Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Ketulusan dalam Bermaaf-maafan

22 Mei 2020   13:20 Diperbarui: 22 Mei 2020   13:27 428
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Nanti aja bermaaf-maafannya, nunggu pas waktu lebaran", ujar kawanku dingin ketika aku meminta maaf kepadanya. Kami pernah miskomunikasi pada waktu bekerja. Kami berdua sama-sama kesal dan aku makin kesal ketika ia menolak permintaan maafku dan memintaku menunggu pas lebaran.

Aku sendiri bukan tipe yang harus menunggu momen lebaran untuk meminta maaf dan memberi maaf. Tidak enak marah-marah itu. Dan lebih tidak enak jika marah itu dibawa-bawa terus. Serius jadinya beban.

Sebagian kawanku untungnya juga bukan yang harus menunggu momen lebaran. Aneh jika bermaafan harus menunggu sebuah momen. Rasanya jadi terasa seperti sebuah formalitas belaka.

Memang ada jenis kesalahan tertentu yang sulit dimaafkan. Misalnya seseorang yang telah melukai perasaan, berbuat bohong, dan menyebarkan fitnah tentang kita.

Sekali dua kali ia berbuat seperti itu bisa dimaafkan. Tapi setelah ia melakukannya berulang kali rasanya berat untuk dimaafkan. Orang-orang seperti itu mungkin tidak sadar perbuatannya salah atau mungkin ia sebetulnya tahu dan merasa tenang-tenang saja karena menganggap akan dimaafkan.

Aku sendiri merasa memaafkan orang-orang yang toksik dan berbuat kesalahan besar ke kita itu rasanya berat. Ada rasa was-was ia akan mengulanginya lagi dan lagi.

Kadang-kadang ia menggunakan momen lebaran untuk waktu yang pas meminta maaf. Seolah-olah lewat pesan permohonan maafnya,  ia berkata ayolah lebaranmu tidak akan genap jika belum memberikan maaf. Ibadahmu selama sebulan tak akan bermakna.

Ya aku akan memberi maaf. Tapi Kamu sudah tak lagi kuanggap sebagai kawan, kataku dalam hati. Kamu sudah seperti orang luar bagiku dan aku akan terus menjauhimu, tidak akan lagi menjadikanmu sebagai sahabat.

Bersikap Tulus Saat Bermaafan
Ketika masih kecil aku menyukai proses halal bihalal dan juga proses bermaaf-maafan. Kami berkeliling dan berkata "mohon maaf lahir batin" kepada semua yang datang. Acara kemudian dipungkasi dengan mengobrol dan makan-makan enak. Sungguh menyenangkan.

Tapi setelah tumbuh dewasa aku baru paham, rupanya bersikap tulus dan ikhlas itu benar-benar tidak mudah. Meminta maaf dan memberi maaf yang tulus itu tidak selalu mudah. Di luar bisa saja kita berkata saya mohon maaf atau saya sudah memaafkan, tapi di dalam hati kita siapa yang menduga kita sudah memaafkan dan memberi maaf dengan tulus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun