga beberapa lama Nurjanah diam. Gadis itu rupanya ingat juga ketika ia menawarkan dirinya yang akan memotong bunga itu, bukan Fauzi.

“Tapi Lestari sudah pergi.”

“Aku memetiknya tidak sepenuh hati Nur ….Aku ingin kau yang simpan bunga ini…. “ kata Fauzi menyodorkan bunga-bunga itu.

“Jangan, aku tidak mau …. “

“Kalau begitu? Aku harus bagaimana ? Apa saranmu?”

“Kita kubur saja bunga ini. Bagaimana?”

Fauzi menyetujui saran Nurjanah. Ia berlari ke belakang gubug mengambil cungkir. Digalinya tanah di bawah pohon turi. Kemudian bunga-bunga itu dikuburnya. Kini keduanya saling berpandangan . Tersenyum Mereka telah mengubur bunga-bunga yang telah diambil secara paksa dari puncak gunung Sumbing.

“Itu demi siapa Zi?”

“Bukan demi siapa-siapa. Bukan demi Lestari, atau simbol Lestari telah pergi …. Aku hanya tidak ingin melihat bunga itu mengejekku sebagi pecinta alam.”

“Aku juga!” Kata Nurjanah sambil tertawa.

Fauzi memandangi arah berat. Ngarai berwarna hijau subur. Di atasnya langit bersih. Kemudian matanya kembali menatapi ikan-ikan.

“Nur …. kau tahu siapa orang yang paling berhasil membahagiakan diriku saat ini?”

“Ayahmu … kehadiran ayahmu yang kembali pada ibumu.”

“Ya , itu di antaranya. Tapi ada lagi yang lebih berhasil membuat sejarah membahagiakan diriku ……… “

“Tah tahulah ……… “

“Orang ini paling berjasa merintis jalan menyatukan kembali ayah dan ibuku….” Kata Fauzi pelan sambil menatap mata Nurjanah. Ia melihat keindahan dalam sinar mata gadis itu. Nurjanah menggelengkan kepala.

“Zii…..”

“Nur …. Nurjanah …….. , Nurjanah nama gadis yang paling berjasa dalam keluargku….”

“Zii ….. jangan berlebihan.” Kata gadis itu lirih hampir tak terdengar.

“Kalau tidak karena perhatianmu kepada keluargaku, kepadaku, mana mungkin kau menghubungi ayahku. Terima kasih Nur …...”

“Ziii … jangan berlebihan … anggap semuanya wajar.” Kata Nurjanah seraya menoleh ke arah Fauzi. Fauzi tersenyum. Fauzi tidak segera menimpali perkataan Nurjanah. Ia pandangi wajah Nurjanah hingga gadis itu tersipu-sipu kemudian mengalihkan paandangan ke arah ikan-ikan.

“Nur …… “ Panggil Fauzi pelan. Gadis itu menoleh.

“Yaa …. “

“Kau cantik Nur ……. “ Kata Fauzi dengan bibir bergetar. Muka Nurjanah memerah. Gadis itu gelisah duduknya. Jantung Nurjanah semakin berdegup keras ketika Fauzi beralih bersedeku di depannya. Kini Nurjanah tak mungkin lagi menghindari pandangan mata Fauzi.

“Aku mencintaimu ….. Nuuur …..Insya Allah abadi bagaikan edelweis. “

Angin perbukitan Kalibening semilir. Kicau burung-burung merdu. Ikan-ikan menari-nari berebut makanan yang dilemparkan Fauzi dan Nurjanah. Ketika terdengar adzan dzuhur, Fauzi memberi isyarat kepada Nurjanah untuk kembali ke rumah kakeknya.

Keduanya berjalan tanpa bicara. Fauzi bahagia. Pun dengan Nurjanah, gadis itu berjalan menunduk. Hatinya berbunga-bunga. ***

TAMAT

Salam : Untuk XII IPA 4, IPA 5, dan IPA 6.

Selamat menanti UN, tidak perlu gelisah. Ingat rukun Iman ke-6.

Insya Allah akan segera hadir Novel Kyai Keramat.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x