Mohon tunggu...
Dhita Mutiara Nabella
Dhita Mutiara Nabella Mohon Tunggu...

Seorang Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Orintasi Pengenalan Kampus, Perlukah?

14 September 2016   22:39 Diperbarui: 14 September 2016   22:42 261 1 1 Mohon Tunggu...

           Sudah menjadi tradisi bagi seorang mahasiswa baru untuk bersiap-siap menjalani orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) ketika dinyatakan diterima disuatu perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Pandangan dalam kebanyakan masyarakat ketika mendengar ospek adalah senioritas, dimana para senior bertindak semena-mena dengan para juniornya. Disinilah titik permasalahannya, inilah pandangan yang seharusnya tidak ada lagi di generasi sekarang. Oleh karena itu, masyarakat seakan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu masyarakat yang setuju dengan diadakannya ospek, dan masyarakat yang tidak setuju dengan adanya ospek.

            Marilah kita bahas satu per satu dari berbagai sudut pandang yang ada. Masyarakat yang setuju dengan adanya ospek, memiliki berbagai alasan dan argumen mengapa ospek dirasa masih perlu diadakan. Meskipun kenyataannya, pandangan ini dikembalikan kembali pada masing-masing individu, ada yang memang berniat untuk ‘balas dendam’ dengan juniornya, supaya mereka merasakan apa yang para senior rasakan dahulu, pun ada juga yang memang dengan tulus ingin mendidik dan membina para mahasiswa baru untuk menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Sedangkan masyarakat yang tidak setuju dengan adanya ospek, memiliki alasan bahwa ospek merupakan ajang perploncoan kepada junior, yang dalam hal ini adalah kepada mahasiswa baru.

            Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan adanya orientasi studi dan pengenalan kampus jika dijalani dengan cara yang tepat, justru hal ini merupakan kegiatan yang baik bagi para mahasiswa baru untuk lebih mengenal kampus yang akan dijalaninya serta memudahkan mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Pelaksanaan orientasi kampus yang baik yaitu dengan menetapkan terlebih dahulu nilai-nilai apa saja yang akan dibawa, sehingga setiap kegiatan yang dilakukan memiliki esensi yang terdapat dalam nilai yang dibawa tersebut. Orientasi kampus yang ideal yaitu ketika mahasiswa dipaparkan mengenai kehidupan akademik di kampus dan juga kehidupan kemahasiswaan yang ada di kampus, diusahakan keduanya seimbang, jangan hanya berat di salah satu sisi saja. Pengenalan sistem akademik pada universitas yang dibungkus dalam bentuk seminar dan talkshow sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru untuk mengenali lingkungan akademiknya, namun mahasiswa baru juga perlu untuk berinteraksi dengan kakak-kakak tingkatnya untuk lebih saling mengenal dan juga melatih kedisiplinan sebagai seorang mahasiswa. Evaluasi yang diberikan senior kepada mahasiswa baru tetap diperlukan selama tidak melebihi batas yang tentunya bertujuan untuk mendidik dan membina mahasiswa baru untuk menjadi lebih baik. Apalagi generasi saat ini sudah terlalu dimanjakan dengan teknologi yang ada, sehingga setiap angkatan atau setiap generasi memiliki penanganan yang berbeda untuk membentuk karakter seorang mahasiswa. Tidak perlu dengan mengeluarkan suara tinggi, apalagi mengeluarkan kata-kata yang tidak sepatutnya diucapkan dalam lingkungan akademisi, cukup dengan mengeluarkan kata-kata bijak dan tegas, sudah cukup untuk melatih kedisiplinan mahasiswa baru.

            Kenyataannya, masih banyak kasus-kasus yang mengerikan ketika adanya ospek. Masih banyak ospek yang dilakukan dibeberapa universitas atau sekolah tinggi yang melakukan kekerasan, padahal tujuan ospek itu sendiri bukanlah untuk melatih fisik, apalagi sampai nyawa yang menjadi taruhannya. Dilansir dari okezone.com sekiranya ada beberapa kasus yang menelan korban jiwa ketika berlangsungnya ospek, diantaranya yaitu:

  • Pada 17 Juli 2012, seorang mahasiswa baru Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang, Banten, tewas setelah dua hari mengikuti Diklat Orientasi Pembelajaran (DOP) atau semacam Ospek di kampusnya. Ia adalah Erfin Juniayanto alias Mulyono.
  • Kasus kekerasan Fikri Dolas Mantya yang akhirnya meninggal dunia pada 12 Oktober 2013. Korban yang merupakan mahasiswa baru Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, tewas diduga karena kekerasan saat mengikuti Ospek.
  • Setelah STPDN berganti nama menjadi IPDN, kasus kekerasan di kampus milik pemerintah itu belum mampu dihentikan. Jonoly Untayanadi (25), mahasiswa tingkat tiga kampus IPDN Sulawesi Utara atau Sulut, meninggal dunia usai mengikuti Ospek pada Jumat 25 Januari 2013. Ketika dirujuk ke rumah sakit, mulut korban mengeluarkan darah. Korban akhirnya meninggal di rumahnya di Tikala Baru, Manado,

Dari ketiga kasus diatas dapat mewakili bahwa masih ada sistem yang salah di Indonesia mengenai orientasi kampus yang dilaksanakan hingga saat ini. Diperlukan evaluasi secara mendalam oleh pihak-pihak terkait mengenai sistem terbaik yang dapat diterapkan di Indonesia. Penghapusan ospek yang selama ini dicanangkan atau mungkin sudah diimplementasikan dibeberapa tempat masih perlu ditinjau kembali, mengingat ospek dengan tata cara yang baik memiliki banyak manfaat bagi mahasiswa baru untuk memudahkan dalam beradaptasi di lingkungan baru. Diharapkan dengan adanya kebijakan-kebijakan dari pemerintah, orientasi pengenalan kampus dapat berjalan lebih baik dan tidak ada lagi kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x