Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Test Pack", Ketika Pernikahan Mengalami Ujian tentang Alpanya Momongan

11 Oktober 2021   23:37 Diperbarui: 11 Oktober 2021   23:55 243
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Shinta jadi karakter yang lemah (sumbergambar:tribunnewswiki)

Keberadaan buah hati bagi sebagian besar pasangan menikah seolah-olah menjadi sebuah keharusan. Hal ini juga dikarenakan lingkungan sekitar yang 'menuntut' dengan dalih pelengkap kebahagiaan atau penerus keluarga. Namun bagaimana bila ternyata salah satu pasangan ternyata tak mampu menjalankan peranannya, apa yang harus dilakukan pasangan lainnya? Kisah tentang pasangan yang berupaya keras untuk memiliki buah hati ini diceritakan dalam film Indonesia berjudul "Test Pack".

Film ini menurut saya memiliki tema yang serius. Ia tidak hanya memberikan konflik pernikahan dalam film-film yang umumnya tak jauh-jauh dari orang ketiga. Film ini memberikan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang paling 'menakutkan' dalam sebuah pernikahan, terutama di Indonesia. Bagaimana bila pasangan suami istri telah lama menikah dan belum memiliki keturunan.

Dalam film ini pasangan bernama Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa) merasakan tekanan dari orang sekitar, terutama orang tua, tentang momongan. Rahmat dan Tata sudah menikah selama tujuh tahun. Ibu Rahmat suka menanyakan kepada Tata perihal momongan. Rahmat meminta kepada ibunya untuk tak mendesak Tata karena kuatir membuat istrinya stress.

Dan memang Tata sudah merasa tertekan. Ia sedari awal menikah memang memiliki harapan bahwa pernikahannya akan lengkap dan bahagia bila mereka memiliki anak. Ia pun menyediakan makanan sehat buat ia dan suaminya. Ia juga mengoleksi berbagai test pack. Tapi sayangnya belum ada tanda-tanda ia berbadan dua. Ia pun lalu mengajak suaminya ke klinik untuk suntik hormon kesuburan.

Di tempat lain ada model terkenal, Shinta (Renata Kusmanto) yang dicerai oleh suaminya, Heru (Dwi Sasono). Ia tak bisa memberikan keturunan kepada Heru, sehingga ibu mertuanya meminta putranya menceraikannya dengan alasan perusahaan mereka memerlukan penerus.

Shinta nampak begitu sedih dan terluka menerima putusan pengadilan tersebut. Baginya sungguh sebuah pukulan mendapatkan status sebagai perempuan yang tak bisa memberikan anak. Ia lalu mencari tempat curhat. Sayangnya ia memilih tempat curhat yang salah, yaitu Rahmat, yang merupakan mantan kekasihnya.

Tata kesal karena tak kunjung ada dua garis dalam test pack-nya (sumber gambar: .lendyagasshi.com)
Tata kesal karena tak kunjung ada dua garis dalam test pack-nya (sumber gambar: .lendyagasshi.com)

Film yang diangkat dari novel karya Ninit Yunita berjudul "Test Pack" ini menurutku pas menggambarkan konflik yang dialami oleh pasangan menikah. Soal momongan adalah sesuatu yang dianggap krusial bagi sebagian besar orang tua di Indonesia. Desakan dan tuntutan memiliki anak ini umumnya dari orang sekeliling, tetangga, rekan kerja, orang tua, dan keluarga besar. 

Entah disadari atau tidak oleh mereka, bahwa desakan tersebut menyakitkan dan memberikan tekanan bagi pasangan yang belum dikaruniai momongan. Tak sedikit pernikahan yang goyah karena pihak keluarga menginginkan kehadiran penerus sesegera mungkin.

Film ini berupaya menampilkan secara berimbang, apa yang dirasakan oleh seseorang yang 'divonis' steril alias tidak bisa memberikan keturunan, baik dari pihak pria maupun wanita. Tak hanya pihak perempuan saja yang berduka atas kondisi tersebut, namun juga pihak pria yang mengalaminya. Film ini juga memberikan kemungkinan seperti apa reaksi pasangan yang suami/istrinya ternyata tidak subur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun