Mohon tunggu...
Dian Andi Nur Aziz
Dian Andi Nur Aziz Mohon Tunggu... Penulis

Meminati Isu Keamanan Nasional dan Resolusi Konflik.

Selanjutnya

Tutup

Atletik

Berharap Mandiri Marathon Berikutnya Tetap di Jogja

21 Mei 2019   22:52 Diperbarui: 21 Mei 2019   23:21 0 1 1 Mohon Tunggu...
Berharap Mandiri Marathon Berikutnya Tetap di Jogja
Kami sekeluarga di Komplek Makam Raja-Raja Mataram. (Foto: koleksi pribadi)

Gelaran bergengsi Mandiri Jogja Marathon tahun ini telah dilakukan pada 28 April 2019 yang lalu. Saya berdoa gelaran marathon ini kembali dilakukan di Jogja, bukan kota lain. Saya ingin mengajak istri dan kedua anak saya usia 13 dan 9 tahun pada edisi berikutnya. Anak saya dua-duanya perempuan.

"Ayah, aku pengen ke Jogja lagi", suatu anak perempuan saya yang kedua yang berumur 8 tahun.

"Kenapa?", Tanya saya.

"Seru", jawabnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh anak saya yang pertama yang berumur 13 tahun.

Dalam kesempatan pulang kampung di Banyumas, kami berusaha menyempatkan berkunjung ke Jogja. Banyumas-Jogja hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam lewat jalan darat.

Suatu ketika kami pernah melakukan pesiar Jakarta-Jogja. Rute Jakarta -- Jogja kami tempuh dengan mobil. Sebelum sampai Jogja kami mengunjungi beberapa destinasi wisata seperti Pekalongan, Magelang dan berakhir di Jogja.

Di Magelang kami sempatkan menginap di rumah penduduk (guest house). Lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur. Kami berkunjung ke Bukit Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang tenar gara-gara Film Ada Apa dengan Cinta. Dari Bukit ini bisa disaksikan matahari terbit dari balik Candi Borobudur. Pemandangan yang sungguh indah.

Masih di sekitar Candi Borobudur, kami melanjutkan berkunjung ke Gereja Ayam. Ceritanya kami saya dan istri ingin merasakan suasana yang dirasakan Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta. Ternyata ini adalah bangunan gereja yang belum rampung. Bentuknya unik berlokasi di bukit. Dari atas bangunan kita bisa melihat pemandangan hijau.

Karena sudah pernah berkunjung kami tidak mampir ke Candi Borobudur. Kami mampir ke Candi Pawon, candi kecil yang tidak jauh dari Candi Borobudur. Candi Pawon adalah salah satu candi Budha.

Selanjutnya, hari berikutnya kami langsung meluncur ke Jogja. Destinasi wajib adalah Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo. Tetapi sebelum itu kami mengunjungi beberapa lokasi lain seperti candi Ratu Boko dan beberapa Candi sekitar Prambanan. Kami tidak mengunjungi Prambanan karena kebetulan sudah pernah ke Prambanan pada kunjungan sebelumnya. Yang juga menarik adalah Kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede, Yogyakarta.

Di mata anak-anak kami Jogja adalah kota yang seru. Bukan karena banyaknya destinasi wisata anak-anak. Bagi mereka seru karena suasana jalanan lebih semarak dan beda dengan kota lainnya.

Untuk itu kami berniat mendaftar pada Mandiri Marathon berikutnya. Tapi syaratnya hanya satu yaitu kalau masih diadakan di Jogja. Kenapa ? Karena kota ini menjadi kota yang dirindukan oleh keluarga kami. Ada empat hal yang membuat kami sekeluarga ingin kembali pesiar ke Jogja yaitu suasana jalanan, makanan, pasar, dan spot foto.

Jalanan

Kami menyukai perjalanan menyusuri jalanan Jogja dengan berjalan kaki. Untuk beberapa lokasi kami menggunakan angkutan umum Trans Jogja. Kami bisa merasakan tidak hanya pemandangan tapi juga interaksi dengan warga Jogja.

Salah naik Trans Jogja bukan masalah. Dengan salah pilih bus kami bisa nyasar ke tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi. Tidak perlu khawatir tersesat. Tersedia rute Trans Jogja yang mudah untuk diakses untuk kembali ke Hotel tempat kami menginap.

Makanan

Gudeg atau bakmi jowo sudah terlalu mainstream. Banyak makanan yang layak dicoba di Jogja. Beragam kuliner dari yang tradisional hingga menu modern tersedia di Jogja. Tinggal sesuaikan dengan tebal tipisnya dompet.

Hal yang seru juga adalah makanan dan Keraton Jogja dan suasana alun-alunnya. Disini selain terdapat keseruan permainan tradisional dan tetapi juga makanan jalanannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2