Mohon tunggu...
Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe Mohon Tunggu... Dosen - www.dhave.id

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Kerbau Rawa, Mamalia yang Menjadi Amfibi

5 Mei 2017   12:14 Diperbarui: 5 Mei 2017   13:25 2836
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kerbau rawa yang sedang dilepaskan gembalanya (dok.pri).

Saya teringat anekdot cerita lama tentang pesan dokter kepada pasiennya yang memiliki kolesterol tinggi. "bapak hanya boleh makan daging yang hewannya dari air, semua hewan di darat tidak boleh dimakan" kata dokter. Setelah sekian lama, pasien ini periksa kepada dokter dan hasilnya, kolesterol tetap tinggi. Lantas dokter bertanya "bapak makan daging apa..?", "kerbau rawa dok" jawab pasien. Kerbau rawa, sebuah evolusi singkat binatang terestrial menjadi binatang afimbi.

Selama ini sosok kerbau adalah binatang piaraan yang biasa digunakan untuk membajak sawah. Di Toraja, kerbau atau disebut tedong adalah binatang piaraan yang sangat mahal, karena peruntukan untuk upacara adat. Di daerah Kudus-Jawa Tengah, kerbau biasa dikonsumsi sebagai daging. Orang-orang di sana tidak makan daging sapi, karena mereka dahulu adalah pemeluk hindu yang kemudian beralih islam, tetapi masih memegang kebudayaan leluhurnya.

Kerbau rawa adalah salah satu kerbau yang unik. Kerbau ini sebagian besar waktunya dihabiskan di rawa dengan berenang untuk mencari makan. Secara umum, kerbau memiliki nama ilmiah Bubalus bubalis. Secara spesifik kerbai dibagi menjadi 3 yakni Kerbau liar (B. bubalis arnee), Kerbau sungai (B. bubalis bubalis) dan Kerbau rawa (B. bubalis carabauesis).

Kerbau rawa ada di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya di Danau Panggang-Kalimantan Selatan. Kerbau yang awalnya adalah hewan liar yang didomestifikasi menjadi binatang piaraan secera evolusi akan berubah prilakunya. Perubahan habitat dari terestrial menjadi semua aquatik membuat kerbau kembali berevolusi yakni kemampuan berenang jarak jauh. Kerbau rawa adalah salah satunya yang sudah mengalami evolusi karena perbedaan habitat dari daratan menjadi perairan.

Kerbau rawa yang berenang di danau Panggang (dok.pri).
Kerbau rawa yang berenang di danau Panggang (dok.pri).
Pukul 02.30 ponsel saya berbunyi, ternyata panggilan dari rekan saya untuk bersiap-siap. Segera saya membangunkan fotografer senior dari Kompas, Om Arbain saya memanggilnya untuk segera bersiap. Saya masih bergulat dengan perlengkapan kamera, namun dia tinggal memakai sepatu saja sebab 2 kamera sudah melekat di pinggangnya. Pukul 03.00 kami berangkat menuju Amuntai.

Suasana pagi di Dermaga Danau Panggang (dok.pri).
Suasana pagi di Dermaga Danau Panggang (dok.pri).
Dari Tanjung di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan kami menuju Dermaga Danau Panggang di Amuntai, Kabupaten Hulu Sunga Utara. Perjalanan normal dapat ditempuh 2 jam perjalanan dengan kendaraan roda 4. Sedikit aneh, mengapa pukul 03.00 sudah berangkat, kerena kita tidak ingin melewatkan momen berharga yakni matahari terbit di tengah rawa sekaligus ingin melihat kerbau-kerbau rawa ini masih di kandangnya dan saat dilepaskan di rawa.

Pukul 05.00 kami sampai di Dermaga Danau Panggang. Sembari menunggu speed boat kami melihat keramaian pagi di Dermaga ini saat para pekerja sedang menurunkan muatan berupa tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku tikar dan kerajinan. Di dermaga ini adalah salah satu pusat bisnis dan mobilitas warga yang tinggal di daratan dan di rawa-rawa (rumah apung).

Dermaga Danau Panggang (dok.pri).
Dermaga Danau Panggang (dok.pri).
Matahari sepertinya masih enggan menampakan diri. Dari kejauhan mampak sebuah speed boat mungin sudah membelah sungai kecil dan menyisakan garis gelombang yang mengguncang hebat jukung kecil dan mengombang-ambingkan jamban apung. Speed boat kerkapasiatas 6 orang segera kami naiki, karena jangan sampai didahului penggembala kerbau.

Dengan kecepatan hampir 50 km/jam speed boat melibas danau yang terbelah oleh aliran air. Sisi kanan jalan speed boat nampak rumah-rumah apung milik penduduk yang memilih tinggal di atas air. Hamparan eceng gondok (Eichornia crassipes) memenuhi permukaan danau mirip dengan padang rumput terapung. Dari kejauhan nampak samar-samar gerombolan kerbau yang berjejalan di atas kandang.

Speed boat merapat di sebuah kandang. Tak berselang lama, nampak Pak Jawat bersama anaknya datang bersama anaknya dengan mengendarai jukung. Dengan sigap Gembala ini masuk dan berjalan di sela-sela kerbau yang berdesakan. Suara lenguhan kerbau terdengar bersahut-sahutan, entah mereka lapar atau sudah tidak sabar ingin berenang.

Pintu palang kayu dibuka. Kerbau barisan depan langsung turun menuju jalan kecil lalu "byuurr" menyeburkan diri dalam danau dan diikuti kerbau-kerbau yang lain. Kepala kerbau dan tanduknya nampak nongol di permukaan, sedang badannya terendam dalam air. Mereka membentuk satu barisan, sepertinya yang paling depan adalah pimpinan dari kerbau. Mereka perlahan berenang menuju sisi timur, yang konon katanya sejauh 4 km untuk mencari rumput rawa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun