Mohon tunggu...
Dhani Irwanto
Dhani Irwanto Mohon Tunggu... Insinyur - Penulis Buku

Dhani Irwanto adalah seorang insinyur teknik sipil hidro dan lebih dikenal sebagai perencana dan ahli dalam hidrologi, bangunan air, bendungan dan tenaga air, profesi yang melibatkan antar-disiplin yang telah dijalani selama lebih dari tiga dekade. Terlepas dari kehidupan profesionalnya, ia juga seorang peneliti sejarah bangsa-bangsa dan peradaban, didorong oleh lingkungan, kehidupan sosial, budaya dan tradisi di wilayah tempat ia dibesarkan. Kehadirannya yang kuat di internet telah membuatnya terkenal karena gagasannya tentang pra-sejarah dan peradaban kuno. Dhani Irwanto adalah penulis buku "Atlantis: The Lost City is in Java Sea" (2015), "Atlantis: Kota yang Hilang Ada di Laut Jawa" (2016), "Sundaland: Tracing the Cradle of Civilizations" (2019), "Land of Punt: In Search of the Divine Land of the Egyptians" (2019) dan "Taprobana: Classical Knowledge of an Island in the Opposite-Earth (2019)". Dhani Irwanto lahir di Yogyakarta, Indonesia pada tahun 1962. Saat ini ia adalah pemilik dan direktur sebuah perusahaan konsultan yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Nusasura: Pulau Atlantis?

6 November 2019   07:38 Diperbarui: 9 November 2019   09:17 8474
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
atlantisjavasea.files.wordpress.com

Asura digambarkan sebagai manusia super yang kuat dengan kelakuan baik atau jahat. Asura yang baik disebut Aditya dan dipimpin oleh Baruna, sedangkan yang jahat disebut Danawa dan dipimpin oleh Writra.

Dalam teks-teks Weda dan pasca-Weda, para Dewa adalah yang berkelakuan baik, sedangkan para Asura adalah jahat, bersaing melawan para Dewa dan dianggap sebagai "musuh para dewa". Dalam hipotesis Atlantis di atas, saya membuat analogi dewa Baruna dengan Poseidon, pendiri Atlantis. 

Istilah Asura secara linguistik berkaitan dengan Ahura dalam masyarakat Indo-Iran dan era pra-Zoroastrianisme. Dalam kedua agama tersebut, terdapat Ahura, Vouruna dan Daeva dalam pra-Zoroastrianisme (Asura, Baruna dan Dewa dalam Dharmisme).

Akan tetapi peran mereka berada di sisi yang berlawanan. Yaitu, Ahura berevolusi untuk mewakili kebaikan dalam pra-Zoroastrianisme, sementara Asura berevolusi untuk mewakili yang buruk dalam Weda.

Sedangkan Daeva berevolusi untuk mewakili yang buruk dalam pra-Zoroastrianisme, sementara Dewa berevolusi untuk mewakili kebaikan dalam Weda.

Peran yang berlawanan ini telah menyebabkan beberapa ahli menyimpulkan bahwa mungkin pernah terjadi peperangan di masyarakat proto-Indo-Eropa, dan dewa-dewa mereka berevolusi untuk mencerminkan perbedaannya.

Sementara dalam konteks Atlantis, telah terjadi perang antara Atlantis dan "Athena" (nama yang dipinjam). Asura/Ahura dapat dianalogikan dengan orang-orang Atlantis sedangkan Dewa/Daevas sebagai orang-orang "Athena".

Perhatikan juga kemiripan linguistik antara Asura dan Osiris dalam catatan kuno Mesir di atas. Osiris atau Atlas memiliki takhta mereka di tanah sentral. Dan perhatikan pula bahwa Osiris pada mulanya adalah dewa air dan tumbuh-tumbuhan.

Oleh karena itu kita dapat berspekulasi bahwa Asura, Osiris dan Atlas adalah orang yang sama. Nama Atlantis berasal dari Atlas, Neserser dari Osiris dan karenanya Nusasura dari Asura.

Secara fonetik, Asura mirip dengan Ashur, dewa utama dalam jajaran dewa-dewa Asiria, dewa kecakapan militer dan kekaisaran, dan nama asal Kekaisaran Asiria.

Beberapa ahli telah mengklaim bahwa Ashur dilambangkan sebagai matahari bersayap yang sering muncul dalam ikonografi Asiria. Satu variasi terdiri dari cakram bersayap dan bertanduk, melingkari empat lingkaran yang memutari lingkaran tengah. Ahura dalam Zoroaster juga memiliki lambang yang serupa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun