Mohon tunggu...
Dian Andi Nur Aziz
Dian Andi Nur Aziz Mohon Tunggu... Penulis - Menulis Lagi

Karena pelupa maka ditulis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Prospek Cerah, Mengapa Petani Bukan Profesi Favorit?

21 Mei 2019   15:51 Diperbarui: 21 Mei 2019   16:14 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pertanian masih menjadi sektor usaha yang cemerlang. Kontribusi untuk nilai produk domestik bruto (PDB) pada periode 2013-2017 terus naik. Bahkan pada tahun 2018 nilai PDB sektor pertanian naik 47% dibandingkan tahun 2013. Bila diakumulasi dari 2013-2017 nilai PDB dari pertanian mencapai Rp1.375 triliun. Dahsyat, sebuah angka yang tidak kecil untuk profesi yang dianggap tidak menarik.

Sektor pertanian yang basah dan moncer tidak cukup membuatnya menjadi sektor yang menarik. Petani belum menjadi profesi favorit. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2018 menunjukkan orang Indonesia paling banyak menjadi tenaga produksi, operator alat alat angkutan, dan pekerja kasar. Pada kelompok profesi terakhir mencapai (30,60%). Jumlah tenaga kerja di sektor pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan berada di peringkat kedua dengan persentase 28,06%. Sebuah angka yang mengagetkan bila kita lihat besarnya kontribusi pertanian terhadap PDB Indonesia.

Yang lebih menyedihkan ketika ternyata lapangan di sektor pertanian terus berkurang. Sebaliknya sektor jasa terus meningkat pada tahun 2015-2018 menurut BPS. Banyak tenaga kerja di sektor pertanian berpindah ke sektor jasa. Fakta ini tentu membuktikan bahwa profesi petani tidak terlalu menarik.

Ada dua faktor utama mengapa minat menjadi petani rendah yaitu rendahnya upah dan persepsi negatif terhadap sektor pertanian.

Upah Rendah

Dari seluruh jenis pekerjaan, sektor pertanian termasuk dalam kategori rendah. Menurut BPS pada tahun 2018 upah buruh laki-laki di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp 2,03 juta, terendah dari seluruh jenis pekerjaan. Secara agregat buruh upah buruh laki-laki lebih banyak dibandingkan buruh perempuan. Laki-laki mendapat Rp 3.064.920, sementara buruh perempuan mendapat Rp 2.398.674.

Keterampilan dan kecocokan dengan kebutuhan tenaga kerja masih menjadi masalah tenaga kerja di Indonesia. Keahlian terbatas ditambah dengan ketidakcocokan dengan kebutuhan skil tenaga kerja menyebabkan tenaga kerja dibayar rendah. Soal ketidakcocokan skil sering kita saksikan. Misalnya, lulusan pertanian yang lebih suka bekerja di dunia penyiaran. Atau, lulusan teknik menjadi wartawan.

Persepsi Negatif

Faktor kedua yang membuat profesi petani tidak menarik adalah karena adanya persepsi negatif terhadap pertanian. Sebegitu tidak menariknya sampai-sampai tidak ada siswa Taman Kanak-Kanak bercita-cita menjadi petani. Mereka lebih terpikat dengan profesi seperti dokter, insinyur, polisi, dan suster. Persepsi ini terbawa hingga mereka dewasa. Terpaksa mau menjadi petani ketika semua usaha yang dijalani menemui kegagalan.

Petani identik dengan kemiskinan. Pertanian dianggap sebagai profesi yang tidak prestisius karena sehari-hari berteman dengan kotor dan panas. Berbeda dengan mereka yang bekerja kantoran di ruang berpendingin udara. Citra seperti melekat ketika mendengar kata petani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun