Dian Kelana
Dian Kelana wiraswasta

www.diankelana.web.id | www.diankelanaphotography.com | www.diankelana.id

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Foto Pertama

9 Mei 2011   17:38 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:54 179 4 5

[caption id="attachment_108288" align="alignnone" width="300" caption="Foto Pertama "][/caption]

Setelah kembali dari Pekanbaru, aku tinggal di kampung berdua dengan kakak tertua, Inan. Suatu hari aku disuruh mandi pagi-pagi ke luak gadang, sumur yang terletak di pinggir tabek dan sawah. Selesai mandi aku dipakaikan baju yang agak lumayan bagus, begitu juga kak Inan telah berganti memakai baju kurung, baju khas orang Minang.

Selesai sarapan kamipun berjalan meninggalkan rumah gadang. Melihat jalan yang kami lewati, aku kira kami akan pergi ke bok tempat umi di tahan tentara pusat beberapa tahun sebelumnya. Tapi setelah sampai di simpang tiga yang menuju bok itu, kami tidak berbelok ke kanan melainkan lurus mengikuti jalan raya nagariSalo Bungo Koto Tuo, tetangga nagari kami.

Aku tidak tahu berapa lama kami berjalan, keringat bercucuran membasahi pakaianku. Aku merasa haus, tapi aku tak berani mengatakannya pada kakakku. Setiap kami melewati lapau yang menjual beraneka ragam roti dan kue serta gula-gula, aku hanya menelan ludah, menahan keinginan dan rasa hausku.

Setelah berjalan cukup lama, kami sampai di jalan raya yang telah beraspal, kami menyeberangi jalan itu. Sampai di seberang baru aku tahu, ada jalan kereta api disana. Kami lalu menyeberangi rel kereta api, lalu berteduh di sebuah bangunan yang sekelilingnya berdinding, kecuali yang menghadap ke jalan kereta api. Di sekeliling dinding terdapat bangku panjang tempat duduk yang sebagian diantaranya sudah terisi. Kakakku duduk di bangku yang kelihatannya agak lapang, aku lalu didudukkannya di sampingnya.

Aku tidak tahu mengapa kami duduk disitu dan aku juga tidak menanyakannya pada kakakku. Semakin lama tempat itu semakin ramai, dari pembicaraan orang banyak itu baru aku tahu, bahwa tempat itu adalah stoplat tempat untuk menunggu kereta api yang mau menuju ke Bukittinggi dan Payakumbuh. Tapi aku sendiri tidak tahu, mau kemana aku akan dibawa oleh kakakku. Dari pembicaraan orang ramai itu pula aku tahu bahwa kami sedang berada di stoplat Biaro.

Setelah menunggu cukup lama, kereta yang kami tunggupun datang. Itulah pertama kali aku melihat kereta api secara langsung. Sewaktu kereta itu berjalan semakin dekat kearah stoplat, aku memegangi tangankakakku erat-erat. Suara lengkingan kereta api itu membuat aku terkejut dan takut. Begitu juga Lokomotivnya yang hitam kelam dan bunyi mesinnya yang menderu serta dengusan nafasnya yang mengagetkan aku, semakin mempererat pegangan aku pada kakakku.

Setelah kereta api itu berhenti, aku melihat orang berduyun duyun naik ke atasnya. Dengan tetap berpegangan pada tangan kakakku, kamipun lalu naik ke atas gerbong kereta itu. Kami mendapat tempat duduk di bangku panjang yang berada di tengah gerbong. Sementara bangku yang berada di pinggir sebelah kiri dan kanan dekat jendela telah penuh.

Tidak lama kemudian kereta mulai bergerak meninggalkan stoplat Biaro itu, aku sendiri tidak tahu arah kereta ini kemana. Sementara aku mencium bau yang belum pernah aku ketahui itu bau apa, sementara asap kereta yang hitam pekat kadang-kadang terlihat sekilas. Dari obrolan para penumpang kereta, akhirnya aku tahu bau yang sejak dari tadi aku cium, rupanya itu adalah bau batu bara yang di bakar untuk menjalankan kereta api.

Setelah berjalan beberapa lama, kereta kembali berhenti . Dari seorang ibu yang menjawab pertanyaan anaknya yang duduk dekat jendela, aku mendengar ibu itu menyebut nama Tanjuang Alam.

Setelah selesai menurunkan dan menaikkan penumpang, kereta kembali berangkat meninggalkan stoplat Tanjung Alam, kembali aku mendengar lengkingan peluit kereta api meninggalkan stoplat. Kembali aku melihat asap mengepul di samping kereta yang disertai dengan bau batubara yang khas itu.

Setelah melewati perkampungan dan sawah-sawah yang membentang di kiri kanan jalan, kereta api kemudian mulai masuk kota yang ramai, sayang aku tidak bisa melihat terlalu bebas keluar, karena aku tak berani berdiri ketika kereta berjalan, sementara jendela kereta tertutup oleh kepala orang-orang yang duduk di pinggir.

Ketika kereta berhenti, kakakku mengatakan bahwa kami sudah sampai dan segera turun dari kereta. Akupun berdesakan dengan penumpang lain menuju pintu kereta, aku berusaha secepat mungkin sampai di pintu, karena takut keretanya berjalan lagi. Akupun mendengar para penumpang menyebutkan bahwa kami telah sampai di stoplat Aua Tajungkang, Bukittinggi. Disitu pulalah baru aku tahu bahwa aku di bawa oleh kakakku ke Bukittinggi.

Setelah turun dari kereta, kami berjalan menuju jalan raya. Tanganku di pegang erat oleh kakakku berjalan di sela-sela orang banyak di jalanan yang kami tempuh itu. Karena kuatnya pegangan tanggannya, aku merasa kesakitan. Tapi karena aku takut pada kakakku itu, aku hanya diam saja sambil berjalan menahan rasa sakit

Setelah kami di jalan yang agak lapang, baru tanganku di lepaskan. Bukan di lepas semua, melainkan dia beralih memegang tanganku yang satu lagi, yaitu tangan kiri. Sebabnya kami saat itu berjalan di jalanan yang banyak mobil lewat. Tangan kiriku di pegang agar posisiku berada di sebelah pinggir jalan, dan dia agak ketengahnya. Setelah berjalan cukup lama, kami lalu menyeberang jalan. Dekat persimpangan terminal bus, kami belok kekiri mendaki tangga yang kelihatan semakin lama-semakin tinggi.

Kami hanya menaiki beberapa anak tangga, lalu belok kekiri masuk sebuah toko. Kakakku berbicara dengan pemilik toko, tak lama kemudian aku di ajak oleh kakakku masuk kebagian dalam toko itu. Sampai di dalam aku melihat lukisan-lukisan indah dan lampu yang menyala sangat terang. Bajuku di rapikan oleh kakakku, pemilik toko lalu mengangkat dan mendirikan aku pada sebuah bangku, sementara kakakku berdiri di sampingku.

Sejenak pemilik tokoberdiri di belakang alat yang ditopang dengan tiga kaki, dia lalu membuka kain hitam penutup alat yang bertengger diatasnya. Pemilik toko itu menutupkan kain hitam itu ke kepala dan sebagian badannya. Tak lama kemudian aku mendengar bunyi klik, pemilik toko itupun lalu membuka kain hitam yang menutup kepalanya tadi, lalu menutupkan kembali ke alat yang terletak diatas kaki tiga itu.

Kami kembali keluar ke bagian depan toko, kakakku kembali berbicara dengan pemilik toko, kemudian kakakku menerima selembar kertas dari pemilik toko itu. Setelah itu, kamipun keluar dari toko itu.

Sambil berjalan menuruni tangga kakakku mengatakan bahwa tangga yang kami lewati ini adalah Janjang 40. Aku lalu melihat kebelakang, kearah tangga yang baru saja kami lewati itu, tapi karena kami telah sampai di ujung tangga, aku hanya bisa melihatnysa sekilas. Kakakku memegang tanganku untuk menyeberangi jalan, untuk kembali ke stasiun dan pulang.

http://sosbud.kompasiana.com/2010/09/25/tragedi-sepatu-baru/

http://sosbud.kompasiana.com/2010/09/21/aku-di-pulangkan-ke-kampung/