Mohon tunggu...
Nahariyha Dewiwiddie
Nahariyha Dewiwiddie Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Penulis dan Pembelajar

🌺 See also: https://medium.com/@dewiwiddie. ✉ ➡ dewinaharia22@gmail.com 🌺

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Dengan Menulis, Kita Bisa "Meniru" Layaknya Ilmuwan, Kok!

8 Desember 2017   21:15 Diperbarui: 10 Desember 2017   02:55 3495
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: Psyciencia

Ya, pasti ada. Tepatnya, saat kami hendak praktik tentang Koloid. Guru kimia, yang tak lain adalah wali kelas kami, memang menugaskan kami untuk membawa berbagai zat-zat dari rumah. Ada susu, santan, dan masih ada lagi zat-zat yang lainnya!

Setelah zat-zat tersebut kami bawa ke sekolah, mulailah kami berpraktik. Yang paling saya ingat, ketika kami dibawa ke sebuah ruangan sempit nan gelap di sebelah laboratorium kimia itu, lalu disorotlah cahaya senter pada gelas berisi zat itu. Walaupun tak semuanya sesuai kenyataan, mengakui hasilnya secara jujur 'kan lebih baik. Daripada ngaku benar tapi ternyata manipulasi, iyaa nggak?

***

Terus, kalau begitu, adakah hubungannya dengan proses menulis?

Ya, tentu saja ada! Memang, terkadang saya menulis artikel tak cukup bermodalkan riset dan membaca beragam referensi semata, namun harus ada "eksperimen" juga. Lho kok bisa begitu?

Karena, kegiatan "eksperimen" ide menulis, salah satunya biar bisa menguatkan isi tulisan. Jadi, tulisan kita ini nggak melulu berisi teori ilmiah yang njlimet banget, justru itu,harus dibumbui dengan sisi pengalamannya juga, biar pembaca bisa merasakan apa yang dialami penulisnya secara langsung. Dengan kata lain, kegiatan bereksperimen itu bisa menciptakan pengalaman baru bagi si pelakunya, bukan?

Coba kalian bayangkan, ada dua artikel yang disajikan di hadapan kalian. Yang pertama, artikel yang cuma berisi materi berilmiah, yang kedua, ada pengalaman pribadinya. Lalu, manakah yang kalian pilih? Tentu yang kedua 'kan?

"Soalnya, tulisan ilmiah kaku banget, kecuali kalau dipopulerkan lewat bahasa khasnya. Enakan baca yang pengalaman pribadi, 'kan lebih praktis!"

Nah, kalau kalian mau bukti, artikel tentang Membeli Kebahagiaan Lewat Tulisan adalah salah satu contohnya. Setelah membaca tulisan dari Prof Komar dan menemukan idenya,  tentu saya merasa tidak cukup dengan gagasan itu, dan kayaknya, saya perlu ada pembuktian, nih!

Karena itulah, untuk meyakinkan diri apa yang dikatakan oleh para referens(i), saya beli buku, lalu membacanya dengan penuh konsentrasi (tentu dengan catatan harus jauhi gawai dulu). Setelah itu, apa yang terjadi?

Dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, rasanya ada yang berbeda deh dalam pikiranku. Saya bisa mendapatkan informasi dan pengalaman baru, bahkan jika diulang-ulang dalam berbagai kesempatan, saya merasa senang dan bahagia. Berarti, percobaanku akhirnya berhasil!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun